Awalnya aku merupakan orang skeptis akan hal gaib. Di pikiranku tidak ada hantu di dunia ini. Bukan karena aku takabur dan sombong, melainkan karena aku belum pernah mengalami hal mistis itu. Hingga saat malam itu aku mencoba bertarung dengan isi kepalaku. Baiklah, kita kembali ke dua hari yang lalu. Seperti biasa, desaku diselimuti kabut yang tebal pada waktu malam. Kabut dan gelapnya malam menjadi kombinasi yang menyeramkan. Bahkan cahaya lentera dan kendaraan tidak dapat terlihat. Suara hewan malam sama sekali tidak terdengar, hanya menyisakan keheningan dingin yang menusuk hati. Namaku Adam, seorang pria berusia tiga puluh empat tahun. Dikenal sebagai pria muda pemberani yang baru saja pulang dari acara tahlilan di ujung desa.
Selain itu, aku menjabat sebagai pengurus RT di sini. Aku pulang dengan berbekal sepeda usangku. Mengayuh pelan, menghasilkan bunyi derit dan menyusuri jalan setapak di pinggir hutan pinus yang dikenal angker. Tidak ada siapa pun selain aku seorang. Karena dasarnya aku yang tidak percaya takhayul dan mistis, aku tidak takut sama sekali. Di tengah-tengah perjalanan, sepeda yang ku kayuh melewati pohon beringin tua yang akarnya menjuntai hingga ke tanah, aku tiba-tiba menghentikan kayuhanku. Entah karena penasaran atau hatiku yang menyuruhku berhenti. Aku merasa bulu kudukku berdiri tegak.
Di kejauhan sekitar seratus meter, samar-samar aku mendengar suara asing, tak…srek…. tak…. srek…. . Suara aneh itu seperti sesuatu yang meloncat tetapi terdengar miring. Perasaanku mengatakan jika suara itu bukan suara langkah manusia biasa. Terdengar tidak berirama sama sekali, seolah ada beban berat yang diseret atau dihentakkan dengan cara yang tidak wajar. Aku menoleh ke belakang, mataku menyipit menembus pekatnya kabut malam. Antara sadar dan mimpi, di bawah remang cahaya bulan yang tertutup awan, aku melihat sesosok tubuh putih dibalut kain kafan yang sudah kusam dan bernoda merah. Apakah itu darah ? sosok itu berdiri kaku, namun posisinya terlihat miring hampir jatuh. Salah satu ujung kain kafannya di bagian bawah terikat menyeret, sementara kaki kirinya tampak tertekuk dengan sudut yang mustahil, bisa kalian bayangkan? Sosok itu datang kian mendekat sambil meloncat pelan. Setiap kali sosok itu melompat, dia tidak mendarat dengan dua kaki yang sejajar. Kaki kanannya menghujam tanah dengan hentakan keras, sementara kaki sebelah diseret dengan bunyi gesekan kain yang menjengkelkan tak…. srek…. tak…. srek…. .
Pocong itu pincang ? Astaga ada pocong pincang! Sungguh di luar nalar akal sehatku. Yang ku tahu pocong adalah cerita rakyat yang jalannya meloncat-loncat. Aku pun membeku, seolah tak percaya dengan apa yang aku lihat di depan. Napasku tercekat di tenggorokan. Pocong itu mulai makin mendekat, melompat dengan ritme yang makin cepat dari sebelumnya. Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya, karena tertutup kain kafan yang hampir sobek. Namun, sekilas aku melihat lubang matanya yang hitam legam menatap kosong, dan aroma amis darah yang menyengat mulai memenuhi hidungku, mengalahkan wangi melati yang biasanya identik dengan hantu sejenisnya. “Ya Allah,” bisikku dalam hati yang gemetar. Aku mencoba mengayuh sepedaku, tetapi rantai sepeda tiba-tiba saja terlepas. Aku pun jatuh tersungkur. Saat aku mencoba berdiri, tanpa sadar pocong itu berhenti tepat sepuluh meter di depanku. Kepalanya yang terikat miring perlahan menoleh ke arahku. Suara taring panjang yang bergesekan terdengar nyaring di tengah kesunyian malam.
Sosok yang tadinya berdiri kaku, kini mulai merayap dengan cara yang mengerikan, menyeret kaki kirinya yang tampak patah dan terpelintir ke belakang. Sontak aku pun merangkak mundur, punggungku menabrak batang pohong beringin yang aku ingat sudah ku lewati. Aku memejamkan mata, merapalkan dosa sekuat tenaga. Melawan ketakutan dengan sisa keberanianku. Detik itu, aku bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa menyentuh kakiku. Bau amis darah makin pekat, persis bau bangkai yang membusuk. Aku yakin, sosok itu tepat berada di depanku. Tiba-tiba, suara pincang itu hilang. Keheningan kembali melanda hatiku. Aku memberanikan diri membuka mata, dan aku tidak melihat apa pun selain kabut malam. Ku pikir aku hanya halusinasi, hingga saat aku mendongak, aku menjerit tertahan. Suaraku tidak keluar, tetapi tenggorokanku serasa lelah karena berteriak.
Pocong itu tidak lagi ada di depan, melainkan sudah berada tepat di atas kepalaku, tepatnya di atas dahan pohong beringin. Posisi badan terbalik, kepala di bawah, kaki di atas, wajahnya kini makin jelas. Hancur dan menyeramkan. Sosok itu tersenyum lebar hingga robek ke telinga, meneteskan cairan hitam di dahiku. Dengan kesadaranku yang masih tersisa sedikit, aku berdiri dan lari hingga meninggalkan sepedaku. Masa bodo dengan sepeda, aku hanya ingin pulang dengan selamat. Malam itu menyadarkanku, bahwa Tuhan menciptakan jin berdampingan dengan manusia.
Awalnya aku tidak percaya, tetapi kejadian malam itu membuka mataku akan hal gaib. Keesokan paginya, aku menceritakan kejadian semalam kepada kepala desa. Kepada desa hanya mendengarkan dengan saksama, seperti hal yang wajar. Ia tidak kaget, justru seperi seorang ayah yang mendengar anaknya bermimpi buruk. Bersamaan dengan itu, aku mendengar pengumuman toa kampung yang mengatakan jika ada salah satu anak warga setempat telah hilang. Warga hanya menemukan sepeda yang tergeletak dan bercak tanah berbentuk jejak kaki yang pincang, mengarah ke dalam hutan pinus yang tak pernah berujung.






