Mahasiswa UB Kembangkan Rompi Pintar untuk Deteksi dan Redam Tantrum Anak Autis

Sketsamalang.com – Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan inovasi teknologi wearable bernama ADAPT-V, rompi pintar berbasis Deep Pressure Therapy (DPT) yang dirancang untuk membantu menangani tantrum pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD).

Rompi pintar tersebut dirancang untuk mendeteksi tanda-tanda stres fisiologis secara otomatis. Ketika sistem mendeteksi anak mulai mengalami kondisi yang mengarah pada tantrum, ADAPT-V memberikan respons berupa tekanan terkontrol pada tubuh untuk menciptakan sensasi menenangkan.

Inovasi ini berangkat dari kepedulian tim terhadap persoalan sensory processing yang kerap dialami anak dengan ASD. Kesulitan memproses rangsangan sensorik tertentu dapat memicu respons emosional seperti menangis, berteriak, menendang, hingga perilaku agresif.

Anggota tim dari Program Studi Psikologi UB, Muhammad Nafis Khilmi, menjelaskan bahwa ADAPT-V mengadopsi metode DPT dengan memberikan tekanan terkontrol pada tubuh anak.

“Anak dengan ASD sering kali mengalami kesulitan dalam memproses rangsangan sensorik, yang dampaknya bisa memunculkan perilaku menangis, berteriak, menendang, hingga tindakan agresif yang membahayakan dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar. Melalui ADAPT-V, kami menerapkan metode Deep Pressure Therapy (DPT) dengan memberikan tekanan terkontrol pada tubuh untuk menghadirkan sensasi nyaman menyerupai pelukan hangat yang telah terbukti efektif memberikan efek relaksasi,” ujar Nafis.

Tampilan Rompi Pintar

Sebelum ADAPT-V dikembangkan, terapi tekanan sejenis dapat dilakukan menggunakan perangkat manual seperti Snug Vest. Namun, perangkat konvensional tersebut masih membutuhkan pengawasan orang tua atau terapis untuk mengatur tekanan secara manual.

Ketua tim pengembang, Zakky Yahya dari Program Studi Teknik Elektro UB, mengatakan ADAPT-V dirancang untuk mengatasi keterbatasan tersebut melalui sistem otomatis berbasis kecerdasan buatan (Machine Learning).

“Untuk mengatasi keterbatasan rompi manual, ADAPT-V dirancang bekerja secara otomatis dan bekerja secara real-time. Kami menanamkan sensor MAX30102 untuk mendeteksi denyut nadi jantung serta sensor MPU6050 untuk memetakan pola gerakan anak. Data dari kedua sensor fisik ini kemudian dianalisis secara cerdas oleh algoritma Support Vector Machine (SVM) guna mendeteksi secara presisi kapan anak mulai mengalami fase tantrum,” jelas Zakky.

Saat sistem mendeteksi fase tantrum, mikrokontroler ESP32 secara otomatis mengaktifkan micro air pump DC. Pompa tersebut kemudian mengisi kantung udara yang berada di dalam rompi sehingga menghasilkan tekanan pada tubuh anak.

Sistem pengaturan tekanan juga dirancang dengan mempertimbangkan aspek keamanan. Anggota tim dari Teknik Elektro, Sugih Rizkiawan, menjelaskan bahwa ADAPT-V menggunakan algoritma Proportional Integral Derivative (PID) yang terhubung dengan sensor tekanan MPX5100DP.

“Kunci keamanan rompi ini terletak pada kendali algoritma Proportional Integral Derivative (PID) yang terhubung dengan sensor tekanan MPX5100DP. Algoritma ini memastikan tekanan udara yang masuk ke tubuh anak tetap stabil pada batas aman yang ditentukan,” kata Sugih.

Ketika kondisi emosi anak kembali tenang, sistem akan mendeteksi perubahan tersebut dan membuka katup solenoid secara perlahan. Proses itu membuat tekanan udara di dalam rompi berkurang secara otomatis.

ADAPT-V tidak hanya mengandalkan sistem otomatis pada perangkat fisiknya. Rompi pintar tersebut juga terintegrasi dengan teknologi Internet of Things (IoT).

Data aktivitas anak dan respons rompi dikirimkan melalui koneksi Wi-Fi ke aplikasi pada smartphone. Fitur tersebut memungkinkan orang tua dan terapis memantau kondisi anak serta respons perangkat secara jarak jauh dan real-time.

Pengembangan ADAPT-V dilakukan melalui pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC). Tim berada di bawah bimbingan dosen Teknik Elektro UB, Ir. Nurussa’adah, M.T., serta dosen Kedokteran, Dr. dr. Agung Riyanto Budi S., SpOT.

Dosen pembimbing teknis, Ir. Nurussa’adah, M.T., menegaskan bahwa keamanan dan keandalan menjadi aspek utama dalam proses pengembangan dan pengujian ADAPT-V.

“Pengembangan ADAPT-V ini melalui tahapan pengujian yang sangat ketat, mulai dari akurasi sensor, respons algoritma klasifikasi emosi, hingga kestabilan sistem tekanan udaranya. Kami juga melibatkan evaluasi langsung dari para terapis di lembaga pendidikan inklusif demi menjamin aspek kenyamanan, keamanan medis, serta kemudahan operasional alat saat diaplikasikan langsung pada anak,” terang Nurussa’adah.

Melalui ADAPT-V, kelima mahasiswa UB berharap teknologi tersebut dapat dikembangkan menjadi solusi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi anak dengan ASD, orang tua, maupun terapis.

Inovasi ini sekaligus menunjukkan potensi kolaborasi lintas disiplin antara teknik elektro, kedokteran, dan psikologi dalam menghasilkan teknologi kesehatan yang mengedepankan aspek keamanan, kenyamanan, serta kebutuhan penggunanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *