Skesamalang.com – Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta berhasil mengembangkan inovasi pangan sehat berbahan dasar limbah bekatul padi dan ekstrak daun kelor. Produk yang diberi nama BEKAMIE ini menawarkan mi instan sehat, bebas gluten, sekaligus menjadi solusi pemanfaatan limbah hasil penggilingan padi yang selama ini lebih banyak digunakan sebagai pakan ternak.
Mereka adalah Susilo Indah Rahayu, Sailah Aulivia, Muhammad Panca Nugraha, dan M. Gilang Karnanda.
Salah satu anggota tim, Susilo Indah Rahayu, menjelaskan bahwa ide pengembangan BEKAMIE berawal dari keprihatinan terhadap melimpahnya bekatul yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan pangan.
“Bekatul selama ini lebih banyak dijual sebagai pakan ayam dengan harga yang sangat murah. Padahal, kandungan gizinya cukup tinggi dan masih memiliki potensi besar untuk diolah menjadi makanan sehat,” ujarnya.
Menurut Indah, pada masa lalu bekatul sebenarnya pernah diolah menjadi berbagai makanan tradisional, seperti jenang bekatul. Namun, seiring perkembangan zaman, pemanfaatannya sebagai pangan semakin berkurang.

Menjawab Kebutuhan Mahasiswa yang Serba Praktis
Tim BEKAMIE kemudian melihat kebiasaan mahasiswa yang membutuhkan makanan praktis karena padatnya aktivitas kuliah, praktikum, hingga organisasi.
“Dari situ muncul ide membuat mi instan yang lebih sehat. Mahasiswa memang identik dengan mi instan, sehingga kami mencoba menghadirkan alternatif yang tetap praktis tetapi memiliki nilai gizi lebih baik,” jelasnya.
BEKAMIE dibuat menggunakan tepung mocaf, pati garut, bekatul padi, dan ekstrak daun kelor, sehingga menghasilkan produk yang bebas gluten (gluten free). Formulasi tersebut membedakan BEKAMIE dengan sebagian besar mi instan yang beredar di pasaran.
Selain kaya serat dan nutrisi, produk ini juga diklaim lebih ramah bagi penderita gangguan lambung karena menggunakan bahan-bahan alami.
Dari Sisa Produksi Lahir Inovasi Baru
Inovasi tidak berhenti pada produk mi sehat. Saat proses produksi, tim menemukan sisa adonan yang tidak dapat dibentuk menjadi mi secara sempurna. Alih-alih menjadi limbah, sisa produksi tersebut justru melahirkan produk baru bernama BEKRESS (Bekamie Kremes).
BEKRESS merupakan camilan renyah berbahan dasar yang sama dengan BEKAMIE, yakni bekatul padi, tepung mocaf, pati garut, dan ekstrak daun kelor.
Produk ini menyasar pasar yang lebih luas, termasuk anak-anak, karena dikemas sebagai makanan ringan yang praktis dikonsumsi.
“Kalau BEKAMIE awalnya kami targetkan untuk mahasiswa, pekerja yang sibuk, dan ibu rumah tangga. Sedangkan BEKRESS bisa dinikmati semua kalangan, terutama anak-anak karena bentuknya seperti camilan,” kata Indah.
Tanpa MSG, Hadir dengan Berbagai Varian Rasa
Untuk meningkatkan daya tarik konsumen, BEKRES hadir dalam tiga pilihan rasa, yakni Balado, Barbeque (BBQ), dan Ayam Panggang.
Menariknya, seluruh bumbu dikembangkan secara mandiri oleh tim mahasiswa tanpa menggunakan monosodium glutamat (MSG), sehingga tetap mempertahankan konsep camilan sehat.
Melalui inovasi ini, tim mahasiswa UAD berharap bekatul tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi menjadi bahan pangan bernilai tinggi yang mampu meningkatkan nilai ekonomi sekaligus mendukung gaya hidup sehat masyarakat.






