Sketsamalang.com – Universitas Negeri Malang (UM) semakin memperkuat komitmennya sebagai kampus ramah lingkungan dengan meluncurkan kebijakan baru dalam program Green Campus. UM secara resmi mengimbau seluruh sivitas akademika beserta mitra kerja untuk meninggalkan penggunaan karangan bunga konvensional berbahan plastik, styrofoam, maupun kertas, dan beralih menggunakan tanaman hidup serta ucapan digital dalam setiap acara formal kampus, termasuk pada prosesi wisuda Juni 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata untuk menekan volume limbah anorganik yang sulit terurai sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan di area kampus.
Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menjelaskan bahwa karangan bunga konvensional yang masuk ke kampus selama ini berpotensi besar menumpuk menjadi sampah baru. Material penyusunnya mayoritas menggunakan bahan yang tidak ramah lingkungan.
“Kami berupaya agar setiap apresiasi atau ucapan selamat yang diberikan kepada UM tidak meninggalkan dampak negatif bagi ekosistem. Oleh karena itu, karangan bunga berbahan kertas dan plastik kita hilangkan,” ujar Prof. Hariyono.

Sebagai gantinya, pihak kampus mengarahkan agar kiriman tersebut diganti menjadi tanaman hidup atau ucapan daring (online) yang diunggah melalui media sosial. Menurutnya, metode digital justru jauh lebih efektif, efisien, dan bersih.
“Cara ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi kami harap bisa bergeser menjadi budaya baru yang melekat dalam setiap aktivitas kampus ke depan,” imbuhnya.
Dukungan SDGs dan Manfaat Jangka Panjang
Direktur Badan Pengelola Usaha dan Dana Abadi (BPUDA) UM, Dr. Agus Sunandar, S.Pd., M.Sn., menambahkan bahwa kebijakan ini selaras dengan agenda *Sustainable Development Goals* (SDGs) yang tengah digalakkan pihak universitas.
Pada momen wisuda kali ini, spanduk atau banner plastik pada ucapan selamat mulai digantikan dengan bibit tanaman, baik jenis tanaman pelindung maupun tanaman produktif.
“Jika biasanya ucapan selamat menggunakan media spanduk yang sekali pakai lalu dibuang, sekarang kita ubah menjadi bibit tanaman. Selain tidak mengotori lingkungan, tanaman ini akan terus tumbuh dan menjadi kenangan yang hidup,” kata Dr. Agus.
Senada dengan hal itu, Kepala Subdirektorat Sarana dan Prasarana UM, Faul Hidayatunnafiq, S.Kom., M.M., menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan tindak lanjut resmi dari surat edaran Wakil Rektor II.
Pihak Sarpras memastikan bahwa seluruh tanaman hidup yang masuk ke kampus tidak akan terbuang sia-sia setelah acara selesai.
“Begitu prosesi atau kegiatan selesai, tanaman-tanaman tersebut langsung kami alokasikan untuk ditanam di berbagai sudut lingkungan UM. Manfaatnya jangka panjang, membuat area kampus kita menjadi semakin hijau dan asri,” tutup Faul.






