Bangunan usang pabrik tua yang terletak di sebuah desa terpencil. Bertumpu pada deru roda gigi dan kepulan asap yang tebal. Tinggallah seorang gadis berusia 7 tahun yang imut dan cantik bernama Vumiere. Bagi sang ayah, Vumiere merupakan harta yang tak tergantikan. Berjuang hidup untuk membesarkan gadis kecilnya dengan wajah yang tua dan penuh corengan oli. Sejak kecil, Vumiere tidak akrab dengan mainan perempuan seusianya. Boneka atau barbie tidak menarik perhatiannya. Melainkan dengan miniatur tentara, mobil-mobilan, obeng, dan sisa-sisa logam kuningan.
Ia juga tidak tertarik dengan pakaian cantik dan imut pada umumnya. Adakalanya sang ayah membisikkan pesan lembut di telinganya, “Tumbuhlah dewasa dan menjadi kuat,”. Kerap kali sang ayah mengatakannya, sambil menyeka keringat di dahi putri kecilnya itu. Vumiere sering menemani sang ayah untuk memperbaiki barang ataupun menghidupkan kembali generator desa yang mati. Hingga penduduk setempat sudah tidak asing dengan kehadirannya. “Tubuhmu mungkin kecil, tapi ayah tahu kelak kau akan memahami dunia ini begitu persisi, seperti roda bumi yang tak pernah salah berputar.”
8 tahun berlalu, Vumiere tumbuh dengan kalimat-kalimat yang tertanam kuat di dadanya. Sampai pada saat desa mereka tidak bertahan selamanya. Ketika wilayah perbatasan mulai roboh oleh serangan penyusup asing dari luar. Merampas hak yang bukan milik mereka. Ketakutan mulai merayap, sang ayah yang kini fisiknya kian melemah dan tahun memakan usianya perlahan membuat langkahnya goyah. Sang ayah tidak sekuat dulu, tangannya sering gemetar, keringatnya bercucur deras.
Melihat punggung sang ayah dari belakang, sebuah tekad bulat tumbuh di benak Vumiere. “Jika ayah selalu melindungiku dengan punggung dan keringat itu, sekarang giliranku menjadi perisainya.” Ujarnya dalam hati. Vumiere tidak memilih jalan menjadi gadis kembang desa yang lembut. Ia secara mandiri mendaftarkan diri ke akademi militer negara. Meski ia tahu bahwa ayahnya tidak akan pernah mengizinkannya. Awalnya, banyak mata yang meragukan niatnya. Tubuhnya ramping, dari keluarga miskin, juga seorang perempuan. Namun, mereka lupa bahwa Vumiere adalah putri mesin kecil sang ayah. Dilahirkan untuk menjadi tameng keluarga, dan menjadi prajurit di medan tempur.
Ia tidak hanya bertarung dengan otot, tetapi juga otak. Karena ia tahu, dibanding dengan pria, ia kalah jauh jika melawan otot. Di tangannya, taktik pertempuran digubah layaknya rancangan mesin yang rumit namun mematikan. Dia mulai membuat baju zirahnya sendiri dengan mengandalkan ilmu pengetahuan selama membantu ayahnya. Merancang baju zirah yang tidak akan ada manusia yang tahu. Menyisipkan roda gigi rahasia, pisau yang tak terlihat, serta merancang senjata mekanis dengan akurasi yang tinggi.
Tahun berlalu dengan cepat, Vumiere kini menjelma menjadi prajurit garis depan yang disegani. Berani, taktis, dan tak tergoyahkan. Tidak ada yang tahu bagaimana perjuangan dan pengorbanannya bisa sampai di titik itu. Sampai dimana lonceng desa berbunyi, menandakan pasukan pemberontak bergerak cepat, mengincar pemukiman, termasuk tanah kelahirannya. Tanpa rasa ragu, Vumiere memimpin regu melakukan strategi cepat sebelum fajar menyapa. Ketika dia tiba, gerbang bengkel sang ayah sudah terkepung. Beberapa penyusup mencoba mendobrak pintu sang ayah berlindung.
“Kau sentuh orang tuaku, maka kau berhadapan dengan aku Sang Maut,” suara Vumiere menggelegar, membelah sunyinya malam. Dengan baju zirah besinya, ia menerjang maju. Gerakannya seperti kilat, membuat musuh sulit untuk melawan balik. Bermodalkan momentum dan persisi yang ia pelajari sejak kecil di bengkel. Setiap tebasan pedang dan tembakan busurnya menjatuhkan lawan dengan perhitungan matang. Di tengah kepulan asap dan debu, dia berdiri kokoh seperti benteng baja. Tak membiarkan satu pun musuh melintasi garis batas menuju rumahnya.
Pada akhirnya, Vumiere membawa kemenangan. Keberanian Sang Putri Mesin Ayah berhasil memukul mundur ancaman. Desa itu selamat. Saat keadaan mulai tenang, pintu bengkel tua itu terbuka perlahan. Sang ayah melangkah keluar dengan mata berkaca-kaca, memandang sosok yang menurutnya prajurit kecil namun tangguh berzirah lengkap kini berdiri di depannya. Wajah prajurit itu tampak coreng dan kotor, sama seperti saat ia bermain di tanah waktu kecil. Vumiere membuka helm besinya, menatap sang ayah dengan senyum hangat, lalu memberikan hormat militer tegas pada pria tua itu.
“Aku pulang, ayah,” bisik Vumiere di pundak ayahnya. Meski ia telah tumbuh menjadi prajurit hebat, ia tetaplah putri kecil ayah.
“Putri mesin kecilmu sudah dewasa, dan tidak akan ada satu pun bahaya yang bisa menyentuh ayah dan ibu selama aku masih hidup.” Sang ayah memeluknya dengan erat, air matanya menetes di atas zirah berat Vumiere yang dingin. Di bawah langit subuh yang mulai terang, dia tahu bahwa putri kecilnya kini telah menjadi mesin pelindung paling tangguh yang pernah ada.






