Nyawa di Ujung Jarik

“Kamu ikut?”

Apa kalian tahu jika di bulan satu suro menyimpan banyak legenda mistis yang tidak sedikit orang tidak mempercayainya. Bagi beberapa orang malam satu suro adalah malam biasa yang tidak perlu untuk di takuti. Namun, tidak sedikit pula sebagian orang menganggap malam satu suro selalu punya caranya sendiri untuk mencengkeram nyali dan membuat siapapun merinding. Siapapun yang berani membaca cerita ini, akan aku akui bahwa mereka bernyali besar.

Malam ini, mitos malam satu suro menghadirkan kengerian berlipat ganda. Sebuah desa yang terletak di bawah kaki gunung keramat, menyisakan langit dengan kegelapan yang tidak biasa. Bulan purnama kembar atau yang biasa di sebut bulan kesempurnaan yang bersinar terik tetapi terlihat angkuh. Memandikan bumi dengan cahaya putih pucat yang angkuh. Ivan mengetahui mitos itu. “Jangan meremehkan bulan satu suro, terlebih jika purnama sedang masa sempurnanya. Alam Ghaib sedang menggelar kirab. Tetaplah di dalam rumah”.

Sayangnya, tangisan bayinya malam itu memaksa ivan untuk menembus keheningan angin malam. Melewati kabut yang menusuk kulit hingga organ dalam. Melawan rasa takut demi meredahkan tangisan malaikat kecilnya. Ivan harus bergegas ke rumah mantri jampi di ujung desa karena demam sang bayi tak kunjung redah, dan semakin memuncak. Ia sengaja tidak menaiki motor tuanya, agar tidak merusak kesunyian sakral yang mencekam. Setapak demi setapak ia lewati. Pohon-pohon beringin tua yang berjejeran. Suasana senyap layaknya desa mati. Bahkan suara hewan malam pun enggan bersuara. Sreeekkk… Sreeekk.. langkah ivan berhenti. Di bawah siraman cahaya bulan seolah membuat bayangan ranting pohon tampak seperti kuku panjang yang siap menerkam, ia mendengar suara benda yang diseret. Seketika bau bangkai menusuk langsung hidung ivan. Campuran antara wewangian kemenyan pekat dan bau daging busuk yang menggosong. Ivan merasa ada yang aneh, segera dia bersembunyi di balik semak, di lapis kabut. Kabut yang tadi tebal kini menipis, menampilkan barisan sosok berbalut pakaian adat tradisional lengkap. Mereka berjalan beriringan tanpa suara, tanpa menapak tanah. Ingin rasanya ivan berteriak tapi jantungnya seolah berhenti berdetak saat menyadari satu hal. Barisan orang itu tidak memiliki kepala. Di tempat kepala seharusnya berada, hanya ada kepulan asam hitam yang berdenyut seiring dengan cahaya purnama.

Hingga ia melihat barisan paling depan, salah satu makhluk tanpa kepala itu membawa sebuah nampan sesajen yang dipenuhi darah segar dan bangkai ayam hitam. Mengeluarkan aroma busuk tak tertahan. Ivan terpaku, merapatkan tubuhnya pada batang beringin besar, berjongkok, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Berharap bayangan malam menyembunyikannya dalam diam. Ia menggigit bibirnya dengan kuat hingga tak sadar ada darah yang keluar. Mati-matian dia menahan diri agar tidak menjerit. Tuk.. tuk.. tuk.. Suara ketukan aneh terdengar dari arah belakang barisan kuno itu. Sesuatu yang melompat-lompat kecil. Ivan yang penasaran, namun dibalut dengan sedikit rasa takut memberanikan diri melirik. Tepat di bagian paling belakang kirab, ada tiga sosok pocong dengan kain kafan yang lusuh berwarna cokelat berlumpur dan robek. Salah satu pocong tiba-tiba berhenti tepat di depan tempat ia bersembunyi. Pocong itu perlahan memutar tubuhnya yang kaku. Wajah hancur, hitam, kulit yang melepuh busuk penuh belatung, dan mata yang merah bersinar mengerikan di bawah cahaya purnama. Hampir membuat ivan memuntahkan isi perutnya. Tiba-tiba…. “Kowe melu opo ora?” (“Kamu ikut apa tidak?”) Suara itu memang tidak terdengar di telinga secara langsung, melainkan bergema di dalam kepala ivan. Berat, serak, dan dingin seperti es. Bersamaan dengan itu, belasan sosok tanpa kepala dan pocong lainnya serentak berhenti dan berbalik. Asap hitam di leher mereka bergolak, kabut semakin tebal. Dari sela-sela baju surjan mereka, keluar puluhan tangan pucat bertekstur busuk yang memanjang, bergerak liar ke arah ivan. Sontak ivan menjerit tanpa suara. Ia lari sekecang mungkin hingga tak sadar sandal yang ia pakai terlepas satu. Tanpa mempedulikan rasa sakit di kakinya, ivan menembus kabut tebal hanya untuk sampai ke rumahnya. Dengan jelas dia mendengar, di belakangnya ada suara tawa melengking seorang wanita, bebarengan suara kuda yang menggelegar memecah keheningan malam. Bersahut-sahutan dengan suara seretan kain yang kiat mendekat.

Sesampainya di rumah, dia melihat istrinya sedang memeluk bayi kesayangannya dengan menangis. Malam itu, di bawah purnama penuh satu suro, Ivan menyadari bahwa beberapa mitos tidak diciptakan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai peringatan terakhir sebelum nyawa direnggut oleh yang tak terlihat. Tamat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *