Sketsamalang.com – Film Siti Si Vampir yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 22 Oktober 2026 menawarkan pendekatan berbeda dalam mengangkat kisah vampir di perfilman nasional. Film garapan sutradara Rahabi Mandra ini memadukan drama, komedi, dan fantasi dengan satir sosial yang menyoroti kesenjangan kelas antara masyarakat biasa dan kelompok elite.
Berdasarkan data Lembaga Sensor Film (LSF), Siti Si Vampir masuk dalam genre Drama dan Komedi dengan tema “kehidupan vampir di antara manusia”. Film berdurasi 104 menit ini juga telah diklasifikasikan untuk penonton berusia 13 tahun ke atas.
Alih-alih mengandalkan teror dan suasana mencekam seperti film horor konvensional, cerita ini menggunakan sosok vampir untuk menggambarkan kehidupan kelompok kelas atas. Pendekatan tersebut menjadi salah satu daya tarik film yang menggabungkan unsur supernatural dengan persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat urban.
Produser Celerina Judisari menjelaskan bahwa konsep film ini sengaja dikembangkan dengan pendekatan yang berbeda dari cerita horor pada umumnya.
“Siti Si Vampir menghadirkan pendekatan yang berbeda, sebuah drama komedi dengan lapisan drama keluarga dan satir sosial,” ujarnya, dikutip dari RRI.co.id. Ia menambahkan, perjalanan cerita dimulai ketika tokoh utama Siti yang biasa bangun di rusun tiba-tiba terbangun di kamar mewah.
Cerita berpusat pada Siti, yang diperankan Satine Zaneta, seorang perempuan muda penghuni rumah susun yang menjadi tulang punggung keluarganya. Kehidupannya berubah setelah ia digigit Nakkula, vampir senior yang diperankan Ciccio Manassero. Perubahan tersebut membawanya memasuki dunia yang sangat berbeda dari kesehariannya yang serba terbatas secara ekonomi.
Vampir sebagai Metafora Kesenjangan Sosial
Sutradara Rahabi Mandra memperkuat gagasan tersebut dengan menjadikan vampir sebagai metafora kelas sosial. Menurutnya, karakter vampir dapat merepresentasikan kelompok elite, sementara Siti menjadi gambaran seseorang dari kalangan masyarakat biasa yang mendadak masuk ke lingkungan tersebut.
“Di Indonesia, vampir itu metafora yang pas untuk kelas atas. Sedangkan Siti ibarat anomali, anak rusun yang mendadak digigit nasib menjadi elite,” katanya, dikutip dari RRI.co.id dan Media Kampung.
Melalui perubahan nasib Siti, film ini menghadirkan kontras antara kehidupan masyarakat berpenghasilan terbatas dan gaya hidup kelompok elite yang identik dengan kemewahan. Persoalan tersebut dikemas melalui situasi komedi sehingga kritik sosial tidak hanya disampaikan melalui konflik, tetapi juga melalui perbedaan keseharian para karakternya.
Aktris utama Satine Zaneta juga menyoroti perpaduan unsur komedi dan drama dalam film tersebut. Ia mengakui bahwa humor menjadi bagian penting dari cerita, meskipun film ini tetap menghadirkan dinamika keluarga.
Baca juga:
Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Angkat Isu Kesehatan Mental yang Penuh Harapan
“Banyak komedinya sih. Tapi semuanya ada. Unsur dramanya juga ada. Even kayak unsur kekeluargaannya juga ada gitu,” ujarnya dalam wawancara eksklusif, dikutip dari Tribunnews.
Satine turut menjelaskan perbedaan kehidupan manusia dan vampir yang menjadi salah satu sumber komedi sekaligus satir dalam cerita.
“Perbedaan kehidupan sehari-hari dari manusia dan vampir itu jelas. Kalau vampir itu serba elit, serba glamor, serba premium. Kalau Siti itu hardworking woman sebenarnya. Dia membantu ayahnya, ngangkat galon, ngangkat gas,” kata Satine, dikutip dari Republika Online.
Produser Celerina Judisari lebih lanjut menekankan bahwa film ini hadir untuk menawarkan variasi di tengah dominasi cerita tentang hantu lokal dalam perfilman Indonesia.
“Vampir di film Indonesia itu hampir tidak ada. Yang lain horornya kuntilanak atau jenis hantu lokal lainnya. Jadi kami melihat ada celah, bagaimana jika ada vampir lokal. Kombinasi nama Siti dan vampir ini menghadirkan situasi komedi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan yang relevan,” ujarnya dalam press screening, dikutip dari Media Indonesia.
Menariknya, Siti Si Vampir dikembangkan dari serial Singapura berjudul Siti Vampire karya M. Raihan Halim yang dirilis pada 2021. Serial tersebut terdiri atas lima episode dan diproduksi oleh Viddsee. Versi film panjangnya menjadi kolaborasi produksi Indonesia dan Singapura.
Dengan memadukan komedi, drama keluarga, dan fantasi, Siti Si Vampir tidak sekadar menghadirkan kisah tentang makhluk pengisap darah. Film ini juga menawarkan gambaran mengenai kesenjangan kelas dan perubahan nasib melalui perjalanan seorang perempuan dari lingkungan sederhana menuju dunia elite.
Pendekatan tersebut menjadikan unsur vampir sebagai pintu masuk untuk membahas persoalan sosial dengan cara yang lebih ringan. Penonton tidak hanya diajak mengikuti perubahan kehidupan Siti, tetapi juga melihat bagaimana perbedaan status ekonomi dapat memengaruhi pengalaman dan cara seseorang memandang dunia.







