Sketsamalang.com, MALANG – Memasuki Oktober 2026, masyarakat Jawa Timur, khususnya Malang Raya, diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca selama masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Cuaca panas yang masih berpotensi terjadi, hujan mendadak, hingga angin kencang perlu diantisipasi karena dapat mengganggu aktivitas dan berdampak pada kesehatan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar memperhatikan dinamika cuaca selama periode pancaroba. Pada masa ini, kondisi cuaca dapat berubah dalam waktu singkat, mulai dari panas terik pada siang hari hingga hujan yang disertai petir dan angin kencang.
Selain meningkatkan risiko gangguan aktivitas dan bencana hidrometeorologi, perubahan kondisi lingkungan juga membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan kesehatan dan kebersihan lingkungan.
Berikut lima hal yang perlu diwaspadai masyarakat selama masa pancaroba.
1. Cuaca Panas Masih Berpotensi Terjadi
Meski sebagian wilayah mulai memasuki peralihan menuju musim hujan, suhu udara masih dapat terasa panas. Kondisi ini perlu diperhatikan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.
Paparan panas berlebihan dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan, hingga gangguan akibat panas. Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat dianjurkan mencukupi kebutuhan cairan, mengenakan pakaian yang nyaman, serta membatasi aktivitas fisik berat saat matahari terik.
Jika harus beraktivitas di luar ruangan, usahakan mencari tempat teduh secara berkala dan segera beristirahat apabila tubuh terasa lemas atau mengalami pusing.
2. Hujan Mulai Turun, Waspadai Genangan
Peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah dapat menjadi salah satu indikasi berlangsungnya peralihan musim. Namun, waktu awal musim hujan dan intensitas curah hujan dapat berbeda di setiap daerah.
Masyarakat yang bepergian disarankan menyiapkan payung atau jas hujan serta memantau kondisi cuaca sebelum berangkat. Pengendara juga perlu mengurangi kecepatan ketika jalanan basah agar risiko kecelakaan dapat diminimalkan.
Di lingkungan tempat tinggal, kebersihan saluran air perlu dijaga untuk mencegah genangan. Wadah yang dapat menampung air hujan juga sebaiknya diperiksa secara rutin karena berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
3. Waspadai Hujan Lebat, Petir, dan Angin Kencang
Perubahan cuaca yang cepat menjadi salah satu hal yang perlu diantisipasi selama pancaroba. Hujan lebat berdurasi singkat, petir, dan angin kencang dapat terjadi dalam kondisi tertentu serta berpotensi menimbulkan dampak bagi masyarakat.
Ketika hujan disertai petir dan angin kencang, masyarakat sebaiknya menghindari berteduh di bawah pohon, menjauhi papan reklame, serta menghindari bangunan atau struktur yang berisiko roboh.
Pengendara sepeda motor juga disarankan mencari tempat aman untuk berhenti apabila jarak pandang berkurang atau angin bertiup kencang. Hindari memaksakan perjalanan ketika kondisi cuaca membahayakan keselamatan.
Warga yang tinggal di kawasan rawan banjir, tanah longsor, atau pohon tumbang perlu meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi peringatan dini dari pihak berwenang.
4. Kenali Penyakit yang Perlu Diwaspadai saat Pancaroba
Perubahan cuaca dan kondisi lingkungan selama pancaroba membuat masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh serta memperhatikan kebersihan. Sejumlah gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), influenza, demam berdarah dengue (DBD), diare, dan gangguan kulit.
ISPA dan influenza dapat menimbulkan gejala berupa batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, dan tubuh terasa lemas. Penularannya berkaitan dengan infeksi virus atau bakteri, sehingga masyarakat perlu menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk, dan menghindari kontak dekat ketika sedang sakit.
Demam berdarah dengue (DBD) juga perlu mendapat perhatian, terutama ketika terdapat genangan air yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Pencegahan dapat dilakukan melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air.
Diare dapat dicegah dengan mencuci tangan menggunakan sabun, mengonsumsi makanan matang dan higienis, serta memastikan air minum aman untuk dikonsumsi.
Sementara itu, gangguan kulit dapat muncul akibat kelembapan tinggi, keringat berlebih, atau paparan mikroorganisme di lingkungan yang lembap. Menjaga kebersihan tubuh, mengenakan pakaian bersih, dan mengganti pakaian yang basah dapat membantu mengurangi risiko.
Untuk menjaga kesehatan, masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, beristirahat cukup, berolahraga sesuai kondisi tubuh, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Jika mengalami demam tinggi, sesak napas, tanda dehidrasi, atau gejala yang semakin memburuk, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
5. Pantau Informasi Cuaca dari BMKG
Kewaspadaan selama pancaroba perlu disertai kebiasaan memantau informasi cuaca secara berkala. Masyarakat dapat mengakses prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, termasuk informasi khusus wilayah Jawa Timur.
Informasi tersebut penting sebagai bahan pertimbangan sebelum melakukan perjalanan, menggelar kegiatan di luar ruangan, atau menjalankan aktivitas di wilayah yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem.
Selain itu, masyarakat perlu menjaga kebersihan lingkungan, memastikan saluran air tidak tersumbat, serta mengenali potensi bahaya di sekitar tempat tinggal.
Dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca, menerapkan pola hidup sehat, dan mengikuti informasi resmi dari BMKG, masyarakat Malang Raya diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan maupun dampak cuaca ekstrem selama masa peralihan musim.







