Gerbang Satu Suro

Malam itu suara serangga terdengar samar, semua mendadak hening. Hanya suara ranting pohon yang tertiup angin terdengar jelas. Sudah hampir tengah malam, aku menyadari sudah berjalan terlalu jauh. Di ujung jalan terlihat sebuah gerbang kuno, gerbang yang tidak terlalu besar namun terlihat megah. Sudah lama gerbang itu tidak terbuka, namun malam ini sedikit ada celah yang bisa dilihat. Gerbang yang lama tidak tersentuh dan terawat itu memperlihatkan sedikit cahaya dari dalam. Cahaya warna merah seperti kobaran api. Aku berjalan pelan selangkah demi selangkah, meski berat tapi hatiku termakan penasaran. Entah, aku merasa bahwa hawa malam ini sedikit lebih dingin dari biasanya. Memberanikan diri aku memasuki gerbang kuno itu. Di dalamnya terdapat sebuah kuil kecil yang sudah berlumut dan kotor. Sekilas aku melihat sosok berdiri diam di bawah cahaya bulan yang redup. Tampak ia memegang sebuah obor di tangannya sambil bersimpuh diri di depan patung yang aku pun tidak tahu itu apa. Memakai baju warna putih dengan kain merah di kepalanya. Kepalanya tertunduk, seperti sedang berdoa.

Aku memperhatikannya dengan rasa aneh. Tangannya yang memegang obor dililit oleh ranting-ranting berduri yang besar. Melingkari pergelangan tangan dan mengingat kuat jemarinya. Saat ku lihat dari belakang ia masih berdiam diri. Aku tidak melihat wajahnya, tapi aku yakin dia seorang wanita dengan rambut panjang. Tidak ada darah yang menetes, tidak juga terdengar suara orang berdoa. Hanya kedamaian yang terasa janggal. Dengan sisa keberanianku, aku mencoba mendekat, ingin memanggil. Namun, suaraku membeku. Keringat dingin mulai membasahi pelipisku. Mengalir ke belakang punggungku. Saat aku mendekat, ia mendongak. Aku terpaku, wajahnya hancur, hitam, kulit yang terkelupas, daging yang membusuk jatuh ke bawah. Bau busuk mulai masuk ke dalam hidungku. Matanya kosong, hanya menyisakan dua lubang mata yang tak berisi. Tanpa sadar aku mengatakan,” Mengapa kau memeluk duri itu?”. Betapa bodohnya aku. Suaraku hilang hanya ada hening di malam hari. Aku berbalik diri ingin berlari sekencang mungkin meninggalkan gerbang. Tapi di belakangku, jalanan yang ku lewati berubah menjadi hutan gelap. Tidak ada cahaya, tidak ada tanda kehidupan. Gerbang kuil yang tadi terbuka kini sudah tertutup dengan rantai yang lebih kuat. Duri-duri yang sama melingkarinya, aku terjebak. Aku berteriak memanggil siapa pun yang lewat. Tidak ada balasan suara. Hingga aku berhenti dan mendengar,”Jika kau ingin meninggalkan tempat ini, maka berjanjilah satu hal padaku,” aku menoleh ke belakang. Wanita itu, wajah yang tidak ingin aku lihat. Aku pun menjawab,”Janji apa yang harus aku penuhi,” tanyaku. “Ambillah obor ini, dan gerbang itu akan terbuka,”. Aku berjalan padanya dan mengambil obor itu tanpa rasa ragu. Ketakutanku berubah menjadi kekuatan. Saat aku mengambilnya, tiba-tiba gerbang itu terbuka. Aku berlari keluar dengan obor ditanganku. Meninggalkan tempat terkutuk itu dan kembali menuju rumah.

Belum sampai di rumah, aku merasa ada yang tidak beres. Aku melihat ke belakang dan menemukan sebuah pemukiman penduduk yang terbakar hebat. Gerbang itu menghilang entah kemana. Orang-orang pada ramai meredahkan si jago merah dengan air seadanya. Apa yang terjadi (?) melihat aku yang sedang membawa obor, salah satu penduduk berteriak,”Anak terkutuk, binasalah kau,” aku diseret dan di bawa keliling desa. Seperti pencuri yang ketahuan memangsa ternak. Fitnah, ini fitnah.. bukan aku orangnya. Aku di pukul habis-habisan, hingga aku tidak merasakan sakit lagi. Tanganku diikat dengan ranting duri yang tajam hingga menembus kulit dagingku. Kakiku di buat patah hingga aku tidak bisa berjalan. Wajahku di siram minyak panas hingga kulitku melepuh. Gelap. Aku melihat kegelapan. Dimana aku.. setelah agak lama, aku mencoba membuka mataku. Ternyata semua hanyalah mimpi. Tapi patung apa yang ada di depanku (?).

“Terima kasih telah menggantikanku”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *