Sketsamalang.com – Serial original VISION+ berjudul POTE mengangkat sosok supernatural yang terinspirasi dari legenda lokal Pulau Bawean, Jawa Timur. Dikenal sebagai Oreng Pote atau orang putih, sosok ini menjadi pusat teror dalam cerita tentang lima dokter muda yang terjebak dalam kutukan mematikan di Pulau Marunda.
Dalam cerita yang berkembang di masyarakat Bawean, Oreng Pote digambarkan sebagai makhluk gaib berwujud menyerupai manusia dengan kulit putih pucat seperti mayat. Sosok ini juga dipercaya membawa pertanda buruk bagi orang yang melihatnya.
Menurut laporan Radar Jogja berjudul Misteri Hantu Oreng Pote dari Pulau Bawean, Oreng Pote dalam bahasa lokal berarti “orang putih”. Legenda tersebut menggambarkannya sebagai sosok menyeramkan yang kemunculannya dipercaya berkaitan dengan berbagai malapetaka.
Menurut cerita turun-temurun yang dikutip Radar Jogja, Oreng Pote diyakini sebagai jelmaan arwah seorang penjajah yang meninggal akibat penyiksaan di Pulau Bawean. Namun, kisah tersebut merupakan bagian dari legenda lokal dan tidak dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi.
Kepercayaan yang berkembang di masyarakat juga mengaitkan kemunculan Oreng Pote dengan petaka yang tidak hanya menimpa orang yang melihatnya, tetapi berpotensi memengaruhi seluruh kampung.
“Masyarakat percaya bahwa ketika seseorang melaporkan telah melihat sosok hantu ini, seluruh kampung akan dilanda kecemasan. Mereka meyakini bahwa bencana besar akan segera datang, seperti penyakit aneh, keruntuhan usaha, atau bahkan kematian yang mendadak,” demikian laporan Radar Jogja.
Oreng Pote Menjadi Inspirasi Teror dalam Serial POTE
Legenda tersebut kemudian dikembangkan menjadi cerita horor modern dalam serial POTE. Deputy CEO VISION+, Clarissa Tanoesoedibjo, menjelaskan bahwa serial ini berangkat dari cerita rakyat mengenai orang Pote atau orang putih yang dikenal di Pulau Bawean.
“Yang membedakan si hantu ini atau makhluk ini dengan hantu-hantu yang lain, jadi: what is coming after you encounter the ghost. Jadi bukan hanya penampakan, tapi dampak setelah penampakan itu,” ujar Clarissa Tanoesoedibjo dalam konferensi pers serial POTE pada 19 September 2026, sebagaimana dikutip SINDOnews.
Clarissa menambahkan, “Siapa yang berhadapan dengan dia itu bakal dihantui lah atau bahkan menjadi korban berikutnya. Jadi itu adalah premis dari seluruh ceritanya.”
Dalam serial ini, ancaman Oreng Pote tidak berhenti pada kemunculan sosok gaib tersebut. Pertemuan dengannya menjadi awal dari rangkaian kejadian mengerikan yang mengancam para karakter. Pengembangan ini menjadi salah satu pembeda cerita POTE dari kisah horor yang hanya mengandalkan penampakan atau kejutan visual.
Baca juga:
Film Pirunduk Angkat Mitos Banjar tentang Ilmu Penakluk yang Jarang Diangkat ke Layar Lebar
Sutradara Bebas Menginterpretasikan Sosok Pote
Sutradara Billy Christian mengaku tertarik menggarap serial ini karena sosok Pote belum memiliki representasi visual yang baku. Kondisi tersebut memberinya ruang untuk mengembangkan interpretasi kreatif terhadap karakter sekaligus kutukan yang menyertainya.
“Awal-awal ketika saya ditawarkan Pote ini, sangat tertarik sekali karena entitasnya, hantunya tuh berbeda dari kebanyakan yang sudah ditawarkan produser ke saya sebelumnya,” kata Billy Christian dalam press screening POTE pada 19 September 2026, seperti dilansir SINDOnews.
Billy menekankan kebebasan interpretasi yang dimilikinya.
“Di sini terbuka buat saya untuk menginterpretasikan sosok Pote itu seperti apa, karena kalau kita Google kan kita enggak tahu sebenarnya sosok Pote itu seperti apa. Dari situlah mulai berpikir secara kreatif bagaimana kita mau merepresentasikan kutukan Pote ini,” ujarnya.
Melalui POTE, VISION+ mengangkat legenda lokal yang belum banyak dikenal di luar Pulau Bawean ke dalam format serial horor. Kisah Oreng Pote pun mendapatkan interpretasi baru melalui cerita tentang kutukan dan rangkaian teror yang mengikuti kemunculannya.







