Dosen UB Kembangkan Teknologi Ozon dan Hipobarik untuk Tekan Kehilangan Pascapanen Tomat Ceri

Sketsamalang.com – Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan teknologi untuk menekan kehilangan hasil hortikultura setelah panen. Melalui Program Dosen Berkarya 2026, tim dosen UB memadukan perlakuan ozon dengan penyimpanan hipobarik untuk mempertahankan mutu tomat ceri selama penyimpanan.

Riset yang berlangsung pada Juni hingga Agustus 2026 tersebut dilaksanakan melalui skema Joint Research and Publication bersama Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu serta Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (PLUT KUMKM) Kota Batu.

Tim penelitian dipimpin Dr. Dewi Maya Maharani, STP., M.Sc., dengan anggota Putri Setiani, ST., MES., PhD., Annisa Rosadilla, Kien Ratu Paramartha, Nurbianto Puji Mastoto Ika, dan Yossi Hendrawan Saraswanto.

Dewi menjelaskan, tomat ceri dipilih karena memiliki nilai ekonomi dan kandungan gizi yang tinggi. Namun, komoditas tersebut relatif cepat mengalami penurunan mutu setelah dipanen.

“Setelah dipanen, tomat masih melakukan respirasi dan terus mengalami perubahan fisiologis. Jika penanganannya kurang tepat, warna dapat berubah, kandungan vitamin menurun, dan mikroorganisme tumbuh lebih cepat,” jelas Dewi, Selasa (25/8/2026).

Kondisi tersebut dapat memperpendek masa pemasaran sekaligus meningkatkan risiko kerugian bagi pelaku usaha. Karena itu, tim UB menguji kombinasi teknologi ozon dan penyimpanan bertekanan rendah atau hipobarik.

Dalam penelitian ini, ozon digunakan dalam dua bentuk, yakni gas ozon dan air terozonasi. Perlakuan tersebut diberikan pada tahap awal untuk membantu mengendalikan mikroorganisme di permukaan tomat.

Setelah mendapatkan perlakuan awal, tomat ceri disimpan dalam tiga variasi tekanan, yakni 26, 64, dan 101 kilopascal (kPa). Tekanan 26 dan 64 kPa mewakili kondisi hipobarik, sedangkan 101 kPa digunakan sebagai pembanding pada tekanan atmosfer normal.

Pada kondisi hipobarik, ketersediaan oksigen di ruang penyimpanan berkurang sehingga laju respirasi produk dapat diperlambat. Tim kemudian memantau sejumlah parameter mutu, seperti perubahan warna, total padatan terlarut, kadar air, kandungan vitamin C, serta pertumbuhan jamur.

Tomat Ceri

Pengamatan warna dilakukan menggunakan sistem computer vision dan kamera. Sementara itu, total padatan terlarut diukur dengan refraktometer dan kandungan vitamin C dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis.

Hasil pengujian menunjukkan tekanan 26 kPa memberikan hasil paling menjanjikan. Pada kondisi tersebut, total padatan terlarut tomat ceri dapat dipertahankan sebesar 5,06 °Brix. Nilai tersebut menjadi salah satu indikator bahwa karakteristik komponen terlarut yang berkaitan dengan cita rasa masih dapat dipertahankan selama penyimpanan.

Perlakuan ozon juga menunjukkan potensi dalam mempertahankan kandungan vitamin C. Tomat ceri yang diberi perlakuan gas ozon memiliki kandungan vitamin C sebesar 43,99 mg/100 gram. Sementara itu, perlakuan air terozonasi menghasilkan 42,13 mg/100 gram. Adapun sampel tanpa perlakuan ozon memiliki kandungan vitamin C sebesar 34,62 mg/100 gram.

Selain mempertahankan kandungan gizi, kombinasi gas ozon dan penyimpanan pada tekanan 26 kPa menghasilkan jumlah koloni jamur paling rendah.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kedua perlakuan dapat saling melengkapi. Ozon berperan membantu menekan mikroorganisme, sedangkan kondisi hipobarik membantu memperlambat proses fisiologis yang menyebabkan penurunan mutu produk.

“Yang kami kejar bukan hanya umur simpan yang lebih panjang, tetapi juga mutu yang tetap terjaga dan pengetahuan yang dapat diteruskan kepada pelaku usaha. Karena itu, hasil riset perlu dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami dan tetap relevan dengan kebutuhan UMKM,” ujar Dewi.

Dalam kolaborasi tersebut, PLUT KUMKM Kota Batu mendukung penyediaan bahan penelitian sekaligus menjadi salah satu penghubung antara hasil riset dan pelaku usaha.

Tim menegaskan, hasil penelitian tersebut belum serta-merta berarti teknologi telah diterapkan oleh UMKM. Saat ini, tahapan yang dibangun mencakup penyediaan bukti ilmiah, penyusunan informasi yang mudah dipahami, serta penyiapan jalur transfer pengetahuan melalui lembaga pendamping.

Hasil penelitian juga telah dituangkan dalam artikel ilmiah berjudul *Sustainable Postharvest Preservation of Cherry Tomato Through Combined Ozone Pretreatment and Hypobaric Storage.

Artikel tersebut telah diterima di jurnal nasional terindeks SINTA 2, Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem, dan dijadwalkan terbit pada akhir Agustus 2026.

Bagi tim peneliti, penerimaan artikel tersebut menjadi langkah penting karena hasil pengujian telah melalui proses penilaian akademik sebelum disebarluaskan kepada mitra dan masyarakat.

Riset ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals*/SDGs), terutama SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Penelitian tersebut sejalan dengan upaya mengurangi kehilangan pangan di sepanjang rantai produksi dan pasokan, termasuk pada tahap pascapanen.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan lembaga pendamping UMKM juga memperkuat semangat kemitraan yang menjadi bagian dari SDG 17.

Melalui Program Dosen Berkarya, tim UB berharap hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah. Pengetahuan yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi bahan bagi Diskumperindag dan PLUT KUMKM Kota Batu untuk mengenalkan alternatif penanganan pascapanen kepada pelaku usaha.

Dengan pengembangan dan validasi lanjutan, teknologi ozon dan penyimpanan hipobarik berpeluang membantu UMKM mempertahankan mutu tomat ceri, memperpanjang masa pemasaran, sekaligus menekan kehilangan hasil hortikultura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *