Sketsamalang.com – Fenomena cuaca “bediding” yang belakangan dirasakan masyarakat di berbagai daerah memicu peningkatan ancaman risiko gangguan kesehatan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa suhu udara dingin dan kering dapat mempercepat penyebaran virus sekaligus menurunkan daya tahan tubuh.
Menurut Titik, peningkatan kasus batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga sesak napas saat cuaca dingin dipengaruhi oleh kombinasi faktor lingkungan, kondisi tubuh, hingga perilaku masyarakat selama suhu udara menurun.
“Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun karena ada kombinasi faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia yang saling mendukung terjadinya penularan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, udara dingin dan kering membuat virus maupun bakteri mampu bertahan lebih lama di luar tubuh manusia. Kondisi tersebut juga mempermudah penyebaran penyakit melalui partikel udara.

Selain itu, saluran pernapasan manusia memiliki mekanisme pertahanan yang sensitif terhadap perubahan suhu. Saat seseorang menghirup udara dingin secara mendadak, tubuh akan merespons dengan menyempitkan saluran napas, meningkatkan produksi lendir, serta memperlambat kerja silia atau rambut getar yang berfungsi membersihkan kotoran dan mikroorganisme dari saluran pernapasan.
Akibatnya, proses pembersihan alami tubuh menjadi kurang efektif sehingga risiko infeksi meningkat.
Titik juga mengungkapkan bahwa penurunan suhu drastis dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Salah satunya karena berkurangnya produksi Extracellular Vesicles (EVs), yakni komponen pertahanan alami di rongga hidung yang berfungsi menangkap dan melawan virus.
Di sisi lain, penyempitan pembuluh darah di area hidung menyebabkan distribusi sel imun ke saluran pernapasan berkurang sehingga tubuh lebih rentan terserang penyakit.
“Ketika suhu udara turun drastis, tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suhu inti agar tetap stabil. Namun proses itu justru dapat membuat pertahanan lokal di saluran pernapasan melemah sehingga virus lebih mudah berkembang,” katanya.
Ia menambahkan, beberapa virus pernapasan, termasuk rhinovirus penyebab flu biasa, diketahui berkembang lebih optimal pada suhu yang lebih rendah dibandingkan suhu normal tubuh manusia.
Dalam kesempatan tersebut, Titik juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap semua gejala pilek sebagai ISPA. Menurutnya, alergi dingin memiliki ciri khas berupa bersin berulang, hidung gatal, mata berair, dan gejala yang muncul saat terpapar udara dingin lalu membaik ketika suhu menghangat.
Sebaliknya, demam menjadi salah satu tanda yang lebih mengarah pada infeksi saluran pernapasan.
Sebagai langkah pencegahan, Titik menegaskan bahwa penggunaan jaket saja tidak cukup untuk melindungi tubuh dari dampak cuaca dingin. Masyarakat juga perlu menjaga hidrasi tubuh dengan mengonsumsi minuman hangat, memenuhi kebutuhan vitamin A dan vitamin D, serta mengonsumsi lemak sehat yang mengandung omega-3 guna menjaga sistem imun tetap optimal.
Kelompok yang perlu lebih waspada terhadap risiko ISPA saat cuaca dingin antara lain lansia, anak-anak, perokok aktif, penderita sinusitis kronis, hingga pekerja yang berada di ruangan ber-AC dalam waktu lama.
“Memakai jaket memang penting untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Namun menjaga hidrasi, nutrisi, dan daya tahan tubuh jauh lebih penting karena pertahanan utama terhadap penyakit sebenarnya berasal dari dalam tubuh,” pungkasnya. (*)






