Sebuah buku yang menyimpan bukti-bukti kejahatan dunia, adakalanya menjadi sebuah ancaman bagi mereka yang berbuat kejahatan.
Sengaja ditinggalkan dengan kondisi berdebu dan terpojok di rak yang rapuh. Ia diam, namun sedikit berbisik bersama angin.
Menunggu seseorang membuka, mencari kebenaran. Buku bukan hanya sekedar kertas yang dilapisi oleh tinta. Tapi juga lembaran-lembaran yang merekam bisu segala cerita.
Saksi yang tidak bisa berbicara, namun bisa dibaca. Saksi yang paling setia dalam kerahasiaan sepanjang masa.
Ada saat manusia tertawa, juga saat berduka. Andai manusia mengerti akan fakta yang tersembunyi, tanpa disadari air matanya jatuh di halaman sebelas. Hingga air mata itu masih membekas, meski kini sudah mengering dimakan waktu.
Kalian tak perlu bicara, karena ia sudah tahu, bahwa setiap ukiran kata di atas kertas adalah curhatan kesedihan.
Tentang harapan dan mimpi yang mereka susun dengan indah, atau tentang mereka yang pergi diam-diam.
Meski buku tak punya mulut untuk berbicara, tapi kalian bisa membacanya. Bacalah disaat dunia terasa hampa, mereka tidak kemana, tapi kemana kalian saat mereka ada.
Buka lagi lembarannya, lihatlah jejak-jejak frasa masa lalu, kalian yang kuat bertahan lama di luar sana, meski sempat terpaku.
Ia akan tetap di satu tempat, di tempat yang sama, di tempat yang penuh akan debu kenangan. Menyimpan segala rahasia dan cerita di jilid yang lama.
Ia memang hanya sebuah benda, tapi ia adalah cermin perjalanan hidup manusia.






