Sketsamalang.com, MALANG – Tim mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berhasil lolos tahap pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa skema Kewirausahaan (PKM-K) melalui inovasi SPATCH (Spine Aware Biofeedback Patch). Produk ini dikembangkan sebagai plester inovatif untuk membantu meningkatkan kesadaran pengguna dalam menjaga postur tubuh.
Tim SPATCH terdiri atas Rizka Amalia Putri Ramadhani dari Program Studi Kedokteran angkatan 2025 serta Siti Alisyah Hujjatul Syahadah, Aminatuzzahra, Sesilia Awanda Sulistyana, dan Bilqis Athaillah Ali As’ad dari Program Studi Bioteknologi angkatan 2025. Tim tersebut dinyatakan lolos pendanaan PKM-K pada Sabtu (23/5/2026).
Ide pengembangan SPATCH berawal dari kebiasaan mahasiswa yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop, terutama saat mengerjakan laporan praktikum. Kebiasaan tersebut dinilai dapat memicu keluhan pada bagian punggung dan pinggang akibat postur duduk yang kurang ideal.
“Teman-teman bioteknologi sering mengerjakan laporan praktikum dan duduk berjam-jam di depan laptop. Dari situ muncul keluhan nyeri pinggang, bahkan ada yang mengalami skoliosis. Akhirnya, kami terpikir untuk membuat alat koreksi postur tubuh,” jelas Rizka.
Manfaatkan Teknologi Micro-Pressure Point
SPATCH bekerja menggunakan mekanisme biofeedback. Ketika tubuh berada dalam posisi yang kurang ideal, teknologi micro-pressure point pada patch memberikan rangsangan berupa tekanan sebagai pengingat agar pengguna memperbaiki posisi tubuh.
Pengembangan produk ini memadukan keilmuan dari anggota tim yang berasal dari Program Studi Bioteknologi dan Kedokteran.
Mahasiswa Bioteknologi berperan dalam memastikan proses produksi sesuai prosedur, termasuk sterilisasi serta pengujian kelayakan setiap komponen. Sementara itu, mahasiswa Kedokteran berfokus pada aspek yang berkaitan dengan alat kesehatan, termasuk kesesuaian fungsi produk dengan kebutuhan pengguna.
Dari sisi desain, SPATCH dibuat lebih tipis dibandingkan brace atau korset medis yang umumnya digunakan untuk membantu koreksi postur. Produk ini juga tidak menggunakan perangkat elektronik sehingga tidak membutuhkan pengisian daya.
SPATCH dikemas dalam pouch sehingga praktis dibawa dan digunakan dalam berbagai aktivitas.
“Kami ingin membuat inovasi yang *relate* dengan mahasiswa. Cara pemakaiannya mudah, bisa dibawa ke mana saja, dan harganya terjangkau,” ujar Rizka.
Satu kemasan SPATCH dibanderol Rp35.000. Paket tersebut berisi satu micro-pressure board, tiga buah plester, dan dua alcohol swab.
“Micro-pressure board-nya bisa digunakan berulang kali, sedangkan untuk plesternya hanya sekali pakai,” jelas Rizka.
Dikembangkan Melalui Proses R&D
Pengembangan SPATCH dilakukan melalui proses research and development (R&D). Tim melakukan berbagai percobaan untuk menentukan desain dan material yang paling sesuai.
Proses tersebut menjadi salah satu tantangan bagi tim karena belum banyak produk di pasaran yang memiliki konsep serupa. Karena itu, berbagai eksperimen dilakukan untuk menentukan konstruksi, desain, serta material SPATCH sebelum menghasilkan produk yang siap digunakan.
Dalam proses pengembangannya, tim mendapat pendampingan dari dosen pembimbing, Agwin Fahmi Fahanani dari Fakultas Kedokteran UB. Ia memberikan arahan terkait berbagai dokumen pendukung, termasuk dokumen Hak Kekayaan Intelektual (HKI), sekaligus memberikan masukan terhadap konstruksi produk.
Setelah memperoleh pendanaan PKM-K, tim berencana melanjutkan pengembangan SPATCH dan menargetkan keikutsertaan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).
Tidak hanya itu, Rizka dan tim juga berencana mengembangkan SPATCH lebih lanjut agar dapat diarahkan menjadi produk alat kesehatan.
“Saya melihat SPATCH punya potensi untuk dikembangkan lebih lanjut di bidang alat kesehatan. Harapannya, SPATCH bisa menjadi produk alat kesehatan yang semakin sukses ke depannya dan bisa bermanfaat bagi banyak orang,” pungkas Rizka.






