Bambang Irianto Ungkap Rahasia Sukses Kampung Tematik, Berawal dari Kesadaran Warga

Sketsamalang.com – Keberhasilan membangun kampung tidak ditentukan oleh besarnya anggaran maupun banyaknya bantuan pemerintah. Faktor utama yang menjadi penentu justru terletak pada perubahan pola pikir masyarakat, semangat gotong royong, serta kemampuan warga mengenali potensi dan persoalan di lingkungannya sendiri.

Hal tersebut disampaikan Koordinator Nasional Kampung Tematik Indonesia (KTI), Ir. Bambang Irianto, saat berbagi pengalaman membangun kampung berbasis partisipasi masyarakat kepada sejumlah wartawan di Rumah Prestasi Kampung Glintung Go Green (3G), Jalan Karya Timur, Kota Malang.

Penggagas Gerakan Menabung Air Kampung 3G yang juga berhasil menembus final Guangzhou International Award for Urban Innovation itu menegaskan, pemerintah semestinya berperan sebagai pendamping, bukan menjadi pihak yang sepenuhnya menentukan arah pembangunan.

“Langkah pertama adalah warga harus mengetahui potensi dan masalah yang dimiliki kampungnya. Tidak semua perangkat kampung memahami kondisi riil di lapangan. Karena itu masyarakat perlu dibimbing agar mampu memetakan kondisi kampungnya sendiri,” ujar Bambang.

Menurutnya, pembangunan kampung tidak boleh dilakukan dengan pendekatan top-down. Seluruh proses harus lahir melalui musyawarah masyarakat agar setiap program memiliki rasa kepemilikan yang kuat.

Bambang mengibaratkan proses tersebut layaknya seseorang menjalani general check-up. Dari hasil pemeriksaan akan diketahui kondisi sebenarnya sehingga solusi yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

“Kalau kampung sudah mengetahui kondisi dan potensinya, mereka akan memiliki konsep, program, dan cita-cita bersama. Itu jauh lebih penting daripada langsung membuat proposal untuk meminta bantuan,” katanya.

Ia menjelaskan, tahapan awal pembangunan harus diawali dengan revolusi mental masyarakat. Kesadaran kolektif, kepedulian terhadap lingkungan, serta budaya gotong royong menjadi fondasi utama sebelum berbicara mengenai bantuan dana maupun pembangunan fisik.

Setelah masyarakat siap, kolaborasi dapat diperluas melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan media.

“Kalau masyarakat sudah bergerak dan memiliki program, mereka tinggal menyampaikan bahwa masih ada kendala. Di situlah pemerintah, perguruan tinggi, BUMN, maupun pihak lain hadir untuk mendampingi. Dengan begitu bantuan benar-benar memberikan dampak,” jelasnya.

Bambang menilai bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang belum siap sering kali tidak menghasilkan perubahan signifikan. Sebaliknya, masyarakat yang telah memiliki visi dan program mampu mengembangkan bantuan sekecil apa pun menjadi kekuatan besar.

Berdasarkan pengamatannya, masih banyak program pembangunan kampung yang gagal meski didukung anggaran besar. Salah satu penyebabnya adalah masyarakat belum memahami potensi daerahnya sendiri dan masih bergantung pada bantuan pemerintah.

Padahal, setiap kampung memiliki karakteristik yang berbeda. Ada yang unggul di bidang lingkungan, pertanian, seni budaya, kesehatan, maupun pengembangan ekonomi lokal.

“Kalau tinggal di daerah pegunungan tentu potensinya berbeda dengan kampung perkotaan. Tidak bisa diseragamkan. Tema pembangunan harus disesuaikan dengan kekuatan utama masing-masing kampung,” tuturnya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Bambang menggagas konsep **Kampung Tematik** pada 2013. Melalui konsep itu, setiap kampung didorong mengembangkan identitas sesuai potensi unggulan yang dimiliki sehingga mampu menciptakan prestasi berbasis keunggulan lokal.

Konsep tersebut kemudian mendapat perhatian luas. Sejak sekitar 2015, berbagai kementerian mulai mempelajari model pembangunan Kampung Tematik yang dikembangkannya. Istilah Kampung Tematik pun semakin dikenal dan diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.

Penerima Kalpataru Kategori Pembina Lingkungan Nasional dari Presiden Joko Widodo itu kini aktif menjadi narasumber di berbagai daerah untuk berbagi pengalaman mengenai pembangunan kampung berbasis partisipasi masyarakat.

Bambang berharap pendekatan tersebut mampu melahirkan kampung-kampung yang mandiri, kreatif, berdaya saing, serta tetap menjunjung tinggi nilai gotong royong sebagai identitas bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *