Sketsamalang.com – Gaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di era modern. Kebiasaan duduk atau rebahan dalam waktu lama tanpa diimbangi aktivitas fisik dinilai dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit degeneratif, seperti obesitas, diabetes, hingga hipertensi.
Pakar kedokteran okupasi sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Rubayat Indradi, MOH, mengingatkan masyarakat agar mulai mengubah pola hidup pasif menjadi lebih aktif demi menjaga kesehatan jangka panjang.
Menurutnya, perubahan pola kerja dan perkembangan teknologi telah membuat banyak orang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam posisi duduk atau berbaring. Kondisi tersebut tidak hanya dialami pekerja kantoran, tetapi juga pelajar yang semakin bergantung pada perangkat digital.
“Silakan menganalisis diri sendiri selama 24 jam, berapa jam Anda duduk di ruangan atau rebahan. Itu adalah contoh nyata sedentary work yang berisiko memunculkan obesitas, diabetes, hingga hipertensi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, gaya hidup sedentari merupakan pola hidup yang minim aktivitas fisik sehingga tubuh mengeluarkan energi dalam jumlah yang sangat sedikit. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, bahkan pada usia produktif.
Selain perubahan pola kerja, dr. Rubayat menilai kemajuan teknologi juga berkontribusi terhadap meningkatnya perilaku sedentari. Kemudahan layanan digital membuat masyarakat semakin jarang melakukan aktivitas fisik sederhana, seperti berjalan kaki atau bersepeda untuk menempuh jarak dekat.
“Kecanggihan teknologi sekarang itu bikin kita jadi malas. Apa-apa delivery, ya mager. Kenapa tidak diubah kebiasaannya, cobalah jalan kaki dan jangan takut berkeringat,” katanya.
Sebagai langkah pencegahan, ia mendorong masyarakat membangun kebiasaan beraktivitas fisik secara rutin. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, melakukan peregangan setiap dua jam, atau memiliki hobi yang melibatkan gerak tubuh dinilai mampu menjaga kebugaran sekaligus membantu mengurangi stres.
“Itulah pentingnya punya hobi fisik. Jangan jempolnya saja yang olahraga, hanya jempolnya saja yang sehat. Mulailah dari hal-hal kecil seperti stretching setiap dua jam sekali atau berjalan kaki,” tegasnya.
Lebih lanjut, dr. Rubayat menekankan bahwa menjaga kesehatan di era digital membutuhkan kesadaran dan kedisiplinan setiap individu. Mengurangi waktu menatap layar serta membiasakan tubuh untuk bergerak menjadi investasi penting dalam menjaga kualitas hidup.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak terlena dengan berbagai kemudahan teknologi yang justru dapat mengurangi aktivitas fisik sehari-hari. Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki dan melakukan peregangan secara rutin merupakan langkah efektif untuk mencegah berbagai penyakit akibat gaya hidup sedentari.






