Pienoloppy
Berjalan di tengah keramaian dengan hati ceria itu rasanya hal yang sulit didapat. Tidak semua orang beruntung bisa mendapatkan ketenangan meski di tempat yang bising. Hari ini aku melonggarkan waktuku untuk mencari angin segar sekadar menyapa dunia. Melihat setiap manusia beraktifitas, membuat aku tersadar betapa sibuknya dunia. Hi namaku Aura, tapi aku punya panggilan lain. Semua orang mengenalku dengan sebutan Pie karena bentuk wajahku yang bulat. Saat aku berjalan santai aku melihat stand aksesoris yang lucu. Pandanganku tertuju pada satu gelang yang unik, seperti memberikan rasa keyakinan. Aku membelinya untuk sekedar bukti bahwa hari ini aku menang. Menang karena masih tetap bernapas dan melihat dunia dengan mataku sendiri.
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat. Langit yang awalnya cerah kini mulai mendung. Pertanda bahwa sebentar lagi hujan akan turun. Dan benar saja, hujan turun setiba aku memasuki sebuah cafe di pinggir jalan. Sambil menunggu hujan redah aku memesan minuman kesukaanku, coffe latte. Tidak ada hal yang indah selain menikmati waktu di kala hujan. Apalagi aroma tanah basah selalu punya cara misterius untuk memanggil kenangan yang hampir pudar. Adakalanya ketika aku lupa ingatan tentang masa lalu, aku merenung menatap genangan air yang menjadi satu. Bagiku, hujan bukan sekadar tetesan air yang turun ke bumi, melainkan sebuah mesin waktu yang bisa dirasakan.
Kemudian, lamunanku buyar saat aku mendengar suara jam dindin cafe. Waktu sore telah tiba, hujan pun sudah sedikit redah, minumanku juga sudah habis. Aku berjalan keluar dari cafe dan berniat pulang tanpa mampir kemana-mana lagi. Tapi, lagi-lagi pandanganku tercuri oleh sebuah toko buku di ujung seberang jalan. Toko itu terlihat sudah tua dan tutup ? Rasa penasaranku muncul, dan mencoba untuk menghampiri toko itu. Banyak sekali buku-buku usang dengan catatan-catatan kecil di samping rak. Entah apa isinya tapi setiap lembar memiliki warna yang berbeda. Apakah itu buku harian seseorang ? Aku tidak tahu.
“Boleh berbagi peneduh?” sebuah suara renyah memecah lamunanku. Aku menoleh. Seorang pria dengan jaket jins yang basah kuyup di bagian pundak tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya dengan tulus. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Candra. Dengan membawa sekotak kue kecil yang aromanya aku langsung tahu jika itu adalah kue coklat. Aku sangat suka coklat hingga semua hal yang berbau coklat aku pasti tahu. “Daripada melamun dan memperhatikan buku usang itu, mau coba ini? Eksperimen gagal, tapi rasanya tidak buruk,” ujar Candra canggung, menyodorkan kotak itu. Aku terkekeh dan mengambilnya. Di dalamnya ada beberapa potong brownies coklat. Kebetulan perutku juga mulai keroncongan. Menurutku Candra orang yang asik dan mudah bergaul. Sifat defensifku runtuh oleh keramahannya yang instan. Kami akhirnya duduk di bangku depan toko, beralaskan koran agar tidak basah. Mengunyah brownies fudgy yang manisnya pas, sambil menonton jalanan yang lembab habis hujan. Sore yang dingin itu mendadak berubah menjadi ceria dan sedikit sentuhan syahdu.
Di tengah kami memakan kue, Candra menceritakan bagaimana dia salah memasukkan garam alih-alih gula saat pertama kali belajar memanggang. Kami pun tertawa bersama, menambah rasa bahagia di hatiku sejak pagi. Namun,di balik senyuman Candra, aku menangkap sekelebat bayang redup saat dia melihat ke arah genangan air di depan. “Kamu tahu,” kata Candra, suara yang tadinya ceria berubah rendah menjadi sendu. Ia menatap rintik hujan yang kembali datang.”Aku selalu suka hujan. Dulu, rumahku selalu hangat dilapisi kebahagiaan. Apalagi saat hujan, ibu memasak soup wortel, ayah membaca buku dengan kopi di sampingnya. Tapi mereka sudah tiada. Rumah rasanya cuma jadi bangunan kosong. Aku kehilangan arah pulang.” Seketika aku terdiam dan tidak bisa menelan makananku. Rasanya tetap manis tapi seperti ada yang hilang. Cerita Candra menghantam dadaku. Satu kalimat menusuk tepat dihatiku, yaitu kehilangan arah pulang. Aku sendiri pun sedang berjuang dengan rasa sepi yang sama sejak merantau dan kehilangan sosok nenek yang merawatku dari kecil. Terlintas bahwa kami adalah dua orang asing yang sama-sama bersembunyi di balik tawa. Membawa luka kehilangan yang serupa.
Tiba-tiba suasana berubah melankolis, menyisakan keheningan yang nyaman namun sarat akan rindu. “Candra,” panggilku pelan, membuka buku catatan kecilku. Berisi lembaran draf yang bahkan kini belum selesai sepenuhnya. “Bagaimana kalau kita buat ‘rumah’ baru? Di sini. Di dalam cerita, atau di mana pun kita memilih untuk berhenti berlari, dan menerima kenyataan.” aku memperlihatkan buku kecilku. Candra menoleh penasaran, matanya berbinar mendengar kalimat itu. Kesedihan yang sempat mampir di hatinya perlahan mengikis, digantikan oleh kehangatan baru yang menjalar di antara kami.
Tidak terasa bulan telah berganti tahun. Aku sibuk di dapur dengan sepatula di tanganku. Hujan kembali turun dengan derasnya di kota yang sama. Kali ini, aku tidak lagi berteduh di teras toko buku tua. Aku berdiri di dalam sebuah ruangan hangat yang dipenuhi aroma panggangan kue yang harum dan jejeran masakan lezat di atas meja. Sebuah buku fiksi baru terpajang di rak depan dengan nama pena Pienoloppy. Judulnya Hujan Membawa Rumah. “Hei, Penulis cantik,” panggil Candra dari balik meja dapur, tangannya belepotan tepung kering sambil tersenyum jenaka. “Hujannya deras sekali di luar. Untung kita sudah di rumah. Aku takut kau masuk angin.” katanya sambil berjalan dan menempelkan telinga ke perutku yang mulai besar. “Jangan khawatir, dia baik-baik saja. Karena ayahnya seorang pria yang kuat,” ujarku sambil mengelap tepung di wajah manisnya. Kami telah menikah dan menjadi rekan hidup selamanya. Hujan di luar boleh saja dingin, tapi di dalam sini, di ruangan ini, kami telah menemukan jalan pulang. Jalan yang menghubungkan tempat singgah bersama. Hujan tidak lagi membawa kesedihan di antara kami, melainkan membawa kami pada satu muara yang pasti, yaitu sebuah rumah bernama satu sama lain.






