Panji Tengkorak: Animasi 2D Indonesia yang Siap Sanding Demon Slayer dan Grave of the Fireflies

Sketsamalang.com – Industri animasi Indonesia tak mau kalah bersaing dengan karya internasional. Setelah kesuksesan Jumbo pada Maret lalu, kini hadir Panji Tengkorak, animasi 2D bergenre gelap dan penuh aksi yang resmi dirilis di bioskop seluruh Indonesia pada 28 Agustus 2025. Menariknya, film ini berani hadir berdekatan dengan rilisnya dua animasi populer dunia, Demon Slayer dan Grave of the Fireflies karya Studio Ghibli. Kehadiran Panji Tengkorak menjadi bukti bahwa animasi Indonesia siap bersaing di kancah internasional.

Film ini diadaptasi dari komik legendaris karya Hans Jaladara, diproduksi oleh Falcon Pictures, dan disutradarai oleh Daryl Wilson. Komik Panji Tengkorak pertama kali terbit pada tahun 1968 dengan lima serial, kemudian didaur ulang pada tahun 1985 dan kembali diterbitkan dalam versi manga pada 1996. Popularitasnya bahkan sempat melahirkan film laga dengan judul sama pada 1971.

Produser Falcon Pictures, Frederica, mengungkapkan alasan di balik kebangkitan karakter Panji Tengkorak ke layar animasi.

“Cerita ini sebenarnya sudah dikembangkan sejak dua tahun terakhir. Kini kami ingin membangun jejak itu lagi agar generasi sekarang bisa mengenal sosok Panji yang legendaris di dunia persilatan,” ujarnya dalam jumpa pers.

Cuplikan film animasi Panji Tengkorak.(Sumber: IMDb.com)

Kisah Panji dan Misi Menghapus Kutukan

Film Panji Tengkorak (2025) mengambil latar Nusantara pada masa perguruan silat saling berebut pengaruh dan masih terlibat kental dengan ilmu hitam. Plotnya mengisahkan Panji, seorang pendekar yang kehilangan istrinya, Murni, di tangan pendekar asing misterius. Dalam pengembaraannya mencari pembunuh sang istri, Panji mengenakan topeng menyeramkan yang membuatnya dikenal dengan julukan Panji Tengkorak. Karakternya dikenal sebagai pendekar silat ilmu hitam yang membunuh tanpa pandang bulu.

Selain topeng tengkoraknya yang unik, Panji juga dibekali skill lainnya. Kemampuan pedang yang lihai dan juga air liur yang mengandung asam menambah kesan mematikan karakter utama ini.

Namun perjalanan Panji bukan sekadar balas dendam pribadi. Ilmu hitam yang dimilikinya justru menghalangi kematian dan menjerumuskannya ke dalam misi besar, yaitu mencari pusaka sakti yang diyakini dapat menghapus kutukan ilmu hitam sekaligus mencegah kehancuran dunia.

Dalam perjalanannya, Panji bertemu berbagai karakter penting, termasuk bandit gunung Kalawereng, yang menjadi lawan tangguh sekaligus bagian dari perjalanan epiknya.

Sentuhan Visual 2D Khas Komik

Film ini tampil beda dengan tetap mengusung konsep animasi 2D. Produser menjelaskan, pendekatan ini dipilih untuk mempertahankan nuansa komik klasik. Visualnya diperkaya dengan teknik matte painting, sementara gerakan karakter yang sedikit kaku justru menambah kesan unik seolah komik hidup di layar.

Pemilihan gaya ini menuai beberapa komentar pro dan kontra di kalangan penonton. Beberapa orang menganggap bahwa animator Indonesia lain bisa merealisasikan animasi ini agar terlihat lebih smooth. Tetapi perlu di garis bawahi bahwa sepak terjang animasi di Indonesia ini tergolong baru.

Dalam konten salah satu Youtuber Indonesia, Aria Gardhadipura menyampaikan, “memang harus diakui belum sempurna, masih banyak yang menjadi PR untuk project selanjutnya tapi ini bagus. Inilah yang semestinya kita dukung,” ujarnya.

Deretan Pengisi Suara dan OST

Deretan pengisi suara film ini juga mencuri perhatian publik. Denny Sumargo didapuk sebagai Panji Tengkorak, dengan penampilan suara yang dinilai kuat dan penuh wibawa. Penampilannya ini sukses membuat penonton terkesan dan merinding ketika mendengar suaranya. Selain itu ada Donny Damara (Bramantya), Aghniny Haque (Gantari), Pritt Timothy (Nagamas), Aisha Nurra Datau (Murni), Cok Simbara (Lembugiri), Donny Alamsyah (Panglima Wirabaya), Revaldo (Kakak Pertama), Tanta Ginting (Kalawereng), hingga Candra Mukti (Kuwuk).

Soundtrack film ini pun digarap serius dengan menghadirkan Iwan Fals dan Isyana Sarasvati lewat lagu Bunga Terakhir. Lagu ciptaan Bebi Romeo (1999) direkam kembali hingga menciptakan suasana yang tepat untuk film Panji Tengkorak (2025). Meski begitu, sebagian penonton menilai penempatan musik dalam beberapa adegan terasa kurang tepat, terutama saat adegan pertikaian.

Gelap, Sadis, dan Penuh Plot Twist

Cerita Panji Tengkorak banyak menggunakan teknik flashback sehingga penonton perlu fokus mengikuti alur. Adegan pertarungan yang sadis membuat film ini diberi rating 13+. Bukan sekedar pertarungan dan pertumapahan darah, film ini benar menggambarkan pertarungan Panji dengan detail yang sadis. Seperti memenggal kepala lawan dan lainnya. Meski begitu, kehadiran plot twist yang mengejutkan dan atmosfer gelapnya menjadi daya tarik tersendiri.

Dengan kisah legendaris, visual yang khas, serta dukungan aktor dan musisi ternama, Panji Tengkorak (2025) menjadikannya dinilai tak hanya mampu, tetapi patut menjadi karya animasi bangsa yang wajib ditonton!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *