Wujudkan Zero Waste, Sri Untari Dorong Penerapan Ember Tumpuk untuk Sampah Organik Rumah Tangga

Sketsamalang.com, MALANG – Upaya mewujudkan kawasan bebas sampah atau zero waste di Malang Raya membutuhkan perubahan pola pikir masyarakat, pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga, hingga dukungan teknologi pengolahan modern. Anggota DPRD Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, mendorong penerapan sistem ember tumpuk untuk sampah organik serta teknologi pirolisis untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar cair setara solar atau petasol.

Sri Untari menilai, regulasi persampahan tidak akan berjalan optimal tanpa diikuti edukasi dan keterlibatan masyarakat. Karena itu, penanganan sampah harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.

Salah satu langkah sederhana yang dapat diterapkan adalah menggunakan ember tumpuk untuk mengolah sampah organik rumah tangga. Selanjutnya, pengelolaan dikembangkan melalui komposter komunal di tingkat rukun tetangga (RT).

“Dari regulasi itu, kita bangun edukasi mindset. Lakukan secara sederhana di rumah tangga dengan ember tumpuk, lalu di tingkat RT menggunakan komposter komunal. Kalau alur ini berjalan, selesai masalah sampah organik rumah tangga. Zero waste itu betul-betul bisa tercapai,” tuturnya.

Namun, persoalan sampah tidak hanya berasal dari rumah tangga. Sektor komersial dan pariwisata, seperti restoran, hotel, serta aktivitas wisatawan, juga menjadi penyumbang sampah yang membutuhkan penanganan khusus.

Untuk sampah plastik yang sulit terurai, Sri Untari menawarkan pemanfaatan teknologi pirolisis. Teknologi ini memungkinkan limbah plastik diolah menjadi petasol yang dapat digunakan sebagai bahan bakar armada pengangkut sampah.

Ia menyebut kebutuhan investasi untuk pengadaan mesin dan peralatan pengolahan tersebut mencapai sekitar Rp31 miliar. Meski membutuhkan anggaran besar, investasi itu dinilai sebanding dengan manfaat ekologis yang dapat dihasilkan untuk jangka panjang.

“Jangan anggap plastik tidak bisa diurai, sekarang plastik sudah bisa diolah menjadi petasol untuk bahan bakar truk dan armada angkut. Memang investasinya cukup besar, sekitar Rp31 miliar untuk mesin dan peralatannya. Namun untuk menyelesaikan persoalan di Malang Raya, termasuk Kota Malang dan Kota Batu yang menjadi destinasi wisata utama, angka tersebut sangat sebanding dengan dampak ekologis yang diselesaikan,” terangnya.

Lebih lanjut, Sri Untari menekankan pentingnya pembagian tanggung jawab antara masyarakat dan pemerintah daerah. Pengelolaan sampah rumah tangga diharapkan dapat diselesaikan secara mandiri oleh warga melalui sistem pengolahan berbasis RT.

Sementara itu, pemerintah daerah perlu lebih fokus menangani sampah yang dihasilkan sektor komersial, restoran, hotel, dan wisatawan. Terlebih, Malang Raya memiliki sejumlah destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.

“Kalau sampah rumah tangga diselesaikan secara mandiri oleh warga di tingkat RT, maka tugas pemerintah fokus mengatasi sampah dari konsumen, restoran, hotel, dan para wisatawan yang datang ke destinasi ini. Pola kolaborasi ini juga siap kami uji cobakan penerapannya di unit usaha SBW,” pungkasnya.

Melalui pendekatan dari hulu hingga hilir tersebut, Sri Untari berharap pengelolaan sampah di Malang Raya tidak lagi hanya bertumpu pada pengangkutan dan pembuangan akhir, tetapi berkembang menjadi sistem pengolahan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *