Sketsamalang.com — Semangat persatuan dalam keberagaman mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di RW 13, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Minggu (16/8/2026).
Mengusung tema “Harmoni Keberagaman”, kegiatan tersebut berlangsung meriah sekaligus menjadi momentum mempererat kebersamaan warga yang memiliki latar belakang agama, budaya, suku, dan daerah asal yang beragam.
Salah satu momen menarik dalam kegiatan tersebut adalah pelepasan burung yang menjadi simbol kebebasan, persatuan, dan harapan agar semangat kebersamaan warga RW 13 terus tumbuh.
Kemeriahan acara juga semakin terasa dengan penampilan kesenian tradisional Reog dan Tari Gandrung. Perpaduan berbagai unsur budaya tersebut menjadi gambaran bahwa keberagaman bukan penghalang untuk bersatu, melainkan kekuatan dalam membangun lingkungan yang harmonis.

Lurah Merjosari Muhammad Syaiful Arif mengapresiasi antusiasme masyarakat RW 13 dalam menyelenggarakan peringatan HUT ke-81 RI.
“Pertama saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada warga RW 13 yang telah menyelenggarakan acara untuk memperingati HUT RI ke-81,” ujar Muhammad Syaiful Arif.
Menurutnya, RW 13 merupakan salah satu RW yang relatif masih muda di Kelurahan Merjosari. Meski baru berusia sekitar tiga tahun, warga telah mampu menunjukkan kekompakan melalui kegiatan yang meriah dan sarat makna.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan kebersamaan warga.
“Harapan saya bukan acara seremonial saja, tetapi nanti akan berlanjut menjadi sebuah kekompakan, kemudian kebersamaan dari warga RW 13,” katanya.
Muhammad Syaiful menjelaskan, secara geografis wilayah RW 13 cukup tersebar, termasuk di sekitar kawasan Jalan Joyo Agung dengan sejumlah klaster permukiman. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam membangun komunikasi antarwarga.
Karena itu, kegiatan bersama seperti peringatan HUT RI dinilai penting sebagai ruang untuk mempertemukan sekaligus menyatukan warga.
“Harapannya dengan Pak RW mengadakan acara ini bisa menyatu, bersama-sama membangun RW 13 menjadi RW yang usianya seumur jagung, tetapi prestasinya nanti sama dengan RW yang lain di Kelurahan Merjosari,” ungkapnya.

Ketua RW 13 Edy Wasno menjelaskan, gagasan Harmoni Keberagaman berangkat dari kondisi masyarakat RW 13 yang terdiri atas warga dengan beragam suku, agama, serta daerah asal.
Menurut Edy, meski RW 13 baru berdiri sekitar tiga tahun, sejak awal pengurus bersama warga telah merancang konsep yang dapat menjadi ruang bersama bagi seluruh masyarakat.
“Untuk di RW 13, kami memang mengawali, kami baru lahir. Kami lahir baru tiga tahun. Dari tiga tahun itu kami membuat rancangan atau ide karena kami terdiri dari berbagai suku, agama, dan dari berbagai macam pulau,” jelasnya.
Konsep tersebut diwujudkan dengan menjadikan budaya sebagai titik temu antarwarga. Edy menegaskan, yang dipersatukan bukanlah agama, melainkan kebudayaan yang lahir dan berkembang dari masing-masing agama serta latar belakang masyarakat.
“Yang kita satukan adalah budayanya, tetapi bukan agama yang disatukan, melainkan budayanya. Untuk apa? Demi persatuan dan kesatuan,” tegasnya.
Menurutnya, Indonesia memiliki enam agama yang diakui, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Masing-masing memiliki kekayaan budaya yang dapat menjadi ruang perjumpaan dan kebersamaan masyarakat.
“Dari keenam agama tersebut memiliki budaya. Kami satukan dalam satu naungan, satu payung budaya. Dalam satu payung budaya itu untuk membuat keharmonisan, kebersamaan, atau keberagaman budaya,” tuturnya.

Edy mengatakan, konsep Harmoni Budaya juga dirancang sebagai upaya mengenalkan kembali seni dan budaya Nusantara kepada generasi muda.
Ia menilai perkembangan zaman membuat sebagian generasi muda, termasuk Generasi Z, semakin jauh dari sejarah dan kebudayaan daerah.
“Makanya kami mengusung Harmoni Budaya agar generasi penerus kita, yang notabene Gen Z sekarang, tidak banyak melupakan sejarah dan budaya kita,” ujarnya.
Karena itu, kegiatan HUT ke-81 RI di RW 13 tidak hanya diisi dengan hiburan, tetapi juga menghadirkan kesenian tradisional sebagai sarana edukasi budaya.
Salah satunya melalui pertunjukan Reog. Menurut Edy, pertunjukan tersebut diharapkan dapat menggugah rasa ingin tahu generasi muda terhadap seni tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
“Dari situ kita menyatukan budaya tersebut. Pada hari ini saya mengusung Harmoni Budaya dari kesenian Reog. Kita menggali dan mengenalkan kepada mereka supaya tahu apa seni budaya tersebut,” katanya.
Ia berharap pengenalan budaya melalui kegiatan warga dapat terus dilanjutkan sehingga keberagaman budaya tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Dari budaya itu kami di RW 13 berharap untuk satu kerukunan umat beragama,” pungkas Edy.






