Sketsamalang.com – Enam santri tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang sukses meraih medali perak dalam ajang Bali International Science Fair (BISF) 2026 yang berlangsung pada pertengahan Juni 2026. Prestasi internasional ini diraih berkat inovasi “Ecouiet”, sebuah panel peredam suara dari limbah organik yang dirancang khusus untuk menekan polusi suara di lingkungan belajar.
Tim berbakat ini digawangi oleh Ahmad Adila Al Ghifari, Abyan Agha Al Ghifari, Faizul Umam, Farrand Al Azka, Haidar Abimanyu Tuarita, dan Muhammad Mahir. Mereka berhasil menyisihkan berbagai delegasi pelajar mancanegara, mulai dari Amerika Serikat, kawasan Asia Tenggara, Kazakhstan, hingga Uzbekistan, dalam kompetisi yang diinisiasi oleh Indonesian Young Scientist Association* (IYSA) tersebut.
Manfaatkan Ampas Tebu hingga Sabut Kelapa
Inovasi Ecouiet lahir dari kegelisahan para santri terhadap kebisingan yang kerap mengganggu konsentrasi belajar. Uniknya, panel peredam suara ini memanfaatkan material ramah lingkungan yang mudah ditemukan di sekitar kita. Bahan-bahan utama pembuatan Ecouiet meliputi, ampas tebu, sabut kelapa, kertas bekas, arang hitam (sebagai penguat struktur).
Perwakilan tim, Haidar Abimanyu Tuarita, menjelaskan bahwa panel ini memiliki ketebalan 2,5 sentimeter dengan hasil akhir bertekstur padat menyerupai semen.
“Kami menambahkan campuran arang hitam dalam proses pembuatannya. Fungsinya agar struktur panel menjadi lebih padat, sehingga mampu menyerap gelombang suara dengan jauh lebih optimal,” ujar santri kelas 8 yang akrab disapa Abi tersebut, Senin (15/6/2026).

Uji Efektivitas Menggunakan Aplikasi Digital
Untuk membuktikan performa Ecouiet, tim melakukan serangkaian uji coba mandiri yang terukur. Mereka membuat kotak kardus simulasi yang bagian dinding dalamnya dilapisi oleh panel peredam tersebut.
Selanjutnya, musik bervolume tinggi diputar dari dalam kotak. Penurunan tingkat kebisingan kemudian diukur menggunakan alat digital.
“Kami menggunakan aplikasi decibel meter yang diunduh langsung melalui Google Play Store. Pengukuran ini membuktikan bahwa panel kami bekerja dengan sangat praktis dan efektif menurunkan intensitas suara,” imbuh Abi.
Tantangan Formula Selama Empat Pekan
Di balik kesuksesan meraih medali perak, proses perakitan produk ini tidaklah instan. Anggota tim lainnya, Muhammad Mahir dan Faizul Umam, memaparkan bahwa mereka menghadapi kendala teknis yang cukup menantang selama empat minggu masa pengerjaan.
Waktu yang relatif singkat menuntut para santri untuk bergerak cepat, mulai dari tahap penggalian ide hingga proses eksperimen laboratorium.
“Tantangan terbesar kami adalah menemukan komposisi formula yang pas agar adonan material organik ini bisa merekat sempurna dan menghasilkan tekstur panel yang sesuai dengan standar,” ungkap Mahir.
Harapan Menuju Produksi Massal
Capaian luar biasa di tingkat internasional ini menuai apresiasi mendalam dari pihak pesantren. Pembina Karya Ilmiah Remaja (KIR) PPI AMF, Nabila Almayda, mengaku bangga atas dedikasi dan kerja keras anak didiknya.
“Kami sangat bersyukur. Semoga santri-santri PPI AMF tidak cepat puas dan terus berkembang melahirkan inovasi baru yang membawa manfaat luas bagi masyarakat,” pungkas Nabila.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa usia muda bukan halangan untuk menciptakan teknologi hijau yang berdaya guna. Ke depannya, inovasi Ecouiet diharapkan mendapat dukungan riset lanjutan agar dapat disempurnakan dan diproduksi secara massal. Dengan begitu, masalah kebisingan di ruang kelas maupun fasilitas umum dapat teratasi melalui material yang ramah lingkungan.(*)






