UMM Cetak Trainer Pembelajaran Transformatif untuk Hadapi Tantangan Era Digital dan AI

Sketsamalang.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Training of Trainers (TOT) Penerapan Pembelajaran Transformatif pada 6–9 Juni 2026 di Ruang Sidang Senat UMM. Kegiatan yang diikuti 32 dosen perwakilan fakultas dan unit kerja itu diselenggarakan secara bauran sebagai upaya mencetak trainer pembelajaran transformatif guna menjawab tantangan era digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., mengatakan bahwa peran dosen di era modern tidak lagi terbatas sebagai penyampai materi kuliah. Menurutnya, pendidik saat ini harus mampu menjadi agen perubahan yang membantu mahasiswa membangun pola pikir kritis, reflektif, dan berorientasi pada solusi.

“Di era digital, informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah. Tantangan dosen saat ini bukan lagi sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi bagaimana membimbing mahasiswa untuk mengolah informasi, melakukan refleksi kritis, membangun perspektif baru, dan menghasilkan tindakan yang berdampak,” ujarnya.

Foto bersama peserta TOT Penerapan Pembelajaran Transformatif

Ia menilai transformasi pendidikan menjadi kebutuhan mendesak agar proses pembelajaran di perguruan tinggi tetap relevan dengan dinamika perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

Senada dengan itu, Fasilitator Nasional Pembelajaran Transformatif, Prof. Dr. Mohammad Syaifuddin, M.M., menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran transformatif bertujuan mengubah cara pandang mahasiswa melalui pengalaman belajar yang lebih reflektif dan kontekstual.

Menurutnya, pembelajaran tidak cukup berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi harus mampu mendorong mahasiswa memahami diri sendiri sekaligus realitas sosial di sekitarnya.

“Pembelajaran yang baik bukan hanya membuat mahasiswa mengetahui sesuatu, tetapi membantu mereka melihat sesuatu secara berbeda. Ketika mahasiswa mulai mempertanyakan asumsi yang selama ini diyakini, melihat persoalan dari berbagai perspektif, dan kemudian mengambil tindakan berdasarkan refleksi kritis, di situlah transformasi pembelajaran terjadi,” jelasnya.

Selama pelatihan berlangsung, peserta mendapatkan materi mulai dari perencanaan pembelajaran, strategi implementasi, hingga asesmen pembelajaran transformatif. Para dosen juga diajak mengevaluasi metode mengajar yang selama ini diterapkan di kelas.

Salah satu peserta mengaku pelatihan tersebut mengubah cara pandangnya mengenai makna keberhasilan belajar mahasiswa. Selama ini, capaian akademik sering menjadi tolok ukur utama keberhasilan pembelajaran.

“Selama ini saya menganggap pembelajaran berhasil ketika mahasiswa memahami materi dan memperoleh nilai yang baik. Namun dalam pelatihan ini saya disadarkan bahwa pembelajaran seharusnya membantu mahasiswa mengalami perubahan cara berpikir, membangun kesadaran baru, dan mampu memaknai pengalaman yang mereka hadapi,” ungkapnya.

Peserta lainnya juga menyoroti pentingnya desain pembelajaran yang benar-benar berdampak terhadap pembentukan karakter mahasiswa, bukan sekadar penyampaian materi di ruang kelas.

“Pelatihan ini membuat saya bertanya pada diri sendiri, apakah mahasiswa saya hanya memperoleh pengetahuan atau benar-benar mengalami transformasi cara berpikir? Pertanyaan itu terus muncul dan mendorong saya untuk mendesain ulang pembelajaran agar lebih bermakna,” tuturnya.

Melalui program ini, UMM menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan abad ke-21. Kampus berharap transformasi pola pikir dosen dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang adaptif, solutif, dan berkontribusi bagi masyarakat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *