FTAB Kembangkan Inovasi Air Kondensat Dehumidifier Jadi Pengganti Akuades, Hemat dan Ramah Lingkungan

Sketsamalang.com – Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) sukses mengembangkan inovasi pemanfaatan air kondensat dehumidifier sebagai alternatif pengganti akuades untuk chamber sonikator dan waterbath di laboratorium pada Juni 2026. Langkah ini diambil sebagai bentuk nyata dukungan terhadap program konservasi air dan perwujudan green campus di lingkungan universitas.

Selama ini, laboratorium sangat bergantung pada akuades (air hasil destilasi) untuk menjaga performa alat analitis. Namun, proses produksi akuades konvensional terkenal boros energi dan memakan biaya operasional yang tidak sedikit.

Melalui serangkaian pengujian, tim laboran FTAB UB menemukan bahwa kualitas air hasil pengembunan udara (dehumidifier) ternyata setara dengan akuades. Inovasi ini tidak hanya menekan biaya pengadaan bahan laboratorium, tetapi juga menyulap limbah cair yang biasanya dibuang sia-sia menjadi komoditas bernilai guna tinggi.

Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, S.T.P., M.App.Life.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa terobosan ini merupakan bukti komitmen riset yang berorientasi pada lingkungan.

“Inovasi ini adalah contoh nyata komitmen FTAB UB dalam mendukung program *green campus* dan konservasi air,” ujar Prof. Yusuf.

Lebih lanjut, Prof. Yusuf menjelaskan mengapa laboratorium tidak bisa menggunakan air keran biasa. Air keran mengandung mineral tinggi yang memicu terbentuknya kerak pada komponen sensitif seperti *waterbath* dan sonikator. Endapan tersebut dapat mengganggu kestabilan suhu, menurunkan akurasi analisis, serta memperpendek umur alat.

“Oleh karena itu, *waterbath* dan sonikator umumnya diisi dengan akuades untuk meminimalkan risiko terbentuknya kerak. Namun, karena harga akuades relatif tinggi, diperlukan alternatif sumber air lain yang tetap memenuhi syarat,” jelasnya.

Pemanfaatan air kondensat dari sistem pendingin udara maupun dehumidifier hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut. Ke depan, pihak fakultas optimistis gerakan efisiensi ini bisa ditiru oleh institusi lain.

“Kami berharap inovasi ini dapat diaplikasikan di laboratorium-laboratorium lainnya dan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi air,” pungkas Prof. Yusuf.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *