Sketsamalang.com – Timnas Indonesia U-23 bersiap melakoni laga krusial kedua Grup J Kualifikasi Piala Asia U-23 2026 melawan Macau U-23. Pertandingan yang akan digelar di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Sabtu (6/9/2025) ini menjadi momen wajib menang bagi Garuda Muda jika tidak ingin peluang lolos ke putaran final semakin sempit.
Beban berat berada di pundak skuad asuhan Gerald Vanenburg setelah mengawali kualifikasi dengan hasil yang kurang memuaskan. Ditahan imbang 0-0 oleh Laos pada laga perdana (3/9), Indonesia kini tertahan di peringkat kedua klasemen dengan koleksi satu poin. Hasil tersebut menjadi sebuah kekecewaan, mengingat Kadek Arel dan kawan-kawan tampil sangat dominan sepanjang pertandingan.
Statistik menunjukkan superioritas Indonesia dengan 77% penguasaan bola dan total 35 tembakan dilepaskan, 11 di antaranya mengarah tepat ke gawang. Namun, dominasi tersebut gagal dikonversi menjadi gol. Serangan yang dibangun kerap menemui jalan buntu akibat penyelesaian akhir yang tumpul dan kurangnya variasi. Situasi ini menjadi alarm bagi tim pelatih untuk segera mencari solusi jelang menghadapi Macau.
Evaluasi Lini Serang dan Potensi Rotasi
Sorotan utama pasca laga kontra Laos tertuju pada efektivitas lini depan. Pelatih Gerald Vanenburg, yang menerapkan formasi 4-3-1-2, belum berhasil membuat duet Jens Raven dan Rafael Struick bekerja maksimal. Khususnya Jens Raven, performa striker Bali United itu dinilai belum kembali ke level terbaiknya hingga harus ditarik keluar pada awal babak kedua.
Vanenburg kini dihadapkan pada pilihan untuk tetap memberinya kepercayaan atau melakukan rotasi dengan memainkan Hokky Caraka sebagai ujung tombak sejak menit awal.
Selain itu, skema serangan Garuda Muda juga perlu dibenahi. Meski para pemain sayap seperti Dony Tri Pamungkas aktif membantu serangan, pergerakan tanpa bola dan kualitas umpan akhir seringkali tidak akurat.
Pemanfaatan bola mati, baik dari sepak pojok maupun lemparan ke dalam jarak jauh yang menjadi andalan Robi Darwis, juga terbukti belum mampu membongkar pertahanan lawan yang disiplin. Vanenburg dituntut untuk meracik strategi yang lebih variatif dan klinis.
Misi Kebangkitan dan Kunci Kemenangan
Di atas kertas, Macau U-23 seharusnya menjadi lawan yang bisa diatasi oleh Timnas Indonesia U-23. Rekam jejak mereka yang buruk, termasuk kekalahan telak 0-5 dari Korea Selatan di laga pembuka, menempatkan Indonesia sebagai favorit kuat.
Namun, hasil imbang melawan Laos menjadi pelajaran berharga bahwa status unggulan tidak menjamin kemenangan. Garuda Muda tidak boleh lengah dan harus menunjukkan mentalitas pemenang sejak peluit awal dibunyikan.
Mencetak gol cepat di 15 menit pertama diyakini akan menjadi kunci untuk meruntuhkan kepercayaan diri lawan dan membuka keran gol. Kemenangan dengan skor meyakinkan, setidaknya dengan margin tiga gol, tidak hanya penting untuk menjaga asa lolos, tetapi juga untuk membangkitkan kembali moral tim.
Tiga poin dari laga ini akan menjadi modal vital sebelum menghadapi lawan terkuat di grup, Korea Selatan, pada pertandingan penutup.






