Sketsamalang.com, Jakarta — Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di dunia usaha Indonesia memasuki fase baru. Memasuki tahun 2026, AI tidak lagi dipandang sebagai inovasi eksperimental atau simbol kemajuan teknologi, melainkan sebagai fondasi kerja yang menuntut kedewasaan dalam penerapan serta pengelolaannya.
Secara global, tingkat adopsi AI terus meningkat. Namun, tantangan utama yang dihadapi perusahaan saat ini bukan lagi pada keputusan untuk berinvestasi, melainkan pada kematangan implementasi. Riset McKinsey mencatat bahwa meskipun hampir seluruh perusahaan telah mengalokasikan investasi pada AI, hanya sekitar satu persen yang menilai inisiatif tersebut telah terintegrasi secara menyeluruh ke dalam operasional bisnis.
Kondisi tersebut menandai pergeseran peran AI dari fase eksplorasi menuju tahap eksekusi yang lebih disiplin dan terukur. Sepanjang 2025, Exabytes mencermati peningkatan signifikan minat pelaku usaha terhadap pemanfaatan AI, khususnya generative AI, untuk mendorong efisiensi kerja dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Seiring dengan semakin luasnya adopsi, nilai AI dinilai tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kesiapan sistem, proses kerja, serta sumber daya manusia yang menggunakannya. Pendekatan ini turut diterapkan dalam pemanfaatan AI di internal Exabytes.
Pada sejumlah fungsi operasional, seperti customer insights dan quality control, implementasi AI terbukti mampu meningkatkan produktivitas hingga 90 persen melalui proses kerja yang lebih cepat, konsisten, dan berbasis data. Sementara itu, di bidang pemasaran, AI berperan sebagai pendukung pengembangan kreatif yang dapat memangkas waktu kerja hingga 75 persen, sekaligus mempercepat produksi konten tanpa mengorbankan kualitas.
“AI telah menjadi elemen strategis dalam mendorong transformasi cara kerja perusahaan. Dengan pendekatan yang terukur dan bertanggung jawab, AI memungkinkan tim kami berfokus pada inisiatif bernilai tinggi, mempercepat pengambilan keputusan, serta meningkatkan daya saing bisnis secara berkelanjutan,” ujar VP & Country Manager Exabytes Indonesia, Indra Hartawan.
Perubahan cara pandang tersebut menjadikan tahun 2026 sebagai momentum bagi dunia usaha untuk meninggalkan euforia teknologi dan memasuki fase implementasi yang lebih disiplin. AI kini tidak lagi diposisikan sebagai tren semata, melainkan sebagai bagian dari arsitektur bisnis modern yang menopang ketahanan serta pertumbuhan jangka panjang.






