Sketsamalang.com – Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni menjadi momentum penting untuk merefleksikan cita-cita para pendiri bangsa. Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur sekaligus Ketua Komisi E DPRD Jatim, Dr. Sri Untari Bisowarno, menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) merupakan kunci mewujudkan keadilan dan kemakmuran sebagaimana dicita-citakan dalam kemerdekaan Indonesia.
Usai mengikuti upacara Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6), Sri Untari mengingatkan kembali pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang memaknai kemerdekaan sebagai “jembatan emas”. Menurutnya, cita-cita tersebut hanya dapat diwujudkan melalui pembangunan manusia yang berkualitas.
Ia menilai amanat Pembukaan UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa harus menjadi pilar utama pembangunan nasional. Indonesia, kata dia, perlu meneladani negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Korea Selatan yang lebih dahulu membangun kapasitas manusianya sebelum melakukan percepatan pembangunan fisik.
“Saat ini intervensi kebijakan pemerintah di dunia pendidikan sudah sangat baik. Mulai dari alokasi anggaran 20 persen, program wajib belajar 12 tahun, hingga berbagai beasiswa berkelanjutan untuk jenjang S1, S2, sampai S3. Namun, kita masih melihat adanya ruang kosong di mana output SDM ini masih bersifat administratif dan belum sepenuhnya terimplementasikan secara konkret bagi kepentingan Indonesia Emas,” ujarnya.
Sri Untari menyoroti masih banyaknya SDM unggul Indonesia yang telah menempuh pendidikan tinggi, namun belum mendapatkan ruang yang memadai untuk mengembangkan kreativitas dan gagasannya di dalam negeri. Kondisi tersebut dinilai membuat potensi besar anak bangsa belum termanfaatkan secara optimal untuk kemajuan negara.
Karena itu, ia menekankan pentingnya mengaktualisasikan Sila Kelima Pancasila, yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang berlandaskan nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi fondasi dalam mencetak SDM yang unggul, kompetitif, sekaligus memiliki semangat gotong royong.
“Sektor pendidikan dituntut mampu merancang cetak biru SDM yang tangguh menuju Indonesia Emas. Di sisi lain, negara juga wajib menyiapkan ekosistem dan ruang bagi mereka agar dapat menjadi generasi pelanjut proklamasi kemerdekaan yang produktif,” katanya.
Lebih lanjut, Sri Untari menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai wacana atau diskursus teoretis. Lima sila yang menjadi dasar negara merupakan konsensus nasional yang terbukti mampu menjaga persatuan bangsa di tengah berbagai tantangan disintegrasi.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, implementasi Pancasila di ruang pendidikan, forum ilmiah, hingga aktivitas sosial menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan generasi muda terhadap berbagai pengaruh ideologi yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.
“Kita harus mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam pemikiran intelektual, tetapi juga matang dalam implementasi nilai-nilai kebangsaan. Dengan membumikan Pancasila melalui praktik hidup sehari-hari, SDM unggul kita akan menjadi benteng kokoh yang menjaga NKRI sekaligus motor penggerak menuju Indonesia Emas,” pungkasnya.






