Oleh: Ine Trivena (Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Merdeka Malang)
Sketsamalang.com – Membangun wisata desa tak semudah membalikkan telapak tangan. Itulah yang dirasakan oleh Zayyan dan tim pengelola Telaga Madiredo, Desa Madiredo, Kecamatan Pujon. Di tengah menjamurnya destinasi wisata modern di Malang Raya, Telaga Madiredo kini sedang berjuang menjaga eksistensinya melalui inovasi dan keteguhan hati.
Perjalanan ini dimulai pada awal 2017. Zayyan, yang kini tergabung dalam tim pengelola, mengenang masa-masa awal saat ide menjadikan telaga sebagai tempat wisata mulai digulirkan.
Kala itu, tempat ini hanyalah sumber mata air alami yang belum tersentuh manajemen profesional. Mengubah pola pikir masyarakat dan menyatukan visi untuk membangun wisata desa bukanlah perkara mudah. Perlu waktu dua tahun untuk benar-benar mempersiapkan infrastruktur dasar sebelum akhirnya mulai dikenal luas.
Namun, ujian sesungguhnya datang tanpa peringatan. Baru saja Telaga Madiredo mulai menapakkan kaki di industri pariwisata, pandemi COVID-19 melanda pada akhir 2019.
“Saat itu suasana mendadak sunyi. Rencana yang sudah kami susun rapi harus terhenti total,” ungkap zayyan.
Selama hampir dua tahun, telaga ini seolah kehilangan napasnya. Kunjungan nihil, sementara beban perawatan lingkungan tetap berjalan. Masa-masa ini menjadi ujian kesabaran bagi Zayyan dan tim.

Titik balik terjadi pada tahun 2021. Alih-alih meratapi keadaan yang sepi, tim pengelola justru mengambil langkah berani. Mereka memanfaatkan momen “jeda” pandemi untuk melakukan renovasi besar-besaran dan membangun berbagai fasilitas baru.
Pembangunan digalakkan demi menyambut kembalinya wisatawan.
Strategi ini membuahkan hasil di tahun 2022. Wisatawan yang rindu akan alam terbuka mulai membanjiri Telaga Madiredo. Pada periode ini, telaga kembali menjadi primadona di Kabupaten Malang dengan kejernihan airnya yang viral di berbagai media sosial.
Dunia wisata adalah dunia yang dinamis. Setelah sukses di 2022, Telaga Madiredo kini menghadapi fase baru yang tidak kalah berat. Menjamurnya destinasi wisata buatan dan spot foto kekinian di wilayah Pujon dan Batu menjadi tantangan serius.
Tahun-tahun belakangan ini, tren kunjungan cenderung menurun karena wisatawan memiliki lebih banyak pilihan. Zayyan mengakui bahwa selain persaingan eksternal, kendala internal juga menjadi sandungan.
“Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola menjadi tantangan besar. Mencari tim yang memiliki visi yang sama dan konsistensi dalam mengelola wisata desa itu sulit,” ungkapnya.
Tim yang ada harus bekerja ekstra keras untuk menjaga standar pelayanan di tengah keterbatasan jumlah personel.

Menolak untuk tenggelam oleh persaingan, Telaga Madiredo terus bertransformasi. Pengelola tidak lagi hanya menjual “pemandangan air jernih”, tetapi juga pengalaman (experience). Beberapa fasilitas baru dihadirkan sebagai senjata untuk menarik kembali minat pengunjung seperti Camping Ground, Terapi Ikan, hingga Pujasera
Bagi Zayyan dan tim, Telaga Madiredo adalah warisan yang harus diperjuangkan. Meski kini harus kembali berjuang keras di tengah banyaknya pesaing baru, semangat mereka tidak surut. Perjuangan mereka adalah bukti bahwa mengelola wisata desa bukan hanya soal mencari laba, tapi soal menjaga kebanggaan dan kemandirian sebuah desa.
Kini, Telaga Madiredo tetap berdiri anggun, menanti setiap pengunjung yang ingin mencicipi ketenangan, sembari terus berbenah demi masa depan yang lebih cerah.






