Tumbal di Malam Bulan Darah

Apakah kalian tahu bahwa di dunia ini kita hidup berdampingan dengan empat makhluk ciptaan Tuhan. Banyak yang mengira bahwa kita hanya berdampingan dengan manusia, hewan dan tumbuhan, tanpa menyadari ada satu hal yang tertinggal yaitu Jin. Ya, jin juga ciptaan dari Tuhan dimana mereka tinggal di dimensi yang berbeda. Bukan berarti tidak ada, hanya saja kita yang tidak bisa melihat mereka. Tuhan sengaja membatasi penglihatan kita agar hidup tanpa ketakutan. Mereka ada di sekitar kita, bahwa melakukan aktifitas seperti kita manusia. Mereka bekerja, berbelanja, memasak, juga makan dan minum. Bahkan banyak diantara mereka yang beribadah. Bedanya, mereka terbagi menjadi dua golongan, golongan jahat dan golongan baik. Golongan baik itulah yang menyembah Tuhan, sedang golongan jahat yang suka menganggu dan mencelakai manusia. Golongan jahat juga terbagi menjadi beberapa tingkatan, beruntung kalian jika bertemu dengan golongan rendah, tapi lebih baik menghindari golongan tinggi. Demi Tuhan, kalian yang lemah iman tidak sanggup mereka yang memiliki kemampuan atas. Adakalanya benda-benda yang tampak biasa, bisa saja bukan hanya sekedar benda biasa. Simak cerita dibawah ini!

Putra bersama keluarganya yang kecil baru saja tiba di tanah Maluku, tanah yang dianggap berkah bagi sebagian masyarakat Maluku. Istrinya, Citra, sedang mengandung anak kedua mereka, sementara anak pertama mereka masih berusia 11 tahun. Mereka datang karena perpindahan tugas Putra yang tidak bisa ditawar. Sebelum pindah, Putra telah merancang skema hidup selama mereka berada di tanah orang. Mereka menyewa sebuah rumah di pedalaman terpencil, di mana tidak banyak penduduk yang tinggal karena jaraknya cukup jauh dari pusat kota. Putra bekerja sebagai dokter umum, dan istrinya hanyalah ibu rumah tangga biasa yang memahami setiap kondisi suaminya. Mereka hidup sederhana, namun dipenuhi cinta dan tawa anak sulung mereka, Johan. Usia kandungan Citra kini memasuki bulan kelima, di mana perkembangan janin mulai aktif bergerak dan mendengar.
Hingga pada suatu malam, langit bercampur dengan cahaya bulan dan diselimuti kunang-kunang dalam kegelapan. Citra melihat cahaya yang tidak biasa di seluruh pelosok kampung. Padahal suasana sunyi dan sepi menunjukkan waktu sudah lewat jam sepuluh malam, dan para penduduk telah terlelap. Saat itu, Citra tidak bisa tidur dan menunggu suaminya pulang. Sebelum mereka menempati rumah itu, mereka telah dihimbau untuk segera menutup pintu rumah dan dilarang keluar jika melihat cahaya merah sebelum subuh. Para tetua kampung telah memperingatkan Putra dan Citra bahwa bulan darah adalah tanda buruk. Bulan darah yang mereka maksud di sini adalah cahaya yang memancarkan sinar merah darah, waktu di mana kekuatan ilmu hitam merajalela. Putra dan Citra memastikan untuk menaati semua himbauan tersebut. Mereka juga tidak lupa menempatkan garam kasar di ambang pintu yang diberikan oleh tetua kampung untuk melindungi mereka. Meskipun terdengar konyol, tidak ada salahnya mengikuti ikhtiar untuk menjaga diri dari gangguan ilmu hitam.
Putra pun datang, dan Citra segera melayani suaminya. Mereka tidak lupa berbincang sedikit tentang kegiatan Putra hari itu. Setelah itu, Putra dan Citra pun tidur, sementara Johan tidur di kamar sebelah. Citra sengaja tidak menutup pintu kamar mereka agar anak mereka tidak ketakutan saat tidur sendiri. Namun, menjelang tengah malam, Citra terbangun oleh suara gemerisik aneh dari arah luar dapur, tempat barang-barang usang seperti kayu dan perabotan plastik. Ia menduga bahwa itu hanya tikus biasa. Namun, suara itu kemudian menjadi ganas, seperti mengoyak sesuatu, diikuti oleh bisikan-bisikan aneh seolah ada yang berbicara dalam bahasa yang tidak dikenali. Rasa takut Citra semakin meningkat, hingga ia memeluk Putra dengan erat.
Citra membangunkan suaminya yang tidur nyenyak. Meski dengan tatapan lelah, Putra acuh terhadap istrinya dan memeriksa sumber suara. Putra meraih parang kecil yang selalu ia letakkan di samping tempat tidur. Ia mulai merasa merinding dan jantungnya berdebar kencang saat melangkah perlahan ke arah pintu belakang. Tiba-tiba, ia menutup hidungnya karena bau anyir dan amis yang kuat menusuk hidungnya, membuat perutnya mual. Ketika ia sampai di dapur, ia melihat ada lubang kecil yang tidak ditutup. Awalnya, Putra dan Citra membiarkan lubang itu karena ukurannya yang tidak terlalu besar. Putra melihat dapur masih dalam kondisi aman, hingga ia memberanikan diri untuk mengintip ke celah lubang tersebut. Pemandangan di matanya membuat darahnya mengering, dan seketika ia mundur dengan wajah pucat. Istrinya, yang bingung dengan gelagat suaminya, ingin berbicara, tetapi ditahan oleh Putra. Segera, Putra membawa istri dan anak sulungnya ke dalam kamar mereka.
Sosok makhluk dengan baju warna merah, rambut berantakan, mata yang memancarkan cahaya merah, dan kulit yang terlihat seperti terbakar sedang memakan bangkai tikus yang ukurannya tidak manusiawi. Makhluk itu membungkuk di atas sebuah meja. Tangan-tangan kurus dan kuku yang tajam seperti pisau sibuk mencabik tikus yang sudah mati. Kemudian, makhluk itu terlihat seperti sedang mengaduk sesuatu di baskom hitam. Hingga makhluk itu pergi dengan terbang seolah tidak masuk akal. Putra teringat kata tetua tentang makhluk bernama suanggi. Suanggi merupakan salah satu ilmu hitam yang terkenal di daerah Papua dan Maluku. Mereka bukan jin, bukan juga setan, melainkan manusia yang belajar ilmu hitam sehingga berubah menjadi suanggi.
Saat suanggi itu ingin pergi, Johan, anak sulung mereka, menangis karena dibangunkan dengan suara berisik tadi (nyebelin banget, sumpah). Suanggi itu berhenti dan menoleh ke arah rumah mereka. Wajahnya mengerikan, kulitnya keriput hitam seperti bekas luka bakar, dan bibirnya tersenyum lebar menampakkan gigi-gigi runcing yang berlumuran darah. Dari mulutnya, menetes cairan merah kental yang berbau bangkai. Putra nyaris menjerit saat menyadari makhluk itu menghampiri rumah mereka.
Datanglah pria tua dengan baju compang-camping, tubuh yang kotor seperti tidak mandi, tetapi raut wajahnya tenang. Makhluk itu berhenti saat melihat pria tua itu dan memilih untuk pergi meninggalkan mereka. Meski lubangnya tidak terlalu besar, Putra masih melihat pria tua itu memandang ke arah mereka sebelum pergi begitu saja.
Putra, yang penasaran dengan isi baskom tadi, pun memberanikan diri untuk melihat ke dalamnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat potongan-potongan daging merah, beberapa di antaranya masih bergerak-gerak. Di antara potongan-potongan itu, ada ari-ari bayi dan sepotong kain bercorak bunga kecil.
Keesokan harinya, penduduk dibuat heboh karena ada warga yang kehilangan bayinya tadi malam. Hingga Putra menjelaskan kejadian tadi malam dan menunjukkan lokasi kejadian, ia sengaja tidak membersihkan ulah suanggi karena ia hanya manusia biasa; rasa takut pasti ada.
“Tidaaakkk.. anakku, anak bayikuuu!” teriak histeris seorang ibu yang masih berjalan pincang pasca melahirkan. Putra ingat, tadi malam suanggi itu tertawa dan berbicara, suaranya lantang dan menyeramkan, seperti gesekan tulang. “Lezat sekali, darah segar dan daging yang kenyal. Energi yang sempurna untuk hidupku.” Kata suanggi itu.
Putra dan citra masih dibaluri rasa Syukur karena mereka selamat dari kejadian itu. Sebuah jerita pilu masih terngiang di telinga putra dan citra. Tidak lama, datanglah pria tua yang semalam putra lihat. Disitu pria yang terlihat kotor menggunakan baju bersih, sebuah baju sederhana dan celana kain polos warna putih. Menghampiri mereka dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
“Kalian kehilangan bayi karena kalian melanggar aturan. Apabila bayi sudah lahir, jangan biarkan istrimu sendirian, dan mandikan anakmu dengan daun jeruk purut. Aku tau, sapu lidi yang kalian taruh dibelakang pintu sudah hilang,” kata pria itu sambil menyilangkan tangan ke belakang.
Pasangan suami istri itu pun semakin menjerit histeris, mengingat mereka telah lalai terhadap perintah tetua. Mereka hanya bisa menangis tanpa henti, memeluk kain bercorak bunga milik bayi mereka. Tidak ada jejak yang ditinggalkan si suanggi, seolah-olah semua itu hanyalah ilusi kejam. Sejak saat itu, Putra dan Citra tidak akan menganggap remeh himbauan yang diberikan, dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melanggar.
Hari demi hari berlalu, usia kandungan Citra sudah memasuki hari kelahiran, di mana Putra siaga untuk menjaga dan berhati-hati. Sebelum hari kelahiran, Putra pergi ke sebuah gunung, tempat pria tua itu tinggal. Ia meminta air dan penangkal suanggi. Ternyata, pria itu adalah juru kunci para suanggi di pulau itu. Tidak ada yang berani melawan atau menantangnya. Konon, kata penduduk, pria itu memiliki dua puluh tiga penjaga berkekuatan tinggi yang selalu mendampinginya ke mana pun dia pergi. Itu sebabnya, para suanggi pun takut jika berhadapan dengannya.
Setelah itu, putra Kembali ke rumahnya dan siap menemani istrinya melahirkan. Malam itu terasa dingin, putra berharap tidak ada kejadian yang mengerikan. Ia teringat dengan pesan pria itu, untuk menyirami halaman rumahnya dengan air yang sudah diberikan. Tidak lupa dengan rendaman air jeruk purut dan sapu lidi, juga sebuah peniti yang di kaitkan di kain bayi. Proses melahirkan di mulai, citra mendorong sekuat tenaga dengan suara yang terasa sakit di dengar. Meski putra adalah dokter, namun ia hanyalah dokter umum. Ia meminta bantuan dukun beranak untuk membantu persalinan istrinya. Putra tidak hanya melihat tetapi juga mengawasi jalan lahiran istrinya. Hingga saat kepala bayi mulai terlihat, putra di kagetkan dengan dobrakan pintu depan. Saat dilihat tidak ada seorang pun di luar. Ia mulai merasa was-was, tetiba ada suara orang berjalan dengan tergesah di atas genteng. Dukun itu mengatakan jangan terlalu jauh dari istrinya. Ia pun Kembali menemani sang istri.
“Dimana daging lezat itu,” suara seram memecahkan suasana.
Putra yang sudah diselimuti oleh rasa takut tiba-tiba ingat sebuah pesan, “Jika ia datang, pukul sapu lidi ke tanah tiga kali, dan siram air yang ku beri diawal kea rah makhluk itu,” ia pun menjalankan perintah sang pria tua.
Ia menghentakkan sapu lidi dan menyiramkan ke sumber suara itu. Seketika suanggi itu berteriak dan mengeluarkan Cahaya merah. Dari sela-sela geteng dan jendela terlihat sebuah api yang mengejar suanggi hingga menghilang seperti dimakan bumi. Proses persalinan berjalan lancar, putra dikaruniai anak kedua berjenis kelamin laki-laki. Segera putra memberikan kain yang sudah diberi peniti, dan memandikan bayi mereka dengan air rendaman jeruk purut.
Sejak saat itu putra memutuskan mutasi dari tempat ia bekerja. Meski harus menerima cacian dan makian dari pihak rumah sakit, mau disetujui atau tidak, ia akan pergi. Sejak saat itu pemahaman mereka tentang ilmu hitam tidak pernah sama lagi. Putra menyakini jika ada ilmu hitam dan santet. Citra yang pasca melahirkan pun terlihat lebih pendiam dan murung. Putra takut istrinya terkena gangguan jiwa setelah kejadian-kejadian tidak masuk akal selama ini.
Di perjalanan menuju kapal, putra dan citra tidak sengaja melihat seorang ibu yang terlihat familiar. Mereka kenal dengan ibu itu, ibu yang kehilangan bayinya beberapa waktu lalu. Ibu itu selalu menatap kosong kearah hutan pegunungan. Seperti menunggu sesuatu untuk Kembali. Seorang bapak yang merupakan suami sang ibu memanggil nama bayi mereka yang bahkan belum sempat mereka gendong. Perjalanan di kampung itu terasa lebih panjang dan dingin. Setiap kali teringat bulan darah, citra memeluk erat anak sulung dan bayinya, berdoa agar kutukan suanggi tidak mengikuti keluarga mereka. Dan mau dimana pun, putra masih teringat aroma anyir dan amis yang kadang masih tercium samar, sebuah pengingat mengerikan akan tumbal yang diambil di malam bulan darah. Tamat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *