Sketsamalang.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat pengembangan energi terbarukan melalui inovasi varietas tanaman jarak pagar JCUMM5 yang telah memperoleh Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dari Kementerian Pertanian sejak 2018. Untuk memastikan karakter unggulnya tetap terjaga, UMM menjalani monitoring dan evaluasi (monev) pada 4 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat hilirisasi riset bioenergi.
Monitoring dilakukan di kebun budidaya seluas dua hektare di Dusun Dawuhan Dam, Desa Kedungpengaron, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan. Tim dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) memeriksa berbagai karakter morfologi tanaman, mulai dari tinggi tanaman, bentuk daun, ukuran tangkai, hingga lekukan daun.
Pemeriksaan tersebut bertujuan memastikan seluruh karakteristik JCUMM5 tetap sesuai dengan data awal saat varietas didaftarkan memperoleh perlindungan.
Kepala Sentral Hak Kekayaan Intelektual (HKI) UMM, Nur Putri Hidayah, A.Md., S.H., M.H., mengatakan monitoring dan evaluasi merupakan kewajiban pemegang hak PVT yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali.
“Tujuan pelaksanaan monitoring dan evaluasi adalah memastikan objek tanaman yang telah dimuliakan dan dilindungi masih memiliki karakteristik yang sama seperti saat pertama kali didaftarkan ke Kementerian Pertanian,” ujarnya.
Pemulia varietas JCUMM5, Dr. Ir. Agus Zainudin, M.P., menjelaskan bahwa varietas jarak pagar hasil pengembangan UMM diproyeksikan sebagai sumber bahan baku energi terbarukan yang mampu mendukung transisi energi nasional.
Menurutnya, biodiesel berbasis minyak jarak pagar memiliki keunggulan dibandingkan biodiesel berbahan minyak sawit. Minyak jarak pagar memiliki Cloud Point (CP) sebesar 4,0 derajat Celsius dan Pour Point (PP) minus 3,0 derajat Celsius, sehingga lebih tahan terhadap suhu rendah dan tidak mudah mengkristal.
“Keunggulan ini membuat minyak jarak pagar lebih potensial dimanfaatkan sebagai bahan bakar nabati, terutama di wilayah bersuhu rendah atau subtropis, dibandingkan biodiesel berbasis minyak sawit,” kata Agus.
Selain itu, struktur asam lemak minyak jarak pagar memiliki stabilitas oksidasi yang baik, tingkat keasaman rendah, serta nilai Cold Filter Plugging Point (CFPP) yang lebih baik dibandingkan minyak sawit.
Tak hanya berpotensi menjadi bahan baku biodiesel, JCUMM5 juga dapat dikembangkan menjadi bioavtur dan biolubrikan. Budidayanya pun tidak bersaing dengan tanaman pangan karena mampu tumbuh di lahan kering maupun lahan marginal.
“Tanaman jarak pagar memberikan peluang besar untuk mendukung pengembangan energi terbarukan tanpa mengganggu kebutuhan pangan, sehingga memiliki prospek yang baik sebagai sumber energi masa depan,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menilai pengakuan terhadap JCUMM5 menjadi bukti kapasitas riset UMM di bidang pemuliaan tanaman sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengembangan bioenergi nasional.
Menurutnya, inovasi tersebut tidak hanya menghasilkan varietas baru, tetapi juga menjadi solusi atas tantangan energi yang dihadapi Indonesia.
“Yang dihasilkan Pak Agus Zainudin ini menjadi inspirasi bagi sivitas akademika untuk peka terhadap persoalan bangsa. Dari situ lahir kajian dan inovasi yang mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Salis berharap keberhasilan JCUMM5 mampu mendorong lebih banyak dosen dan mahasiswa UMM menghasilkan inovasi yang berdampak luas serta memperkuat hilirisasi hasil riset. Dengan semakin banyaknya varietas tanaman dan teknologi yang memperoleh perlindungan hak kekayaan intelektual, kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan energi terbarukan nasional diyakini akan semakin besar. (*)






