Sketsamalang.com – Perjuangan menempuh pendidikan tinggi tidak selalu mudah. Bagi Usriana Tamja, mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang, kuliah menjadi jalan untuk mengangkat derajat kedua orang tuanya yang selama ini bekerja keras membiayai pendidikannya.
Usriana merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia berasal dari Flores, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di keluarganya, Usriana menjadi satu-satunya yang berhasil menempuh pendidikan tinggi.
Ia memilih Program Studi Teknik Kimia UNITRI. Selama menjalani perkuliahan, Usriana tidak hanya mengandalkan kiriman orang tua, tetapi juga bekerja sambilan di sebuah usaha laundry untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Motivasi terbesar saya kuliah di UNITRI adalah untuk mengangkat derajat kedua orang tua saya. Saya berasal dari keluarga yang kurang mampu,” ujar Usriana.
Perjuangan orang tuanya menjadi sumber kekuatan terbesar bagi Usriana. Sang ayah setiap hari bekerja mengumpulkan pasir di sungai untuk membiayai kuliahnya sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga.
“Bapak saya setiap hari bekerja untuk mengumpulkan pasir di sungai demi membiayai kuliah saya dan menghidupi keluarga,” katanya.
Saat musim hujan tiba, kondisi ekonomi keluarganya semakin menantang. Orang tuanya mengandalkan hasil kebun seperti kopi dan cokelat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kiriman uang untuk Usriana pun terbatas. Dalam sebulan, uang yang dikirimkan orang tuanya paling banyak sekitar Rp500 ribu. Bahkan, tidak jarang jumlahnya hanya Rp200 ribu hingga Rp250 ribu.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup di Malang, Usriana kemudian bekerja sambilan di laundry. Ia menghabiskan waktu sekitar lima hingga delapan jam setiap hari untuk bekerja.
“Setiap kali saya merasa lelah dengan perkuliahan, saya selalu mengingat perjuangan kedua orang tua saya. Mereka setiap hari berendam di air sungai, bahkan kadang dari pagi sampai sore lupa makan demi membiayai kuliah saya,” tuturnya.
Perjuangan tersebut akhirnya berbuah manis. Dalam Wisuda ke-52 UNITRI, Usriana dinobatkan sebagai Mahasiswa inspiratif.
Bagi Usriana, pencapaian tersebut bukan sekadar penghargaan pribadi. Prestasi itu menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti mengejar pendidikan.
Ingin Berdayakan Ibu-Ibu Desa
Setelah menyelesaikan pendidikan, Usriana tidak ingin berhenti pada pencapaian akademik. Ia bercita-cita membawa ilmu dan pengalaman yang diperolehnya di UNITRI untuk memberikan manfaat bagi masyarakat di kampung halamannya.
Salah satu rencana yang ingin dikembangkan adalah melanjutkan inovasi yang pernah dikerjakannya saat Kuliah Kerja Nyata (KKN), yakni mengolah limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi.
Usriana ingin melatih dan memberdayakan ibu-ibu di desanya agar mampu mengolah minyak jelantah menjadi produk bernilai ekonomi.
“Saya ingin memberikan dampak nyata kepada masyarakat dengan melanjutkan inovasi KKN saya. Saya ingin melatih dan memberdayakan ibu-ibu di desa untuk mengubah limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi,” jelasnya.
Menurutnya, inovasi tersebut memiliki dua manfaat sekaligus. Selain membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah, produk yang dihasilkan juga dapat dijual sehingga membuka peluang tambahan pendapatan bagi keluarga.
“Alasannya, saya ingin lingkungan mereka lebih bersih, tidak tercemar minyak jelantah, dan ekonomi keluarga mereka juga bisa terbantu dengan menjual hasil olahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi,” imbuhnya.
UNITRI Jadi Rumah Kedua
Usriana memilih UNITRI karena adanya dukungan beasiswa yang membantu meringankan biaya pendidikannya.
Selama menjadi mahasiswa, ia juga merasakan lingkungan kampus yang mendukung perjuangan mahasiswa dari berbagai daerah. Baginya, UNITRI bahkan sudah menjadi rumah kedua.
“Alasan saya memilih UNITRI karena biaya kuliahnya dibantu beasiswa. Saya rasa kampus ini sudah benar-benar menjadi rumah kedua bagi saya,” ungkapnya.
Selain bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah, Usriana mengaku mendapat dukungan dari para dosen. Menurutnya, para dosen menghargai perjuangan mahasiswa dan memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong Usriana untuk mengajak generasi muda di daerah asalnya agar tidak takut melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Untuk teman-teman yang berada di daerah saya atau di kampung saya, jangan pernah takut untuk kuliah, apalagi kuliah di UNITRI. Biaya perkuliahan di UNITRI sudah didukung banyak beasiswa,” pesannya.
Ia juga menilai lingkungan belajar di UNITRI sangat mendukung mahasiswa untuk menjalani perkuliahan.
“Lingkungannya juga sangat bagus. Dosen-dosennya baik dan tidak pernah menyusahkan mahasiswa,” pungkasnya.
Perjalanan Usriana menjadi pengingat bahwa pendidikan dapat diperjuangkan dengan ketekunan, kerja keras, dan dukungan keluarga. Dari Flores hingga Malang, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih cita-cita sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.






