Aku ingat kemarin adalah hari dimana duniaku mulai melangkah ke tahap yang lebih serius. Tidak lagi tentang pekerjaan, kali ini tentang bagaimana aku menerima akan adanya kepercayaan yang abadi. Kehangatan coklat semalam masih menyisa di sudut bibirku. Terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda, semacam letupan kecil yang menyenangkan di dada. Antara kebahagiaan juga penasaran yang menjadi satu. Kakiku melangkah dan berhenti di depan jendela kamar. Membuka jendela dan menyapa cerahnya mentari dan suara burung berkicau. Di atas meja kayu dekat jendela, kotak kecil pemberian pria itu masih ada. Tersisa kue strawberry dengan selai coklat diatasnya menambah rasa yang unik. Kue itu seolah memanggilku untuk segera menikmatinya. Tidak lupa dengan secangkir minuman hangat di pagi hari. Ketika minuman hangat bertemu manisnya hidangan lezat, serta aroma manis yang menenangkan langsung menguar, memenuhi setiap sudut kamar. Aku membawanya ke beranda, menikmati dua hidangan ini perlahan sembari melihat pemandangan yang menyejukkan mata. Kabut yang menyelimuti desa mulai sedikit hilang di sapu angin. Benar katanya, tidak ada yang lebih nikmat daripada waktu bersantai dengan hal yang kamu sukai. Kue ini memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi untuk menghadirkan suasana baru. Dan entah mengapa, aku tiba-tiba teringat bagaimana tatapan pria itu menghadirkan getaran dalam dada ini. Matanya binar seperti mutiara yang menemukan rumahnya. Langkah kakiku terasa lebih ringan. Entah karena efek bahagia, atau karena secercah harapan tersembunyi bahwa aku mungkin akan berpapasan lagi dengannya.
Sore telah tiba, magnet yang tidak terlihat kembali menarikku untuk ke kedai yang sama. Saat itu, suasana masih tetap teduh dan sejuk persis seperti kemarin. Namun, kali ini aku datang tidak hanya untuk memesan. Mataku secara otomatis mencari-cari sudut meja tempat ia duduk malam itu. Kosong. Ada sedikit kekecewaan yang aku tidak tahu itu apa. Rasa itu menyelusup, membuatku menertawakan diri sendiri dalam hati. Sungguh apa yang aku tunggu ? . Sambil terkekeh aku membalikkan badanku berniat untuk kembali pulang dan membuat konsep ide baru. Tapi sebelum aku berbalik ada seseorang yang mengejutkanku berkata “Menikmati Vanilla lagi, atau mau mencoba coklat panas hari ini?”. Sebuah suara familier itu jelas di telingaku. Aku melihat ke arah depan dan mendapati pria kemarin sedang tersenyum. Membawa tas yang aku yakin ia habis bekerja.
Pria itu membawaku ke meja dekat kasir, menyuruhku untuk menunggu saat ia pergi memesan. Membawa dua cangkir yang mengepulkan asap tipis. Senyum hangatnya yang membuat matanya menyipit jenaka kembali hadir. Mata yang membuat candu, dan berani meruntuhkan tembok raksasa hatiku. “Ini, aku tahu kesukaanmu. Aku sengaja datang ke sini lagi. Karena aku tahu kau akan kembali,” ujarnya sembari menggeser kursi di hadapanku, meminta izin secara tersirat untuk bergabung menemani.”Sebab keheningan sore ini akan jauh lebih sempurna jika dinikmati bersama secangkir coklat dan…. seseorang spesial untuk mengobrol,”. Aku tersenyum malu, dan menerima cangkir itu. Dinginnya desa kala itu mulai turun mendadak tak lagi terasa, tergantikan oleh obrolan-obrolan menarik.
Tidak terasa malam telah menghampiri. Aku berinisiatif untuk mengakhiri percakapan kami berdua. “Baiklah, tapi bolehkan aku mengantarkanmu pulang,” katanya sambil beranjak dari kursi. Aku mengiyakan ajakannya sebagai bentuk menghargai orang yang telah menemaniku hari ini. Di perjalanan pulang ia sedikit cerita bahwa dirinya sudah mengabdikan hidupnya untuk desa selama empat tahun. Jauh sebelum aku pindah ke sini. Ternyata ia bekerja sebagai dokter umum. Meski hanya dokter umum, tidak ada penyesalan selama ia bekerja. Justru selama bekerja dia mengerti dunia baru. Seperti melihat kehidupan masyarakat yang jauh dari kota secara langsung. Menurutnya, kebahagiaan sejati tidak pernah diukur dari seberapa lama kamu mengabdi, melainkan dari seberapa megah hatimu untuk bisa menyentuh dan berarti bagi kehidupan orang-orang di sekitar kita. Kesederhanaan warga desa dan ketulusan mereka dalam menerima kehadirannyalah yang membuat pria itu betah bertahan hingga empat tahun lamanya.
Langkah kaki kami beriringan membelah jalanan desa yang mulai sepi. Hanya ada suara hewan malam dan gesekan dedaunan yang tertiup angin pelan. Anehnya, aku tidak merasa cemas dan takut, malam ini justru aku merasa aman. Kehadirannya memberi rasa hangat yang bahkan bertahan lama ketimbang secangkir coklat panas yang kami nikmati bersama tadi. Tidak terasa, langkah kami telah sampai di depan rumahku. Aku menatapnya tulus yang jarang ku perlihatkan pada orang asing. “Terima kasih sudah mentraktir dan mengantarku pulang,” kataku dengan lembut. Pria itu membetulkan letak kacamatanya, lalu tersenyum dan mengatakan “Sama-sama.Oh iya, karena kita sudah menjadi teman mengobrol, rasanya tidak adil jika kita belum saling tahu nama. Aku Adrian.” Ia mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya. “Aku Karen. Terima kasih Adrian,” kataku. Tepat sebelum aku melepas genggamannya, ia menatapku dan menahan jemariku sedetik lebih lama. “Sampai bertemu besok sore di kedai yang sama… Fleur.” Aku tertegun. Bagaimana bisa dia tahu nama penaku, padahal kami baru saja bertemu ?. Saat itulah, Kedai tersebut menjadi tempat ku melepas lelah. Membawaku ke harapan yang akan datang esok hari.
Bersambung……..






