Dukung SDGs, KKN FBiPK UB Optimalkan Pematang Sawah untuk Konservasi Plasma Nutfah

Sketsamalang.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Brawijaya (UB) menginisiasi pemanfaatan pematang sawah sebagai lahan produktif. Sekaligus ruang konservasi plasma nutfah di Desa Kemiri, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Optimalisasi pematang sawah untuk konservasi plasma nutfah merupakan upaya menjaga keanekaragaman hayati pertanian (SDG 15), memperkuat ketahanan pangan (SDG 2), dan membangun sistem pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim (SDG 13).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pengabdian kepada masyarakat dosen yang terintegrasi dengan program KKN mahasiswa Fakultas Bioindustri, Pertanian, dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya. Program ini didampingi oleh dosen pembimbing KKN, Dr. Uma Khumairoh, S.P., M.Sc. dan Dr. Euis Elih Nurlaelih, S.P., M.Si.

Pada tahap awal, mahasiswa bersama masyarakat berhasil menanam sekitar 250 bibit tanaman yang terdiri atas bayam merah, jagung, terong, tomat, kacang, kol, dan kedelai. Beragam komoditas tersebut dipilih untuk mengoptimalkan ruang di sekitar sawah tanpa mengganggu tanaman utama.

Dr. Uma Khumairoh menjelaskan, pemanfaatan pematang sawah tidak hanya diarahkan untuk menambah fungsi ekonomi lahan, tetapi juga menjadi upaya menjaga keragaman sumber daya genetik tanaman. Pematang yang selama ini lebih banyak berfungsi sebagai batas antar lahan dapat dikembangkan menjadi ruang budidaya yang produktif, terawat, dan memberi manfaat langsung bagi petani.

“Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penanaman pada pematang sawah berpotensi meningkatkan pendapatan petani melalui hasil tambahan yang dapat dikonsumsi maupun dipasarkan. Penutupan lahan dengan tanaman budidaya juga dapat menekan pertumbuhan gulma sehingga pematang lebih mudah dikelola,” jelasnya.

Mahasiswa KKN UB menanam beragam komoditas pada pematang sawah sebagai bagian dari inisiasi konservasi plasma nutfah. Dokumentasi: Tim KKN Desa Kemiri.

Keberagaman tanaman di pematang sawah juga dapat mendukung fungsi ekologis sebagai refugia. Vegetasi tersebut berpotensi menyediakan tempat berlindung dan sumber pakan bagi serangga berguna serta musuh alami hama.

“Dengan demikian, pengelolaan pematang dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem pertanian dan mendukung pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan,” tandasnya.

Lebih lanjut, Dr. Euis Elih Nurlaelih mengatakan, bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi sarana untuk menerapkan pengetahuan secara langsung di tengah masyarakat. Mahasiswa terlibat sejak penyiapan lahan, penanaman, hingga pengenalan manfaat konservasi plasma nutfah serta pertanian berkelanjutan kepada masyarakat setempat.

“Penanaman sekitar 250 bibit tersebut menjadi langkah awal pengembangan model pemanfaatan pematang sawah di Desa Kemiri,” ujarnya.

Keberlanjutan program akan didukung melalui pemeliharaan tanaman, pemantauan pertumbuhan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hasilnya.

Melalui integrasi pengabdian masyarakat dosen dan kegiatan KKN mahasiswa, program ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

“Inisiatif tersebut diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa setiap bagian lahan pertanian dapat dimanfaatkan secara produktif. Sekaligus mendukung pelestarian keanekaragaman hayati dan peningkatan kesejahteraan petani,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *