Waktu Kenangan yang Hilang

Kala itu malam terasa sangat dingin. Dinginnya bukan sekadar hawa, namun hasrat yang membeku padat. Lampu-lampu gantung di atas berpendar hangat, tapi tidak dengan dada Kai. Pandangannya tertuju pada satu objek. Di sudut taman yang agak sepi, dia melihat Bunga, sahabat kecilnya. Sudah lama mereka berkawan baik hingga Kai sukses meraih impiannya. Mereka mengenal satu sama lain dengan baik. Bahkan tidak ada satu rahasia di antara mereka. Baik dan buruknya perjuangan hidup mereka lewati bersama. Saling menguatkan bersama. Dia berjalan pelan menuju Bunga, memberanikan diri menatap matanya. Kai yang bertubuh gagah dengan garis wajah tegas dan pembawaan yang bijaksana penuh karisma, malam itu membuang semua gengsinya. Berada dekat dengan Bunga selama bertahun-tahun perlahan mengubah rasa nyaman menjadi cinta yang teramat dalam. “Bunga..,” panggil Kai lembut, “Sedang apa kau di sini,” menggenggam jemari Bunga yang halus. Bunga yang heran menatap Kai dengan tanda Tanya. “Aku tidak bisa berbohong lagi. Aku mencintaimu. Lebih dari sakadar sahabat.” Bunga yang mendengar itu terdiam sejenak. Perempuan itu menyipitkan mata, lalu pelan-pelan menarik kedua tangannya dari genggaman Kai. Bunga merupakan sosok yang mencintai alam dan kebebasan. Selalu mengejar mimpinya tanpa ragu, tapi tahu batasan. Jiwanya terlalu mandiri untuk menjadi wanita manja. Baginya asmara tidak terlalu penting, yang terpenting adalah kebahagiaan yang diciptakan sendiri. “Kai,” ucap Bunga tetap lembut tapi sedikit tegas. “Jangan rusak apa yang sudah dilalui bersama. Aku memang menyanyangimu, tapi tidak lebih dari sekadar saudara.” Penolakan itu jelas, tanpa celah. Kai mendengar itu mencoba tersenyum meski hatinya remuk, hancur berkeping-keping. Namun, dia memilih menahan rapuh hatinya demi menjaga keberadaan Bunga di hidupnya.

Sejak saat itu, mereka sedikit menjaga jarak satu sama lain. Mereka masih berkomunikasi tapi hanya sebatas bertanya kabar. Hingga waktu memakan usia. Mereka dipertemukan kembali pada pekerjaan lapangan yang sama. Mau tidak mau mereka harus bekerja sama dan mengesampingkan perasaan canggung masing-masing. Tiba-tiba di tengah pekerjaan mereka, sebuah insiden yang tak terduga di area konstruksi, sebuah alat berat mendadak roboh. Sedangkan Kai berada tepat di jalur bahaya itu. Bunga tanpa berpikir jernih langsung bergerak reflex berlari ke arah Kai. Dengan dorongan kuat, Bunga menghempaskan tubuh Kai ke samping hingga jatuh. Brak! Suara benturan keras menggelegar, disusul dengan suasa hening yang mencekam. Semua terdiam sejenak dan mencoba melihat kejadian di depan dengan seksama. Kai yang mencoba bangkit dari aspal seketika menoleh, jantungnya seolah berhenti berdetak. Kai merasa darahnya memanas seperti lahar api. Bunga sahabatnya, terbaring tertancap sebatang besi besar di bagian dadanya. “BUNGA!” Jerit Kai histeris, suaranya pecah membelah belantara proyek. Tangisan keluar dari mulutnya tanpa bisa berkata banyak. Lehernya seperti dicekik kuat. Kai berlari menghampiri, memangku jasad wanita cantik itu yang terkulai lemas dengan tangan gemetar hebat. Darah segar membasahi tangan dan bajunya. “TOLONG!” SIAPA SAJA TOLONG!” teriaknya memecah hari bahagianya. Hari yang seharusnya ceria kini menjadi gelap. Air matanya menetes deras ke wajah Bunga yang pucat. Tidak lama mobil ambulan datang dan membawa tubuh Bunga ke rumah sakit. Di rumah sakit, waktu terasa sangat lama. Kai yang gelisah dan takut berjalan bolak-balik di lorong dengan pakaian yang penuh noda darah. Saat pintu ICU terbuka, Kai mengira dia akan bisa bernapas lega, namun dokter keluar dengan wajah tertunduk. Kai yang mengerti langsung lemas. “Maafkan kami, Pak… kami hanya manusia biasa, tidak bisa mengubah takdir Tuhan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi gagal.” Kalimat itu menjadi akhir dari dunia Kai. Dunianya berantakan. Dia menjadi sosok pemurung dan kehilangan arah.

Tahun demi tahun berganti, hingga Kai menginjak usia tiga puluh enam tahun. Kini dia telah menikah dengan seorang wanita yang tidak kalah cantiknya. Sabar dan penyayang, maya namanya. Kai dan Maya dikaruniai seorang anak perempuan lucu yang sudah berusia dua tahun. Namun, bayang-bayang masa lalu tidak pernah benar-benar hilang. Sering kali Kai mencoba segala cara untuk menghapus kenangan berat itu, tapi selalu gagal. Hingga dia putus asa, dan menaruh sebagian kenangannya di anaknya sendiri. kai memberi nama putri kecilnya Kenanga. Awalnya keputusan nama itu Kai berikan tanpa sepengetahuan Maya. Akhirnya rasa penasaran menumpuk di hati Maya. Rasa cemburu dan merasa tidak dianggap oleh Kai menjadi alasan Maya marah. Maya merasa menjadi pihak kedua di antara keluarga kecilnya sendiri.

Sampai pada suatu sore, Maya nekat mendatangi makam Bunga yang selama ini dia cari secara diam-diam tanpa sepengetahuan Kai. Maya mengumpulkan semua informasi tentang Bunga dan mencari jawaban mengapa suaminya selalu melamun di kala hening. Di depan batu nisan bertuliskan nama perempuan yang pernah menyelamatkan suaminya itu, Maya berlutut. “Maafkan jika aku lancang datang ke sini. Kenapa kamu harus tetap ada di antara kami?” bisik Maya, air matanya menetes jatuh meresap ke tanah makam. “Aku paham dan tahu, kamu menyelamatkan nyawanya, tapi sampai kapan suamiku harus hidup bersama kenangan kalian berdua? Aku juga ingin dicintai utuh oleh suamiku..” Maya masih terisak, meluapkan semua rasa sedih yang selama ini dia pendam sendiri. Bertahun-tahun sudah dia mencoba tegar dan kuat. Setelah selesai mengadu, Maya kembali pulang dan melakukan aktifitas seperti biasa. Memasak dan melayani suaminya tercinta.

Malam pun tiba, Kai yang lelah langsung terlelap tidur. Dalam lelap itu, dia terbangun di sebuah taman yang luas penuh dengan bunga cantik, tetapi terasa sepi dan hampa. Sejenak dia melihat sekeliling dan mendapati sosok yang selama ini dia rindukan. Dia, sosok Bunga dengan gaun putih bersih, rambut panjang hitamnya yang indah menatapnya datar. Pandangannya tajam dan penuh kekecewaan. Tampak seperti marah namun masih terlihat lembut. Sebelum Kai melangkah maju dan-PLAK! Satu tamparan keras mendarah di pipi Kai. Terasa nyata dan sakit. “Apa kau sudah gila, dasar bodoh!” bentar Bunga pada Kai, suaranya bergema. “Sudahi masa lalumu. Untuk apa kamu hidup di masa lalu sementara ada wanita tulus yang menunggumu pulang?! Istrimu menangis di makamku hari ini karena kelakuanmu!” Kai yang kaget belum bisa menyangkal perkataan Bunga.”Jangan menyakiti wanita yang mencintaimu hanya karena kamu gagal melepas sosok yang sudah tidak ada!” lanjut Bunga pada Kai. Kai tertegun, pipinya terasa panas, tapi hatinya jauh lebih sakit, kotak rapuh dihatinya terbuka dan menghamburkan kesedihan yang selama ini menjadi alasan Kai melamun. Kai sadar betapa egoisnya dia selama ini. Air matanya menetes deras. “Bunga, aku menderita! Aku menderita karena kepergianmu. Itu membuatku gila.!” Kata Kai sambil terisak. “Maafkan aku, bunga.. maafkan aku,” bisik Kai gemetar. Dengan napas tersengal, Kai menatap mata sahabatnya itu dan memohon satu hal terakhir. “Bolehkah aku meminta satu hal. Tolong… cuma ini yang aku minta sebelum aku melepasmu seutuhnya, dan pergi meninggalkanku. Beri aku satu pelukan ikhlas terakhir.” Bunga yang melihat Kai seperti itu tanpa sadar juga meneteskan air matanya yang jernih. Bunga menghela napas panjang, lalu perlahan merentangkan kedua tangannya yang mulus. Kai maju ke pelukan Bunga. Dekapan itu terjadi, sebuah pelukan hangat tanpa rasa canggung. Erat dan penuh pelepasan. Tiba-tiba bunga bertanya satu hal pada Kai, “Siapa nama putrimu, aku ingin tahu,” ucap Bunga pelan. Kai terdiam sejenak dan berkata “Dia ku beri nama Kenanga. Jika kau bertanya alasannya hanya ada satu yaitu kenangan bunga dan kai, kau dan aku,”balas Kai yang masih memeluk bunga dengan menangis. Bunga sedikit tersenyum dalam pelukannya. Tidak ada lagi rasa cinta yang tak terbalas, tidak ada lagi penyesalan. Yang ada hanya keikhlasan untuk saling melepaskan. “Pergilah, Kai. Bahagiakan keluarga kecilmu,” bisik Bunga tepat di telinganya.

Pada saat itu juga, Kai terbangun dari tidurnya dengan napas memburu dan pipi yang basah oleh air mata. Dia menoleh ke samping, melihat Maya yang tertidur pulas. Hingga waktu fajar datang, Kai memeluk istrinya lembut dengan rasa kasih sayang. Dia siap untuk mencintai dengan utuh dan membiarkan kenangan Bunga beristirahat di lorong hatinya yang dalam. Tanpa sadar Bunga yang melihat peristiwa itu tersenyum dari kejauhan. Dan berlahan hilang dari dunia fana. “Lanjutkan hidupmu, Kai. Aku baik-baik saja, selamat tinggal.” Tamat.

Tenanglah jiwaku, kau tercipta untuk bebas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *