Sketsamalang.com – Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) melalui tim Warga Rupa bersama komunitas Pemuda Bundle Kota Batu menyelenggarakan pameran seni rupa bertajuk “Panen Tiga Jalan: Temuan, Ramuan, Jamuan”. Pameran dibuka pada Sabtu (12/9/2026) pukul 15.00 WIB di Villa Oemah Biru, Jalan Terusan Bejo, Sisir, Kota Batu.
Pameran tersebut menjadi puncak rangkaian program pengabdian kepada masyarakat yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, seniman muda, dan warga Kota Batu melalui praktik seni berbasis riset. Berbeda dengan pameran yang hanya menempatkan karya sebagai objek untuk dinikmati, “Panen Tiga Jalan” membawa proses panjang pencarian pengetahuan lokal, pengolahan artistik, hingga perjumpaan kembali karya dengan masyarakat.
Ketua Pelaksana PISN 2026 dari Tim Warga Rupa, Mayang Anggrian, M.Pd., menjelaskan bahwa program dilaksanakan bersama Pemuda Bundle, komunitas seni Kota Batu yang beranggotakan sekitar 20 seniman muda di bawah koordinasi Ardiansyah Prainhantanto.
Kolaborasi tersebut merupakan bagian dari PISN 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Secara nasional, PISN 2026 mendanai 244 judul dengan total pendanaan Rp17,5 miliar dan diarahkan pada pembaruan serta pengembangan karya seni yang berakar pada tradisi budaya Indonesia.
“Panen Tiga Jalan” yang diselenggarakan pada 12-24 September 2026 ini berangkat dari pemikiran bahwa folklor tidak seharusnya dipahami hanya sebagai kumpulan cerita rakyat, mitos, legenda, atau tradisi yang diwariskan dari masa lalu.

Folklor dalam pameran ini ditempatkan sebagai pengetahuan yang masih hidup dan bekerja di tengah masyarakat. Ia dapat hadir melalui cerita, ritual, kepercayaan, pantangan, permainan, bahasa, praktik pertanian, tata ruang, hingga cara masyarakat membangun hubungan dengan alam dan lingkungan sosialnya.
Kota Batu menjadi konteks penting dalam pembacaan tersebut. Perkembangan pariwisata, pertanian, urbanisasi, serta perubahan lanskap sosial dan ekologis membuat pengetahuan lokal terus berhadapan dengan perubahan zaman. Sebagian tetap dipertahankan, sebagian mengalami perubahan, sementara sebagian lainnya menemukan bentuk baru.
Karena itu, masyarakat dalam program ini tidak ditempatkan semata-mata sebagai objek penelitian atau sumber inspirasi bagi seniman. Masyarakat justru dipandang sebagai pemilik sekaligus penghasil pengetahuan berdasarkan pengalaman dan praktik kehidupan mereka sendiri.
Mayang mengatakan, Tim Warga Rupa dan Pemuda Bundle memiliki perhatian yang sama terhadap persoalan lingkungan di Kota Batu. Seni kemudian digunakan sebagai bentuk advokasi yang tidak bekerja melalui pendekatan konfrontatif, tetapi melalui apa yang disebut sebagai soft advocacy.
“Kami dan Pemuda Bundle memiliki keprihatinan yang sama terhadap pentingnya advokasi lingkungan yang dilakukan secara halus melalui seni. Dari konteks lingkungan Kota Batu, kami melihat folklor bisa menjadi pintu masuk untuk memperkuat advokasi tersebut,” jelas Mayang.
Judul “Panen Tiga Jalan” merepresentasikan perjalanan yang ditempuh selama program berlangsung. Tiga jalan tersebut diterjemahkan melalui konsep Temuan, Ramuan, dan Jamuan.
“Temuan” merupakan proses ketika seniman dan tim berjumpa dengan berbagai bentuk pengetahuan yang hidup di masyarakat. Pengetahuan itu dapat berupa cerita, ingatan, ritual, simbol, lanskap, kebiasaan, hingga perubahan yang sedang berlangsung dalam kehidupan warga.
Temuan tersebut kemudian memasuki tahap “Ramuan”. Pada bagian ini, pengetahuan dari masyarakat tidak langsung diterjemahkan menjadi ilustrasi visual, tetapi dipertemukan dengan pengalaman seniman, riset, medium, teknologi, diskusi, eksperimen, serta kerja kolektif.
Sementara “Jamuan” merupakan tahapan ketika hasil pengolahan tersebut kembali dihadirkan kepada masyarakat melalui pameran. Publik tidak diarahkan untuk menerima satu tafsir yang telah ditentukan seniman. Sebaliknya, pengunjung diberikan ruang untuk mengalami karya, mempertanyakan, berdiskusi, dan membentuk pemaknaan mereka sendiri.
Dengan cara tersebut, pameran tidak menjadi akhir dari penelitian. Ketika sebuah karya bertemu pengunjung dan melahirkan percakapan baru, pengetahuan kembali bergerak. Dari masyarakat kepada seniman, dari seniman menjadi karya, kemudian dari karya kembali kepada masyarakat.
Pameran dikuratori oleh Anggun Setiawan dan menghadirkan tujuh karya partisipatoris. Enam karya diproduksi oleh kelompok-kelompok dari Pemuda Bundle, sedangkan satu karya lainnya dihasilkan kelompok mahasiswa seni rupa FIB UB.
Ketujuh karya ditempatkan dalam dramaturgi tujuh ruang yang membawa pengunjung memasuki berbagai lapisan persoalan. Tema yang dibicarakan meliputi hubungan manusia dan alam, batas teritori, fenomena gaib, tabu, kontrol sosial, ingatan, sejarah, hingga bahasa. Alur pameran dirancang bergerak dari persoalan kosmologis menuju pengalaman sosial yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Proses penciptaannya menggunakan pendekatan practice-based research. Dengan pendekatan tersebut, penelitian tidak dianggap selesai ketika data berhasil dikumpulkan. Observasi, percakapan, pengalaman, eksperimen, diskusi, penciptaan karya, hingga refleksi selama proses artistik tetap menjadi bagian dari penelitian.
Tim Warga Rupa juga memberikan workshop Practice-Based Research serta menyediakan toolkit dan standar operasional kerja kelompok bagi Pemuda Bundle. Penguatan kapasitas tidak berhenti pada proses artistik. Workshop tata kelola web turut diberikan untuk mendukung kemampuan komunitas dalam mengelola dan mengarsipkan pengetahuan yang mereka produksi.

Salah satu bagian penting dalam program ini adalah pengembangan Living Archive atau arsip hidup. Pengumpulan data dilakukan dalam tiga lapisan, yakni Street Art & Mural, Folklor & Situs, serta Ekologi Ruang Publik. Proses tersebut dikerjakan bersama antara Tim Warga Rupa dan Pemuda Bundle. Warga Kota Batu juga terlibat sejak tahap penelitian, antara lain melalui pengisian kuesioner folklor yang kemudian menjadi bagian dari bahan Living Archive.
Dengan konsep arsip hidup, pengetahuan lokal tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang telah selesai dan kemudian hanya disimpan. Pengetahuan tersebut dapat terus bertambah, dibaca ulang, dipertemukan dengan pengalaman baru, serta menjadi bahan bagi praktik seni berikutnya.
Proses partisipatoris itu juga terlihat pada rangkaian pembukaan. Sebelum pameran resmi dibuka, diselenggarakan Aktivasi Umbul Selametan pada pagi hari sebagai bagian dari pra-acara. Prosesi budaya tersebut melibatkan warga sekaligus menghubungkan pameran dengan ruang sosial tempat pengetahuan lokal tersebut hidup.
Pemilihan Villa Oemah Biru sebagai lokasi pameran juga menjadi bagian dari konsep “Panen Tiga Jalan”. Pameran sengaja tidak ditempatkan dalam ruang galeri seni formal, melainkan berada di tengah permukiman masyarakat. Pilihan tersebut dimaksudkan untuk mendorong seni menjadi lebih inklusif dan lebih dekat dengan warga.
Pameran dibuka untuk masyarakat umum dan dilengkapi sejumlah program pendukung. Pendekatan tersebut membuat publik tidak hanya hadir sebagai penonton. Warga telah terlibat sejak proses pengumpulan pengetahuan, sementara pada tahap pameran mereka kembali menjadi bagian dari proses ketika karya dipertanyakan, ditafsirkan, dan dibicarakan.
“Bagi kami, pameran ini bukan sekadar ajang pamer karya, melainkan bukti bahwa riset partisipatoris berbasis folklor dan isu ekologi ruang publik bisa menjadi alat literasi visual sekaligus advokasi lingkungan yang lahir dari, oleh, dan untuk warga Kota Batu sendiri,” ujar Mayang.
Kolaborasi dalam “Panen Tiga Jalan” memperlihatkan salah satu kemungkinan peran perguruan tinggi dalam pengembangan seni. Kampus tidak hanya menghasilkan pengetahuan di ruang akademik, tetapi dapat mempertemukan metode penelitian dengan pengetahuan yang telah hidup di masyarakat.
Arah tersebut sejalan dengan semangat Program Inovasi Seni Nusantara. Pemerintah menempatkan PISN sebagai bagian dari skema pendanaan riset dan pengabdian yang diharapkan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat. Kemdiktisaintek juga menekankan pentingnya kolaborasi perguruan tinggi dengan berbagai pemangku kepentingan agar inovasi tidak berhenti di lingkungan kampus.
Pada “Panen Tiga Jalan”, hubungan itu berlangsung melalui kerja bersama Tim Warga Rupa, mahasiswa Seni Rupa Murni FIB UB, Pemuda Bundle, dan masyarakat Kota Batu.
Hasilnya bukan hanya tujuh karya yang dipamerkan. Ada pengetahuan lokal yang didokumentasikan, Living Archive yang dikembangkan, kapasitas riset dan pengarsipan komunitas yang diperkuat, serta ruang perjumpaan baru antara seni dengan persoalan ekologi dan kehidupan masyarakat.
Mayang berharap proses tersebut dapat terus berkembang setelah pameran berakhir.
“Kami berharap ‘Panen Tiga Jalan’ dapat menjadi ruang belajar bersama dan mendorong lebih banyak kolaborasi serupa antara perguruan tinggi dan komunitas seni akar rumput di masa mendatang,” katanya.







