Film Animasi Indonesia ‘Jumbo’ Tembus Rekor Tayang di 40 Negara

Sketsamalang.com – Film animasi Jumbo kembali menorehkan prestasi membanggakan sebagai film animasi Indonesia terlaris sepanjang masa. Sebanyak 40 negara dikonfirmasi akan menayangkan film Jumbo. Sebelumnya, dalam waktu hanya satu minggu penayangan, film yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy ini telah mencatat rekor dengan menarik lebih dari satu juta penonton di berbagai bioskop.

Dilansir dari laman Variety pada Sabtu (11/10), pencapaian ini menjadikan Jumbo sebagai film animasi Indonesia paling sukses sepanjang masa, melampaui rekor Si Juki The Movie: Panitia Hari Akhir yang bertahan selama delapan tahun.

Beberapa negara yang telah menayangkan Jumbo antara lain Vietnam, Thailand, Rusia, Belarusia, Singapura, Kirgistan, Uni Emirat Arab, dan Uzbekistan. Keberhasilan film ini menunjukkan bahwa standar produksi animasi Indonesia kini telah mencapai tingkat internasional. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan Jumbo menembus hak tayang di 40 negara di seluruh dunia.

Meskipun telah dikonfirmasi akan tayang di 40 negara, pihak produksi belum mempublikasikan daftar lengkap negara-negara yang akan menayangkan film tersebut. Namun, Visinema Pictures sebagai produksi house film animasi Jumbo, mengumumkan bahwa hak penayangannya mencakup kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, Amerika Latin, hingga Rusia.

Visinema Pictures, yang didirikan oleh Angga Dwimas Sasongko, sebelumnya juga sukses melahirkan sejumlah karya populer seperti Nussa, Mencuri Raden Saleh, dan Keluarga Cemara. Dengan Jumbo, Visinema kembali membuktikan bahwa karya animasi anak bangsa mampu bersaing serta diapresiasi secara global.

CEO Visinema sekaligus produser Jumbo, Angga Dwimas Sasongko, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari kekuatan cerita Jumbo yang berakar pada nilai-nilai keluarga dengan pendekatan naratif yang emosional dan universal.

Cuplikan Jumbo dan neneknya di film Jumbo 2025.(IMDb)

Sinopsis Film Jumbo

Film Jumbo mengisahkan Don, anak kecil berusia 10 tahun yang harus kehilangan orang tuanya dalam kecelakaan mobil. Setelah insiden itu, Jumbo dirawat oleh neneknya.

Jumbo sering diremehkan karena tubuhnya yang besar. Ia memiliki sebuah buku dongeng peninggalan orang tuanya yang berisi ilustrasi dan kisah ajaib. Bagi Jumbo, buku itu bukan hanya sekedar kenang-kenangan, tetapi juga sumber pelarian dan inspirasi baginya di tengah dunia yang kerap tidak ramah.

Suatu hari, Don bertekad membuktikan kemampuannya lewat sebuah pertunjukan bakat, menampilkan sandiwara panggung yang terinspirasi dari buku tersebut. Namun, rencananya berantakan ketika buku itu dicuri oleh temannya. Dalam keputusasaan, Don mendapat dukungan dari sang Oma dan dua sahabatnya, Nurman dan Mae.

Hingga suatu ketika, ia bertemu Meri. bidadari kecil misterius yang meminta bantuannya untuk menemukan orang tuanya.

Pertemuan itu membawa Don ke dalam petualangan penuh keajaiban yang mengajarkannya arti keberanian, persahabatan, dan kepercayaan diri, sekaligus mengubah pandangannya terhadap diri sendiri.

Dilansir dari Radar Surabaya, Angga menjelaskan, “Jumbo kami bangun dengan economic runway yang panjang agar proses kreatifnya matang. Kreator butuh waktu untuk menciptakan sesuatu yang relevan lintas generasi.”

Sementara itu, sang sutradara Ryan Adriandhy mengonfirmasi bahwa ia telah memiliki ide untuk sekuel Jumbo, baik dari segi tema maupun arah ceritanya. Namun, ia menekankan bahwa proyek lanjutan tersebut akan memerlukan waktu karena harus digarap dari awal agar tetap menjaga kualitas dan orisinalitas cerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *