Karma Rumah Tanpa Berkah 1

Hai kembali lagi dengan aku Lumie. Kali ini aku menuliskan cerita horror part ke sekian kalinya. Bagi kalian yang tidak suka atau penakut, bisa skip dan cari ceritaku yang lain. Bagi yang suka enjoy my story

…..

Suatu hari, aku sengaja mengunjungi rumah masa kecilku di kampung yang jauh dari perkotaan. Tidak banyak yang berubah, semuanya masih tampak sama. Aku melewati rumah demi rumah hingga sampai di tempat yang kutuju. Saat aku sampai, aku melihat satu rumah yang memang kini sudah kosong tidak ditempati. Letaknya di seberang dua dari kanan. Entah kemana pemiliknya sehingga membiarkan rumah itu terbengkalai seiring bertambahnya usia. Bahkan rumput yang seharusnya dipotong hampir menutupi rumah itu seolah-olah memakannya. Menurut warga di sini, sudah berulang kali ada penyewa yang mengontrak di rumah itu. Namun, tak lama kemudian mereka memutuskan pindah dan mencari kontrakan lain.

Saat itu aku masih kecil, tidak tahu-menahu apa yang terjadi. Dahulu, sebelum aku lahir, rumah kosong itu menjadi simbol kekayaan pada masanya. Sambil diam memperhatikan rumah itu, tanpa sadar aku mendengar Pak Adi, ketua RT, memanggil namaku, “Vera…” sontak aku menoleh dan mendapati Pak Adi yang berjalan ke arahku. Singkat cerita aku basa basi dengan Pak Adi sedikit lama, dia mengatakan jika pewaris rumah kosong itu kini tinggal di jogja. Selang bertemu dengan Pak Adi aku memutuskan mengakhiri percakapan dan masuk ke dalam rumahku. Sedikit berdebu dan tidak terawat, wajar karena sudah lama tidak aku kunjungi.

Aku menjalani hari-hari dengan perasaan biasa saja. Bagiku, selama kita berperilaku baik, maka semua akan baik-baik saja. Orang tuaku selalu mengajarkan aku tata krama dan adab tentang bagaimana harus bersikap di semua tempat. Hingga tiga minggu berlalu, aku melihat beberapa tukang bangunan mendatangi rumah itu. Mereka membawa alat bangunan dan peralatan kontraktor. Aku iseng menghampiri untuk sekadar bertanya.Ternyata mereka ditugaskan untuk merenovasi total rumah itu karena pemilik sesungguhnya akan segera menempati rumahnya. Kondisi rumah itu dari dalam sangat rusak dan kotor, tidak terawat berbeda jauh dengan rumahku. Karena merasa penasaranku berlebihan, aku memutuskan mengakhiri percakapan hari ini.

Beberapa hari kemudian. aku sedikit kebingungan karena rumah itu dihancurkan, ternyata maksud dari renovasi total adalah merubuhkan bangunan hingga tersisa tanahnya saja. Aku teringat perkataan salah satu tukang bahwa pembangunan rumah itu memiliki konsep etnik sesuai dengan kemauan sang pemilik. Mengingat pemilik rumah itu juga seorang arsitek, pembangunannya sangat detail dan terlihat unik. Setelah pembangunan selesai tampak rumah yang awalnya kotor dan kumuh sekarang disulap menjadi rumah joglo jawa dengan pahatan kayu yang estetis dan mewah. Di depan rumah itu terdapat gazebo kecil menyerupai pendopo. Lebih mewah lagi, pagar rumah itu bernuansa Bali sehingga memberikan kesan berkelas. Saat mengintip sedikit ke dalam rumah, terdapat banyak tanaman salah satunya pohon bunga kamboja. Pantas saja tercium bau yang sangat wangi, ternyata berasal dari bunga kamboja. Aku menghentikan kegiatan lancang itu dan kembali masuk ke dalam rumahku, tidak menyadari bahwa ponselku berdering delapan kali. Kakak laki-lakiku mengatakan bahwa dia akan menyusulku ke sini sambil mencari ide baru untuk konsep ceritanya.

Aku kemudian membersihkan rumah dan menyiapkan kamar untuk kakakku. Sekitar tiga jam kemudian, kakakku datang dengan beberapa jajanan pasar. Reaksi kakakku saat pertama kali melihat rumah itu pun sama dengan reaksiku. Setelah aku menjelaskan secara singkat, kakakku tertarik untuk membantu pembangunan meski sudah hampir selesai. Awalnya aku kurang setuju karena setiap kali melihat rumah itu, perasaanku tidak enak. Karena kakakku tipe orang yang penasaran, aku meminta bantuan Pak Adi untuk membiarkan kakakku bekerja di sana. Akhirnya, kakakku diperbolehkan bekerja selama tujuh belas hari bersama para tukang. Hingga pada hari keenam, kakakku kedapatan bekerja shift sore. Saat sore menjelang maghrib, kakakku merasa aneh dan bulu kuduknya merinding. Kepalanya terasa membengkak dan membesar tidak seperti biasanya, Udara terasa menusuk dan dingin mencekam. Kakakku mencoba bersikap biasa dan berpikir positif.

Tiba-tiba, angin meraba kulit kakakku seolah disentuh seseorang. Sontak, kakakku kaget dan melihat ke segala arah, tidak ada siapa pun di sana. Hingga akhirnya, kakakku melihat pantulan dirinya di cermin hadapannya. Di sana, ada sosok wanita berbaju putih dengan rambut panjang tebal berantakan dan noda darah di perut, sedang bersembunyi mengintip di balik pohon bunga kamboja. Kakakku terkejut dan tidak bisa berteriak, suaranya seolah tenggelam dalam kehampaan. Kakakku terpaku dan tidak bisa bergerak. Dia melihat sosok wanita itu perlahan mendekatinya. Meskipun perlahan, kakakku merasakan sosok itu berjalan cepat ke arahnya. Sebelum kakakku sempat meminta tolong, sosok itu menghilang. Kakakku mencari sosok itu ke arah samping kanan dan kiri. Tanpa disadari kakakku, sosok itu ada di dalam cermin di depannya.

Dari situ kakakku pingsan. Mengetahui kakakku pingsan, aku langsung bergegas kembali dari pasar malam dan melihat kakakku sudah dikerumuni banyak orang. Untungnya, ada seorang perawat desa yang membantu kakakku. Tidak lama kakakku sadar dan mulai berteriak menjerit ketakutan. Semua orang bertanya ada apa. Kakakku mengigau tidak karuan, memanggil satu nama Utari… Utari… Utari. Siapakah Utari ini, mengapa kakakku tampak trauma padanya? Karena perawat merasa janggal dan mengira ini bukan penyakit manusia, ia menyarankan untuk memanggil tetua di kampung ini. Karena tidak ada pilihan lain, kami memanggil orang tua yang disarankan itu. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, orang yang dihormati itu pun tiba.

Sambil menatap wajah kakakku tanpa berkata apa pun, dia mengambil tanaman yang dikenal sebagai daun kelor dan satu genggaman tanah. Daun itu dicampur dengan tanah dan diusapkan pada kaki, tangan, wajah, dan rambut kakakku. Selama proses itu, aku melihat bibir tetua komat-kamit entah apa yang dibacanya. Seketika, kakakku sedikit tenang, namun tampak seperti orang linglung. Karena kakakku dirasa sudah tenang. Kakakku menceritakan semuanya sedikit demi sedikit. Ternyata kakakku melihat sosok penghuni rumah itu.

Tetua yang menyembuhkan kakakku berkata bahwa rumah yang baru saja dibangun ini tidak diberkahi. Siapa pun yang menempati rumah itu akan menghadapi karma dan kesialan. Bahkan bisa saja berujung kematian. Semua usaha dan bisnis berpotensi gagal dan bangkrut. Usut punya usut, karena tetua adalah orang paling tua di sana, ia menambahkan bahwa rumah itu dahulu memiliki banyak kaitan dengan jin. Dan beberapa syarat belum terpenuhi. Pohon bunga kamboja itu bukan sekadar hiasan belaka, melainkan tanaman asli dari pekarangan makam yang lokasinya tepat berada di bawah rumah itu…..

bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *