Sketsamalang.com – Universitas Brawijaya (UB) menjadi salah satu lokasi utama pengambilan gambar film 3726 MDPL garapan sutradara Fajar Bustomi. Selama 18 hari proses produksi di Malang, sejumlah area kampus dimanfaatkan sebagai latar syuting sekaligus menghadirkan pengalaman belajar langsung bagi mahasiswa melalui program magang bersama Falcon Pictures.
Kegiatan diawali dengan seremoni pembukaan yang dihadiri Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., Dekan Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) UB, Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D., Sekretaris Universitas Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., jajaran pimpinan universitas, tim Falcon Pictures, kru produksi, serta mahasiswa yang terlibat dalam proses syuting.
Selama 18 hari proses produksi di Malang, tim Falcon Pictures memanfaatkan sejumlah lokasi di lingkungan UB sebagai latar pengambilan gambar, di antaranya Gedung Rektorat, ruang kelas dan kantin FBiPK, Kantin CL, taman kampus, hingga kawasan UB Forest. Beragam lokasi tersebut dipilih untuk menghadirkan nuansa kehidupan kampus yang autentik sesuai dengan cerita dalam film 3726 MDPL.
Film 3726 MDPL merupakan adaptasi novel yang mengangkat kisah kehidupan mahasiswa dengan balutan persahabatan, perjalanan meraih mimpi, kepedulian terhadap lingkungan, dan semangat konservasi. Kehadiran Universitas Brawijaya sebagai lokasi syuting dinilai mampu memperkuat representasi latar akademik sekaligus memperlihatkan kekayaan lingkungan kampus yang mendukung alur cerita.
Rektor UB, Prof. Widodo, menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan kepada Universitas Brawijaya sebagai lokasi syuting film nasional. Menurutnya, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan riset, tetapi juga dapat menjadi ruang tumbuhnya kreativitas dan inovasi melalui kerja sama dengan industri.
“Saya sangat senang melihat anak-anak muda Indonesia yang bersemangat menghasilkan karya terbaik. Film bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media pendidikan yang dapat membangun visi dan semangat generasi muda untuk ikut membangun bangsa,” ujarnya.
Prof. Widodo menilai karya perfilman memiliki peran strategis dalam menyampaikan nilai-nilai pendidikan kepada masyarakat. Di tengah perkembangan industri kreatif yang semakin pesat, sinergi antara perguruan tinggi dan dunia perfilman diharapkan mampu melahirkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi. Ia menambahkan bahwa dipilihnya Universitas Brawijaya sebagai lokasi syuting merupakan sebuah kehormatan sekaligus peluang untuk memperkenalkan kampus kepada masyarakat melalui medium kreatif.
Lebih lanjut, Prof. Widodo menegaskan bahwa keberhasilan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga integritas, etika, dan moral. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam membentuk calon pemimpin bangsa.

Sementara itu, Dekan FBiPK UB, Prof. Mangku Purnomo, menjelaskan bahwa pemilihan kawasan FBIPK sebagai lokasi syuting berkaitan erat dengan latar cerita dalam novel 3726 MDPL. Tokoh utama dalam cerita merupakan mahasiswa kehutanan yang memiliki kepedulian terhadap konservasi, kecintaan terhadap alam, dan kegemaran mendaki gunung.
Menurutnya, karakter tersebut sangat selaras dengan lingkungan akademik serta bentang alam yang dimiliki FBiPK dan UB Forest sehingga mampu menghadirkan visual yang sesuai dengan kebutuhan cerita.
“Ketika tim Falcon Pictures melakukan survei lokasi, mereka melihat lingkungan di sini sangat sesuai dengan kebutuhan cerita. Karena itu, kawasan FBiPK dan UB Forest dipilih sebagai bagian dari lokasi pengambilan gambar,” ucapnya.
Prof. Mangku berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada proses produksi film semata, tetapi dapat menjadi awal kerja sama yang lebih luas antara perguruan tinggi dan industri kreatif. Menurutnya, sinergi semacam ini mampu memperkenalkan potensi akademik Universitas Brawijaya sekaligus membuka peluang pembelajaran yang lebih dekat dengan dunia profesional.
Begitu pun sutradara film 3726 MDPL, Fajar Bustomi, mengaku terkesan dengan lingkungan Universitas Brawijaya yang dinilainya memiliki atmosfer akademik yang kuat. Baginya, melakukan proses produksi di lingkungan kampus menghadirkan tanggung jawab moral untuk menghasilkan karya terbaik.
Fajar mengungkapkan bahwa dirinya mulai mengenal Universitas Brawijaya lebih dekat setelah mendalami novel 3726 MDPL. Kesempatan berkeliling kampus membuatnya melihat secara langsung luasnya kawasan UB serta semangat sivitas akademika yang mendukung proses produksi.
Ia juga menilai film merupakan hasil kerja kolaboratif yang lahir dari kontribusi banyak pihak. Oleh karena itu, keterlibatan Universitas Brawijaya menjadikan 3726 MDPL bukan sekadar karya rumah produksi, tetapi juga bagian dari kolaborasi bersama kampus.
“Film adalah karya kolaboratif. Ketika kami syuting di Universitas Brawijaya, artinya 3726 MDPL juga menjadi karya Universitas Brawijaya, bukan hanya karya saya,” katanya.

Selain memanfaatkan lingkungan kampus sebagai lokasi pengambilan gambar, produksi 3726 MDPL juga membuka kesempatan bagi mahasiswa Universitas Brawijaya untuk belajar langsung di industri perfilman. Melalui program magang yang diumumkan melalui kanal resmi UB, sekitar 500 mahasiswa mengikuti proses seleksi dengan mengirimkan CV dan portofolio.
Setelah melalui seleksi administrasi dan workshop, sebanyak 25 mahasiswa UB terpilih mengikuti program magang bersama Falcon Pictures. Mereka menjalani masa magang pada 5–21 Agustus 2026 dan ditempatkan di 12 divisi produksi, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan produksi. Jumlah tersebut belum termasuk mahasiswa yang mengikuti proses casting dan terlibat sebagai pemeran maupun figuran dalam film.
Program magang tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami secara langsung proses produksi film profesional, mulai dari koordinasi antardivisi, manajemen produksi, hingga pelaksanaan syuting di lapangan. Pengalaman tersebut menjadi pelengkap pembelajaran di bangku kuliah sekaligus memperluas wawasan mahasiswa terhadap peluang karier di industri kreatif.
Salah seorang peserta magang mengaku bersyukur memperoleh kesempatan tersebut karena dapat belajar langsung bersama tim Falcon Pictures. Pengalaman tersebut dirasakan oleh Erika, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB yang terlibat sebagai figuran. Meski berasal dari disiplin ilmu yang berbeda, ia mengaku memperoleh wawasan mengenai proses casting hingga produksi film profesional.
Kolaborasi dalam produksi 3726 MDPL menjadi wujud sinergi antara Universitas Brawijaya dan industri kreatif dalam menghadirkan ekosistem pembelajaran yang lebih kontekstual. Kehadiran mahasiswa di balik layar produksi menunjukkan bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung bersama para praktisi.
Lebih dari sekadar menjadi lokasi syuting, UB kembali menegaskan perannya sebagai kampus yang terbuka terhadap kolaborasi lintas sektor. Melalui sinergi dengan industri perfilman nasional, UB tidak hanya memperkenalkan wajah kampus kepada masyarakat luas, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang relevan, memperluas jejaring kemitraan, serta mendorong lahirnya generasi muda yang kreatif, adaptif, dan berintegritas.






