Mengenal Prof. Dr. Ir. Sutami: Sang “Menteri Termiskin” di Balik Mahakarya Infrastruktur Indonesia

Sketsamalang.com – Sejarah mencatat Indonesia pernah memiliki seorang pejabat negara dengan integritas tanpa cela. Prof. Dr. Ir. H. Sutami, Menteri Pekerjaan Umum (PU) dengan masa jabatan terlama dalam sejarah republik selama 12 tahun intas kabinet dari era Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto. Dikenal luas bukan karena kekayaannya, melainkan karena kesederhanaannya yang ekstrem di tengah pusaran proyek raksasa bernilai triliunan rupiah.

Lulusan Teknik Sipil ITB tahun 1956 ini merupakan otak di balik arsitektur modern Indonesia. Sutami memelopori teknologi beton pratekan saat membidani lahirnya Jembatan Semanggi, menghitung kalkulasi rumit untuk atap melengkung Gedung MPR/DPR, hingga mengawasi pembangunan Jalan Tol Jagorawi, Waduk Jatiluhur, Jembatan Semanggi, Jembatan Ampera, dan Bandara Ngurah Rai. Hebatnya, seluruh proyek raksasa tersebut selesai tanpa sedikit pun menyisakan noda korupsi pada namanya.

Namun, di balik kegemilangan prestasi tersebut, kehidupan pribadinya justru jauh dari kata mewah. Julukan “Menteri Termiskin” melekat padanya karena fakta-fakta yang mencengangkan. Rumah pribadinya di Jakarta dibeli dengan cara mencicil dan baru lunas menjelang masa pensiunnya pada tahun 1978. Bahkan, saat masih menjabat sebagai Menteri PU dan Tenaga Listrik, rumah pribadinya di Solo sempat mengalami pemutusan aliran listrik oleh PLN karena ia terlambat membayar tagihan. Ketika Hari Raya Idulfitri tiba, para tamu yang bersilaturahmi kerap mendapati langit-langit rumah sang menteri dipenuhi bercak bekas bocor yang belum sempat diperbaiki karena keterbatasan dana.

Sutami juga dikenal sebagai menteri lapangan yang jarang menghabiskan waktu di balik meja. Wartawan era itu sering menjulukinya “Menteri yang tidak punya udel” karena fisiknya yang kuat berjalan kaki puluhan kilometer demi meninjau proyek di pelosok desa tanpa mau merepotkan warga setempat.

Dedikasi yang kelewat batas ini pulalah yang menguras kesehatannya. Sutami mengalami kelelahan kronis dan kekurangan gizi, yang kemudian berkembang menjadi penyakit liver. Begitu bersahajanya Sutami, ia bahkan sempat enggan dirawat di rumah sakit karena takut tidak mampu membayar biayanya, hingga akhirnya Presiden Soeharto turun tangan membiayai pengobatannya.

Sutami mengembuskan napas terakhir pada 13 November 1980 di usia 52 tahun. Atas jasa besarnya, pemerintah mengabadikan namanya pada salah satu bendungan terbesar di Jawa Timur, yaitu Waduk Karangkates yang kini dikenal sebagai Bendungan Sutami di Kabupaten Malang. Jejak sang insinyur tidak sekadar membekas pada beton-beton kokoh penopang negara, tetapi juga pada standar moral tertinggi seorang pelayan rakyat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *