Aku Tahu Kamu Bisa Melihatku

Setiap orang memiliki nyalinya masing-masing. Semua tergantung dari aura dan kekuatan energi individu. Namun, bisakah mereka melawannya. Simak cerita dibawah ini.

######

Aku memakirkan motorku di samping rumah. Tepat di sebelah gudang yang biasa ayah pakai untuk menaruh benda usang. Malam itu, aku sedang sendirian di rumah. Keluargaku pada pergi dengan urusannya masing-masing. Orang tuaku pergi ke sanak saudara yang sakit. Sedang kakak perempuanku ke luar kota. Aku memasuki rumah yang sepi dan menyalakan lampu di setiap ruangan.

Jam dinding tua di dekat ruang makan baru saja berdenting tiga kali. Jam menunjukkan pukul 10.13 malam. Suara logamnya yang sedikit berdengung panjang seolah membelah keheningan rumah dua lantai yang sudah berdiri sejak era kolonial ini. Aku bergegas membersihkan diri dan makan malam. Karena tidak bisa menahan lelah dan kantuk aku tertidur di sofa ruang tengah.

Rasa haus di tenggorokanku membangunkan aku menuju dapur. Langkahku terasa berat seperti menarik beban. Bahuku terasa panas seperti ada percikan api. Rasanya aneh, meski dapur sangat dekat tapi aku merasa sangat lama untuk bisa sampai ke arah dapur.

Tiba-tiba langkahku terhenti, leherku kaku dan ada sensasi dingin tidak wajar. Seperti es (?). Aku merasa ada angin malam menusuk kulitku lewat celah jendela, membuat bulu kudukku merinding. Samar-samar aku mencium bau tanah basah bercampur amis seperti bangkai. Pelan-pelan aku melihat sekeliling dan sekilas mendengar suara ketukan halus dari balik lemari pakaian di kamar tempat tidur orang tuaku.

Tek… tek… tek…

Pelan, konstan, dan teratur. Aku diam dan terpaku. Mataku terbuka oleh tetesan keringat yang membasahi wajahku. Napasku seperti tertahan. Berusaha menyakinkan diri bahwa semua ini hanya mimpi. Berpikir jika suara ketukan itu berasal dari tikus yang menggerogoti kayu lapuk. Tapi ketukan itu mendadak berhenti, berganti dengan suara seretan kain basah yang bergeser pelan di lantai kayu.

Sret… sret… sret… sret…

Aku mendengarnya empat kali seretan. Arah suaranya bukan menjauh, melainkan mendekat ke sisi sampingku. Seperti membeku, badanku tidak bisa ku gerakkan. Namun, dengan jantung yang berdetak kecang, aku menginjak kakiku dengan keras, sehingga aku bisa sadar dan lari.

Aku berlari ke arah kamarku, membanting pintu dan menarik selimut sampai menutupi badanku. Tubuhku basah oleh keringat, jangankan bergerak, untuk bernapas pun rasanya udara mengkristal di paru-paru, sulit. Dari balik bayangan lampu kuningku, di sudut ruang, dua celah matanya terlihat. Tidak berpupil, hanya putih keruh sedikit berurat merah. Memantulkan kesan amarah.

Aku melihat sosok laki-laki wajahnya membiru, hancur di bagian pipi kiri seolah pernah terbentur benda keras, mulut terkoyak lebar membentuk seringai yang menyeramkan. Sosok itu membungkuk, merangkak ke arahku. Napasnya berbau busuk, dan dingin berembus langsung ke permukaan kulitku. Tidak sadar air mataku membasahi pipiku. Aku memejamkan mata rapat-rapat. Merapal doa apa saja yang aku ingat. Dalam hati aku berteriak “ini cuma mimpi. Bangun, cepat bangun!”

Lalu, sebuah bisikan serak, basah, patah-patah yang seakan tertahan terdengar tepat di lubang telinga kananku “Jangan pura-pura tidur.. aku tahu kamu bisa melihatku.”

Belum sempat aku berteriak, jemari licin dan amis seprti daging busuk membelenggu leherku, menekan tenggorokan hingga tak ada sedikit pun celah udara. Aku berusaha untuk melawan, dan mendapati kakakku yang membuka selimutku.

“Kamu ini kenapa berteriak, aku tidak bisa tidur karena suaramu.” Jantungku sedikit tenang karena ternyata kakakku lah yang menyadarkanku.

Tapi tunggu sebentar, bukan kah… kakakku…
Belum sempat aku menyelesaikan pikiranku, hp ku bergetar.

Breet… Breet…. Brett….
Panggilan dari Kak Chika….

“Aku sudah bilang, kamu bisa melihatku, kan?”

End

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *