FBiPK UB Bawa Pembelajaran dari Swiss untuk Tata Kelola Air dan Energi Hijau Indonesia

Sketsamalang.com – Ditengah perdebatan mengenai isu pengembangan data center AI yang memakan debit air dalam jumlah yang sangat besar dan ramainya berita kekeringan di beberapa bagian wilayah Indonesia, saat ini pemerintah serta para pakar saling menguatkan dalam menemukan solusi dari permasalahan tersebut.

Dalam rangka agenda kerja nasional pada Kamis, tanggal 1 oktober 2026 Dekan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D. mendampingi Menteri koordinator bidang infrastruktur dan pembangunan kewilayahan RI Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A., M.A., demi mempelajari teknologi pengelolaan air di École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL), Lausanne, Swiss.

EPFL adalah universitas sains dan teknologi yang terletak di Lausanne, Swiss. Universitas ini merupakan satu dari dua Institut Teknologi Konfederasi Swiss dan merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia.

Dalam kunjungannya, Menteri koordinator bidang infrastruktur dan pembangunan kewilayahan RI beserta Dekan FBiPK melaksanakan peninjuan EPFL Hydropower Laboratory di Lausanne, fasilitas Technology Platform for Hydraulic Machines (PTMH) dan Hydraulic Constructions Platform (PL-LCH) merupakan penerapan teknologi digital twin “water-to-wire”, pengujian skala model berstandar internasional (IEC 60193), hingga teknologi perawatan terprediksi berbasis kombinasi sensor fisik dan kecerdasan buatan (AI). Penerapan teknologi tersebut terletak di sungai Aare Swiss.

Menurut informasi, sungai Aare merupakan sungai terpanjang di Swiss dengan panjang sekitar 288 hingga 295 kilometer. Dimana sungai tersebut memiliki hulu di Gletser Aare atau di sekitar pegunungan alpen, dan mengitari tiga sisi ibu kota Swiss, yaitu Kota Bern.

Foto Dekan FBiPK Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D. bersama Menteri koordinator bidang infrastruktur dan pembangunan kewilayahan RI Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A., M.A., dengan pihak École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL), Lausanne, Swiss.

Prof. Mangku Purnomo, Ph.D. mengambil pembelajaran dari pengelolaan air di Swiss, bahwa air merupakan sumber energi sekaligus sumber ekonomi. Dekan FBiPK UB tersebut menyoroti bahwa kondisi Sungai Aare pada dasarnya tidak selalu lebih baik dibandingkan sungai-sungai di Indonesia seperti Sungai Brantas dan Citarum. Perbedaannya terletak pada tata kelola, kedisiplinan masyarakat, infrastruktur, serta konsistensi pemerintahnya dalam menjaga kualitas sungai.

“Sungai Aare dikelola dengan aturan yang jelas dan didukung oleh perilaku masyarakat yang peduli terhadap kebersihan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan sungai tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik. Perubahan paradigma dan perilaku masyarakat juga menjadi faktor penting.”, terangnya.

Prof. Mangku juga menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor swasta. Pemerintah perlu memberikan regulasi dan arah pembangunan yang jelas. Akademisi dapat berkontribusi melalui penelitian dan inovasi. Sektor swasta dapat terlibat melalui investasi, sedangkan masyarakat menjadi bagian utama dalam menjaga keberlanjutan sungai dan lingkungan.

“Perbaikan pengelolaan sumber daya air di Indonesia membutuhkan perubahan perilaku, regulasi yang konsisten, pembangunan infrastruktur, penerapan teknologi, investasi, serta kolaborasi berbagai pihak. Indonesia tidak harus meniru Swiss secara langsung, tetapi dapat mengambil pelajaran dari sistem yang telah berhasil dan menyesuaikannya dengan kondisi lokal,” tegasnya.

Pelajaran penting dari ekosistem EPFL di Swiss, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadikan sungai sebagai sumber lingkungan, energi, dan ekonomi yang berkelanjutan. Kuncinya terletak pada tata kelola yang baik, inovasi, kolaborasi, serta kesadaran bersama. Perubahan dapat dimulai dari langkah kecil melalui proyek percontohan, kemudian dikembangkan menjadi gerakan yang lebih luas untuk memperbaiki pengelolaan air dan keberlanjutan lingkungan.

#UniversitasBrawijaya_SDG6; #UniversitasBrawijaya_SDG8; #UniversitasBrawijaya_SDG9; #UniversitasBrawijaya_SDG15; #UniversitasBrawijaya_SDG17

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *