Bapak Paling Jujur: Sindiran Budaya Pencitraan Politik Indonesia

Sketsamalang.com – Film komedi politik Bapak Paling Jujur (2026) karya sutradara Fajar Nugros mengangkat budaya pencitraan dalam politik melalui kisah seorang calon gubernur yang mendadak kehilangan kemampuan untuk berbohong. Dibintangi Andovi da Lopez sebagai Jonas Prakoso, film ini memadukan komedi dengan berbagai fenomena politik yang akrab bagi masyarakat Indonesia.

Jonas digambarkan sebagai calon gubernur muda yang memahami pentingnya membangun citra publik. Bersama calon wakil gubernurnya, Sambodo (Soleh Solihun), serta kepala tim suksesnya, Marbun (Benedictus Siregar), ia menyiapkan strategi kampanye untuk membentuk sosok pemimpin ideal di mata masyarakat.

Namun, situasi berubah setelah Jonas terkena kutukan dari neneknya. Ia bukan hanya kehilangan kemampuan berbohong, tetapi juga kesulitan menyaring perkataannya. Rahasia dan pemikiran yang semestinya disimpan justru terungkap di hadapan keluarga, tim kampanye, lawan politik, hingga publik. Strategi yang sebelumnya dirancang untuk menjaga citra pun berubah menjadi sumber kekacauan.

Satire Politik yang Dekat dengan Fenomena Indonesia

Dalam ulasannya, IDN Times menilai film ini mampu membawa premis tentang politikus yang tidak bisa berbohong ke dalam konteks Indonesia. Sejumlah fenomena yang diangkat meliputi pencitraan, serangan fajar, permainan citra di depan publik, serta perbedaan kepentingan di balik persaingan politik.

IDN Times menulis bahwa film ini “cukup cerdas ketika membawa premis tersebut ke konteks Indonesia. Berbagai fenomena politik yang terasa akrab bagi masyarakat dipelintir menjadi bahan humor. Mulai dari pencitraan, serangan fajar, permainan citra di depan publik, hingga situasi ketika orang-orang yang tampak saling menyerang di depan kamera ternyata bisa memiliki kepentingan yang berbeda di belakang layar.”

Premis tersebut berangkat dari film komedi Brasil O Candidato Honesto (2014). Meski mempertahankan gagasan utama tentang politikus yang dikutuk agar tidak bisa berbohong, versi Indonesia menambahkan sejumlah elemen yang disesuaikan dengan situasi sosial dan politik masa kini.

Produser Aoura Lovenson Chandra menjelaskan bahwa tim produksi memasukkan fenomena politik media sosial dan “politik joget” sebagai bagian dari penyesuaian tersebut.

“Itu sih elemen besar yang kami tambahkan, yang kami rasa relevan dengan Indonesia, kami rasa relevan dengan zaman sekarang ini. Semua sosial media-sosial media itu enggak ada lah di original version-nya, including mereka itu diadaptasi dari Brasil itu di Meksiko dan di Korea. Itu juga dua-duanya enggak ada referensi social media. Social media, politik joget itu semua itu ya kita tambahin di sini lah,” ujar Aoura dalam wawancara dengan IDN Times.

Penambahan itu membuat cerita terasa dekat dengan budaya politik kontemporer, ketika aktivitas kampanye tidak hanya berlangsung melalui pertemuan langsung, tetapi juga melalui konten digital dan penampilan di hadapan kamera.

Bukan untuk Menyerang Tokoh Politik Tertentu

Meski memuat berbagai sindiran yang bisa mengingatkan penonton pada fenomena politik nyata, film ini tidak dimaksudkan untuk menyerang pihak tertentu. Fajar Nugros menekankan bahwa pesan utama cerita terletak pada pentingnya kejujuran.

“Jadi hopefully itu hanya bumbu-bumbu aja, tapi poinnya adalah jujur itu penting dan jujur itu mulai harus dicoba dari sekarang,” katanya.

Pernyataan tersebut menempatkan kejujuran sebagai gagasan utama film, sementara sindiran politik berfungsi sebagai konteks yang menggerakkan komedi dan konflik Jonas.

Gagasan ini juga berkaitan dengan persoalan kepercayaan. Citra yang dibangun melalui penampilan dan perkataan bisa membantu seseorang memperoleh dukungan, tetapi tidak selalu cukup untuk mempertahankannya ketika kenyataan yang disembunyikan mulai terungkap.

Baca juga:

Film Horor Aplikasi Iblis Tayang di Bioskop, Rindu Kekasih Berujung Teror Maut

Komedi yang Menghibur, Kritik yang Tak Selalu Mendalam

Sejumlah ulasan menilai Bapak Paling Jujur berhasil mengangkat fenomena politik yang familier menjadi bahan humor. Namun, kekuatan komedinya tidak selalu diikuti pengembangan kritik sosial yang mendalam.

Teater.co menilai bahwa kekuatan film terletak pada “keberanian menjadikan pencitraan dan perilaku politikus sebagai bahan humor,” meskipun tempo komedi yang cepat membuat sejumlah sindiran belum sepenuhnya berkembang menjadi kritik yang tajam.

Sementara itu, Suara.com menggambarkan panggung politik dalam film tersebut sebagai “arena bermain yang sangat kocak.”

Penilaian tersebut menunjukkan bahwa film ini dapat dinikmati sebagai komedi politik ringan sekaligus mengundang penonton untuk memikirkan kembali hubungan antara pencitraan, kejujuran, dan kepercayaan publik.

Pada akhirnya, Bapak Paling Jujur menawarkan pertanyaan yang relevan di luar layar: ketika penampilan dan strategi komunikasi menjadi bagian penting dari kampanye, seberapa besar ruang yang masih tersedia bagi kejujuran? Melalui kekacauan yang dialami Jonas, film ini mengajak penonton mempertimbangkan apakah citra seorang pemimpin cukup dibangun lewat apa yang terlihat, atau harus ditopang oleh tindakan dan integritas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *