UMM dan UNILU Dorong Desa Tukum Jadi Zero Waste lewat Vermikultur

Sketsamalang.com, LUMAJANG – Sampah organik rumah tangga di Desa Tukum, Kabupaten Lumajang, mulai diarahkan menjadi sumber daya yang bernilai. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Universitas Lumajang (UNILU) mengembangkan konsep Vermikultur Village sebagai bagian dari upaya mewujudkan Desa Zero Waste berbasis integrated farming.

Program tersebut dikembangkan melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema Pemberdayaan Desa Binaan (PDB). Salah satu tahapannya berupa pelatihan yang digelar di Hall Aby Hotel pada 5 September 2026 dan diikuti lebih dari 40 peserta dari unsur Kelompok Masyarakat (Pokmas).

Kegiatan itu turut dihadiri Kepala Desa Tukum dan Ketua Tim Penggerak PKK Desa Tukum.

Program bertajuk “Pengembangan Desa Tukum sebagai Desa Zero Waste Berbasis Integrated Farming melalui Vermikultur Village” tersebut diketuai Dr. Ir. Asmah Hidayati, MP., dengan anggota Dr. Drh. Imbang Dwi Rahayu, M.Kes., Iis Siti Aisyah, MT., PhD., IPM., dan Dr. Rusli Tonda.

Ketua Tim PDB, Dr. Ir. Asmah Hidayati, MP., mengatakan program tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengurangi persoalan sampah, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal.

“Melalui program PDB ini, kami ingin membangun kemandirian masyarakat Desa Tukum dalam mengelola potensi yang ada di lingkungannya. Sampah organik tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai dan mendukung kegiatan pertanian,” jelasnya.

Menurut Asmah, penerapan konsep zero waste di Desa Tukum dibangun dalam sebuah ekosistem yang menghubungkan pengelolaan limbah dengan sektor pertanian dan peternakan.

Karena itu, pelatihan tidak hanya membahas pengolahan limbah organik melalui vermikultur. Peserta juga mendapat materi mengenai manajemen kandang ayam Kuntara serta teknologi pembuatan pakan ayam.

Pembekalan tersebut menjadi bagian dari penguatan konsep *integrated farming*, sehingga pengelolaan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas usaha masyarakat.

Sementara itu, Iis Siti Aisyah, MT., PhD., IPM., menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah. Masyarakat diperkenalkan pada pemisahan sampah organik, anorganik, dan residu.

“Kunci dari pengelolaan sampah adalah pemilahan dari sumbernya. Sampah organik seperti sisa sayuran dan buah dapat dipisahkan sejak dari rumah untuk kemudian diolah menjadi bahan pakan cacing. Dengan begitu, sampah yang sebelumnya dibuang dapat kembali dimanfaatkan,” terang Iis.

Dalam pelatihan tersebut, peserta juga mempraktikkan persiapan bahan organik menggunakan mesin pencacah. Bahan dibuat berukuran lebih kecil agar lebih mudah terurai.

Proses tersebut tetap memperhatikan sejumlah faktor, seperti kelembapan, ukuran bahan, dan tingkat kematangan, sehingga sesuai untuk digunakan sebagai pakan cacing.

Peserta kemudian diperkenalkan dengan teknik budidaya cacing, mulai dari menyiapkan media, memberikan pakan secara bertahap, mengatur kelembapan, hingga melakukan pemeliharaan media vermikultur.

Cacing akan membantu menguraikan bahan organik hingga menghasilkan vermikompos atau kascing yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Skema tersebut menjadi bagian penting dari konsep integrated farming yang dikembangkan. Limbah organik rumah tangga diolah menjadi pakan cacing, kemudian menghasilkan vermikompos yang dapat dikembalikan ke lahan pertanian.

Pada sisi lain, penguatan manajemen kandang dan teknologi pembuatan pakan ayam diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan peternakan masyarakat.

Program Vermikultur Village di Desa Tukum tersebut didanai melalui Hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026.

Melalui program ini, Desa Tukum diarahkan tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan, tetapi juga membangun rantai nilai baru dari limbah organik.

Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah diharapkan dapat berjalan bersamaan dengan pengembangan pertanian dan peternakan, sekaligus mendorong Desa Tukum menjadi desa yang bersih, produktif, mandiri, dan berkelanjutan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *