Sketsamalang.com, MALANG – Ribuan cahaya dari senter telepon genggam menyala serempak dan membentuk rangkaian pesan kemanusiaan serta kepedulian lingkungan di kawasan Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (7/9/2026).
Lebih dari 5.600 mahasiswa baru UMM Generasi 2026 (Gen 26) terlibat dalam pertunjukan Flashlight Mob yang dikemas berbeda dari seremoni penyambutan mahasiswa baru pada umumnya. Tahun ini, ribuan mahasiswa menciptakan formasi cahaya menyerupai motion picture atau semi-animasi raksasa.
Koordinator FlashMob UMM, Jamroji, S.Sos., M.Comms., mengatakan konsep pertunjukan tahun ini mengangkat tema kepedulian terhadap kemanusiaan dan kelestarian lingkungan.
“Formasinya adalah formasi keprihatinan. Kita lebih banyak menghadirkan formasi doa untuk daerah-daerah yang dilanda bencana. Rangkaiannya diawali dari ‘Pray for NTT’, kemudian ‘Pray for Sade’, ‘Pray for Sumatera’, hingga ‘Pray for Kalimantan’,” ungkap Jamroji.
Jamroji yang telah mengawal formasi mahasiswa baru UMM sejak 2014 itu menjelaskan, setiap formasi dirancang menjadi rangkaian gerakan cahaya yang tampak hidup di atas area helipad.
Setiap gambar membutuhkan sekitar lima hingga tujuh konfigurasi formasi untuk menghasilkan efek animasi yang mulus. Salah satu rangkaian yang menarik perhatian adalah pesan tentang pelestarian lingkungan melalui animasi reboisasi yang merepresentasikan wilayah Kalimantan.

Ribuan cahaya dari senter mahasiswa secara bergantian membentuk gambaran hutan gundul, proses penanaman benih, pertumbuhan tanaman, penyiraman, hingga perubahan menjadi hutan hijau dan lebat.
Pertunjukan tersebut kemudian ditutup dengan pesan besar bertuliskan “Green Today, Alive Future”, sebagai pengingat bahwa upaya menjaga dan menghijaukan bumi hari ini akan menentukan keberlangsungan kehidupan pada masa mendatang.
Nuansa teatrikal Flashlight Mob Gen 26 juga diperkuat dengan berbagai atraksi seni. Penampilan tari api di area jembatan dan tari air di kawasan helipad turut memeriahkan pertunjukan dan menyuguhkan pengalaman visual bagi para mahasiswa serta hadirin.
Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menjelaskan bahwa pertunjukan tersebut memanfaatkan pancaran flash telepon genggam ribuan peserta untuk menciptakan formasi cahaya yang spektakuler.
Dalam kondisi helipad yang digelapkan, mahasiswa baru diarahkan menyalakan dan mematikan senter telepon genggam secara serentak sesuai panduan dan konfigurasi yang telah disiapkan.
“Konsep ini dirancang matang untuk tidak membebani kantong mahasiswa, namun juga tetap mengutamakan kreativitas, sehingga pesmaba tetap berjalan dengan menyenangkan,” jelas Maharina.
Konsep Flashlight Mob juga menjadi pilihan yang lebih efisien dibandingkan penggunaan media seperti kertas warna atau caping. Maharina menyebut penggunaan material tersebut dapat membutuhkan biaya sekitar Rp35.000 hingga Rp150.000 per mahasiswa.
Selain lebih hemat, konsep tanpa material sekali pakai tersebut juga sejalan dengan semangat Green and Clean UMM yang telah digalakkan sejak 2009.
Tanpa menggunakan kertas maupun bahan sekali pakai, Flashlight Mob Gen 26 dinilai mampu mencegah timbunan sampah dalam jumlah besar. Konsep ini sekaligus menjadi bukti bahwa kreativitas dalam kegiatan penyambutan mahasiswa dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Kenyamanan mahasiswa baru juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan kegiatan. Sejak 2022, rangkaian penyambutan mahasiswa baru di UMM digeser ke sore hari agar mahasiswa tidak harus mengikuti kegiatan di bawah terik matahari.
Perubahan waktu pelaksanaan tersebut justru melahirkan inovasi baru berupa Flashlight Mob yang kini menjadi salah satu atraksi khas dalam penyambutan mahasiswa baru Kampus Putih.
Melalui harmoni ribuan cahaya, doa bagi daerah terdampak bencana, serta pesan pelestarian lingkungan, Flashlight Mob Gen 26 UMM tidak hanya menghadirkan pertunjukan spektakuler, tetapi juga meninggalkan pesan tentang kemanusiaan dan masa depan bumi bagi ribuan mahasiswa baru.







