Prof. Elfi Anis Saati: Gizi Holistik dan Pangan Lokal Jadi Kunci Sukseskan MBG

Sketsamalang.com, PASURUAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak cukup hanya berorientasi pada penyediaan makanan. Program nasional tersebut perlu ditempatkan sebagai investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan unggul.

Pandangan itu disampaikan Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., Guru Besar sekaligus dosen Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Bapperida dan Asisten I Pemerintah Kabupaten Pasuruan, Kamis (13/8/2026).

Prof. Elfi menekankan pentingnya pendekatan gizi holistik dalam mendukung pelaksanaan MBG. Menurutnya, pemenuhan gizi tidak hanya berkaitan dengan kandungan nutrisi, tetapi juga mencakup kesehatan, keamanan pangan, kehalalan, serta proses penyajian yang dilakukan dengan penuh kepedulian.

“Gizi holistik itu bukan hanya berbicara tentang kandungan nutrisi. Ada aspek sehat, bergizi, aman, dan halal. Bahkan bagaimana makanan itu diberikan dengan kasih sayang dan ketulusan juga menjadi bagian yang penting,” ujar Prof. Elfi.

Keamanan dan Kehalalan Pangan Harus Terjamin

Menurut Prof. Elfi, standar keamanan dan kelayakan pangan harus menjadi perhatian serius dalam pelaksanaan MBG. Keberadaan Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) serta sertifikat halal menjadi instrumen penting untuk memastikan makanan yang diterima masyarakat memenuhi standar mutu.

“SLHS dan sertifikat halal itu penting karena kita ingin memastikan makanan yang diberikan benar-benar sehat, bergizi, aman, dan halal. Jadi bukan sekadar makanan tersedia, tetapi mutunya juga harus terjamin,” tegasnya.

Ia menilai kualitas makanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan utama MBG. Makanan yang bergizi, tetapi tidak memenuhi standar keamanan pangan, justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.

Prof Elfi mengawali implementasi pada Riset SINERGI INOVASI SOSIAL.TA 2026 di Kab Pasuruan

Gizi sebagai Investasi SDM

Prof. Elfi menjelaskan, pemenuhan gizi sejak usia dini merupakan investasi penting dalam membangun kualitas manusia Indonesia. Asupan pangan yang tepat berperan dalam pertumbuhan fisik, perkembangan otak, hingga kemampuan kognitif anak.

Karena itu, MBG perlu dilihat dalam perspektif yang lebih luas sebagai salah satu instrumen untuk mempersiapkan generasi menuju **Indonesia Emas 2045**.

“Kenapa gizi menjadi penting? Karena ini merupakan investasi keluarga dan investasi bangsa. Kita berbicara tentang masa emas pertumbuhan anak. Kalau sejak awal gizinya baik, kita berharap perkembangan fisik maupun kecerdasannya juga optimal,” jelasnya.

Pemenuhan gizi yang baik juga diharapkan dapat memperkuat upaya penurunan angka stunting sekaligus mendukung peningkatan kualitas kecerdasan dan karakter generasi muda Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global.

Bahan Pangan Lokal Perlu Dioptimalkan

Di sisi lain, Prof. Elfi mendorong optimalisasi kekayaan pangan lokal dalam mendukung pelaksanaan MBG. Indonesia memiliki sumber daya pangan yang sangat beragam, baik dari sektor pertanian maupun kelautan, yang berpotensi diolah menjadi pangan bergizi dan pangan fungsional.

Pemanfaatan bahan lokal, menurutnya, tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima MBG, tetapi juga dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat.

“Potensi bahan pangan lokal kita sangat besar. Ini harus dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan yang sehat dan bergizi, sekaligus menggerakkan hasil pertanian lokal dan UMKM,” katanya.

Pendekatan tersebut dapat memperkuat rantai pasok pangan lokal. Petani mendapatkan kepastian pasar, UMKM memiliki ruang untuk mengembangkan produk, sementara masyarakat memperoleh pangan berkualitas.

Waspadai Bahaya Mikroplastik

Selain kandungan gizi, aspek keamanan pangan juga perlu mendapat perhatian, termasuk potensi paparan mikroplastik yang dapat masuk ke dalam rantai pangan.

Prof. Elfi menilai inovasi pangan tidak boleh berhenti pada formulasi produk. Proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga penggunaan kemasan juga harus diperhatikan agar keamanan pangan tetap terjaga.

“Jangan sampai kita hanya bicara gizinya, tetapi aspek keamanan pangannya tidak diperhatikan. Termasuk bagaimana mengantisipasi bahaya mikroplastik dari lingkungan maupun kemasan. Semua harus dipikirkan secara menyeluruh,” ujarnya.

Riset Perguruan Tinggi Harus Membumi

Prof. Elfi juga mendorong perguruan tinggi agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Riset harus mampu diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Salah satunya melalui pengembangan pangan fungsional berbasis bahan lokal yang dapat mendukung kebutuhan MBG maupun program pangan lainnya.

“Riset itu jangan hanya melangit. Harus membumi. Artinya, hasil penelitian yang kita lakukan harus bisa diterapkan dan memberikan manfaat nyata kepada masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, hasil riset pangan fungsional dari perguruan tinggi memiliki peluang diterapkan di berbagai lingkungan, termasuk sekolah dan pondok pesantren di Kabupaten Pasuruan.

Implementasi tersebut diharapkan membentuk ekosistem pangan yang saling menguntungkan. Masyarakat memperoleh makanan sehat, bergizi, aman, dan halal; hasil pertanian lokal terserap; sedangkan UMKM mendapatkan peluang untuk berinovasi dan meningkatkan kesejahteraan.

Dengan demikian, dukungan perguruan tinggi terhadap MBG tidak berhenti pada penyediaan menu makanan. Lebih dari itu, kolaborasi lintas bidang dapat menjadi gerakan bersama untuk membangun ekosistem pangan sehat sekaligus mencetak SDM unggul.

Bagi Prof. Elfi, gizi holistik merupakan investasi masa depan. Makanan yang sehat, bergizi, aman, dan halal, didukung bahan pangan lokal serta hasil riset yang aplikatif, menjadi fondasi penting untuk melahirkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan mampu bersaing di tingkat internasional.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *