Saat itu aku sedang berjalan santai di pagi hari. Waktu fajar sudah lewat dan matahari pelan-pelan muncul dengan cerah. Tidak panas tapi terasa sejuk. Apa mungkin karena di desa banyak pohon yang rindang, juga lingkungan yang asri. Namaku Karen, aku berasal dari kota yang jauh dari desa. Awal aku pindah ke desa karena menurutku aku bisa hidup tenang dan damai tanpa ada drama. Bukan berarti di perkotaan tidak baik. Hanya saja aku menemukan rumahku disini. Di desa aku tinggal seorang diri, orang tuaku tetap tinggal di kota bersama ketiga saudaraku. Mulanya orang tuaku khawatir jika aku hidup di sebuah desa seorang diri. Terlebih desa yang baru aku kunjungi. Namun, aku berhasil menyakinkan mereka. Terkadang mereka mengunjungi aku disini, atau sebaliknya.
Tentu saja dengan pilihan ini aku tidak datang dengan tangan kosong. Aku tetap menjalankan pekerjaanku dengan baik. Aku seorang penulis dan media sosial manajer. Pekerjaanku santai dan bisa dilakukan dimana saja. Meski santai tapi tidak mudah, harus profesional, bisa menerapkan composed and dependable. Adakalnya jika aku bosan dan jenuh aku keluar rumah untuk mencari angin segar di sore hari. Menurutku sore hari adalah waktu yang pas untuk menghilangkan stress. Lalu, pada malam hari adalah waktu dimana aku harus mencari ide baru, ditemani dengan minuman atau dessert. Terutama rasa cokelat seperti hot hazelnut chocolate. Iya, aku menyukai coklat dan vanilla. Makanan apapun rasa coklat dan vanilla aku selalu suka. Bahkan aku pernah dinasihati ibu agar mengatur pola makanan manisku. Tapi aku juga tidak lupa untuk minum air putih yang cukup.
Bagiku aroma harum dari secangkir cokelat panas berhasil menghangatkan setiap langkahku. Sebuah penawar tenang di kala senja dan embun. Hingga pada suatu saat aku sedang menelusuri desa, aku melihat sebuah kedai kecil. Tidak banyak pengunjung, mungkin hanya satu atau dua orang. Aku memasuki kedai itu dengan tujuan ingin menenangkan diri. Dan aku melihat ada satu meja yang tak pernah berpindah perhatiannya. Seorang pria dengan baju santai, celana hitam selutut, dan kaca mata yang menambah kesan yang cerdas. Sepertinya pria itu menyukai ketenangan sama dengan diriku. Aku duduk di salah satu meja yang kosong, tidak jauh darinya. Aku akui suasana saat itu sangat teduh. Angin yang berhembus pelan menyentuh kulitku hingga ingin terlelap nyenyak.
Padanganku melihat ke arah luar jendela, tapi seperti ada yang memperhatikanku. Saat aku menoleh, aku melihat pria itu sekilas menatapku dan memalingkan wajah saat aku menyadarinya. Aku hanya tersenyum dan kembali menikmati vanilla dinginku. Waktu sudah hampir melewati jam tujuh malam. Setelah aku puas menikmati waktu sendiriku, aku beranjak dan ingin segera pulang ke rumah. Saat aku melangkah keluar, sebuah panggilan terdengar oleh telingaku,” Apa kau tinggal di sini,” kata pria itu. Aku menjawab sewajarnya saja, bagaimana pun juga kita harus berhati-hati mengenal seseorang, terlebih orang asing. Pria itu memberikan bingkisan padaku, dan tersenyum hangat hingga matanya menyipit jenaka. “Cokelat ini selalu punya rasa tanggung jawab yang tinggi, seperti wanita yang ada di hadapanku. Menenangkan.” Ujarnya membuatku tersipu malu.
Percakapan singkat yang jujur itu justru menjadi awal. Awal dari sebuah hubungan baru di masa depan. Yang mungkin akan menjadi kisah dalam perjalanan hidupku. Lewat kehangatan secangkir cokelat. Aku tahu bahwa aku telah menemukan pria yang selama ini aku cari. Seseorang yang menghargai keheningan sepertiku, dan tidak mengahakimi kesendirianku. Pria itu memiliki binar mata yang mampu mencairkan dinginnya malam di desa ini.






