Wisuda ke-52 UNITRI Malang, 400 Lulusan Dibekali Kompetensi dan Karakter Siap Hadapi Dunia Kerja

Sketsamalang.com – Wisuda bukan sekadar penanda berakhirnya perjalanan akademik, tetapi menjadi awal bagi lulusan untuk mengimplementasikan ilmu, kompetensi, dan karakter yang diperoleh selama menempuh pendidikan tinggi. Pesan tersebut mengemuka dalam Wisuda Periode 52 Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang, Sabtu (22/8/2026).

Sebanyak 400 wisudawan dari berbagai program studi mengikuti prosesi wisuda. Mereka didorong tidak hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, membangun jejaring, serta menciptakan nilai tambah di lingkungan kerja dan masyarakat.

Rektor UNITRI, Prof. Dodi Wirawan Irawanto, S.E., M.Com., Ph.D., mengatakan kampus terus memperkuat kesiapan mahasiswa sebelum memasuki dunia profesional. Berbagai upaya dilakukan melalui pengembangan kemitraan eksternal, pengabdian berbasis kebutuhan masyarakat, hingga penguatan kompetensi tambahan yang melengkapi ijazah.

Salah satunya melalui kemitraan strategis dengan berbagai pihak, seperti PT Petrokimia Gresik, pemerintah daerah, dan masyarakat di kawasan Wagir, Kabupaten Malang. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pertanian berkelanjutan berbasis pentaheliks sekaligus memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa di tengah masyarakat dan dunia profesional.

UNITRI juga mengembangkan KKN tematik melalui kolaborasi dengan konsorsium sosial asal Australia. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa, khususnya asal Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mengimplementasikan ilmu di daerah asal.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pendampingan literasi keuangan bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Flores.

“KKN di daerah asal ini menjadi momentum curi start bagi mahasiswa kami. Mereka bisa mengimplementasikan ilmunya lebih awal, membantu literasi keuangan bersama LPS di Flores, atau mendampingi masyarakat desa bersama Petrokimia. Harapannya, begitu lulus mereka sudah dikenal dan siap diserap oleh Pemda maupun instansi swasta di sana,” ujar Prof. Dodi.

Pembacaan Janji Wisudawan UNITRI

Selain pengalaman lapangan, UNITRI memperkuat daya saing lulusan melalui sertifikasi keahlian yang menjadi bagian dari Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).

Fakultas Teknik, misalnya, bekerja sama dengan lembaga PTUK yang menaungi sertifikasi BNSP untuk bidang supervisi manajemen proyek. Sementara itu, Fakultas Ekonomi menginisiasi pelatihan keterampilan perpajakan yang disesuaikan dengan perkembangan sistem Coretax di Indonesia.

Prof. Dodi menegaskan, kebutuhan dunia kerja terus mengalami perubahan. Karena itu, perguruan tinggi dituntut mampu membaca perkembangan industri dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan zaman.

Menurutnya, kompetensi akademik harus berjalan beriringan dengan karakter, kemampuan bekerja sama, profesionalisme, serta nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

“Kami selalu update dengan kebutuhan industri. Penanaman nilai budaya dan penguatan tata kelola memang membutuhkan proses yang berkelanjutan. Kami tidak boleh teledor dan terus melakukan evaluasi agar spirit I-PROGRES ini benar-benar membudaya dalam melayani seluruh stakeholder,” tegasnya.

Semangat mengembangkan kompetensi dan karakter juga tercermin dari perjalanan Yosep Perianto**, lulusan terbaik Program Studi Manajemen UNITRI dengan IPK 3,97.

Pemuda asal Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, itu menilai salah satu tantangan generasi muda saat ini adalah kemalasan dan krisis kejujuran. Baginya, pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang tekun, jujur, sopan, dan memiliki budi pekerti.

“Tantangan generasi saat ini adalah kemalasan dan kejujuran. Saya melihat UNITRI telah berupaya membentuk lulusannya menjadi pribadi yang tekun, jujur, sopan, dan memiliki budi pekerti unggul,” ujar Yosep.

Prestasi akademik dengan IPK 3,97 tersebut dipersembahkannya untuk mendiang kedua orang tuanya, Pilatus Marson dan Kristina Kanim.

Menariknya, Yosep mengaku tidak pernah secara khusus menargetkan diri menjadi lulusan terbaik sejak awal kuliah. Ia memilih menjalani proses akademik dengan tekun, menjaga pikiran tetap terbuka, meredam ego, dan fokus pada tujuan.

Alih-alih mengejar berbagai kompetisi di kampus, Yosep lebih banyak membangun jejaring di luar kampus. Ia juga memanfaatkan masa kuliah untuk mengenal keberagaman mahasiswa UNITRI yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

“UNITRI bagi saya seperti miniatur Indonesia. Saya bisa merajut persahabatan lintas daerah, mengenal berbagai budaya, dan memahami bahasa daerah dari teman-teman yang berasal dari Indonesia Barat, Tengah, hingga Timur,” ungkapnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Yosep kini bersiap memasuki dunia kerja dengan membawa bekal ilmu manajemen serta nilai-nilai karakter yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di UNITRI.

Dalam Wisuda Periode 52, Prof. Dodi berpesan agar para lulusan membawa semangat pendidikan kerakyatan ke mana pun mereka berkarya.

Ia berharap alumni UNITRI tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi mampu menjadi penggerak, menghadirkan inovasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Saya berpesan kepada para wisudawan agar senantiasa menjadi ‘penggerak’ di mana pun mereka berkarya. Nilai-nilai pendidikan inklusif dan kerakyatan yang diperoleh selama di bangku kuliah diharapkan dapat melahirkan inovasi serta nilai tambah nyata bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *