Film Pirunduk Angkat Mitos Banjar tentang Ilmu Penakluk yang Jarang Diangkat ke Layar Lebar

Sketsamalang.com – Film horor Pirunduk mengangkat mitos lokal masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, yang selama ini jarang mendapat sorotan dalam perfilman Indonesia. Tayang di bioskop sejak 22 Oktober 2026, film ini menghadirkan kisah tentang ajian penakluk yang dipercaya dapat memengaruhi hati dan pikiran seseorang.

Dalam tradisi masyarakat Banjar, pirunduk dikenal sebagai ajian atau mantra untuk menundukkan seseorang. Istilah ini kerap dikaitkan dengan praktik pengasihan hingga ilmu hitam. Kepercayaan tersebut menjadi fondasi cerita film yang memadukan horor supernatural dengan persoalan rumah tangga, kekerasan, dan dendam.

Tradisi mantra Banjar sendiri memiliki beragam klasifikasi berdasarkan fungsinya, antara lain pitua, pirunduk, tatamba, dan tatulak. Pembagian tersebut tercatat dalam kajian mengenai mantra Banjar, termasuk penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Naditira Widya pada 2011. Dalam klasifikasi tersebut, pirunduk merujuk pada mantra yang berfungsi menundukkan atau memengaruhi sasaran.

Berangkat dari Mitos yang Dikenal Sejak Kecil

Produser sekaligus penulis skenario Budi Ismanto, yang berasal dari Kalimantan Selatan, mengatakan bahwa kisah pirunduk telah lama dikenal di daerah asalnya. Pengalaman mendengar cerita tersebut sejak kecil menjadi salah satu inspirasi pengembangan film.

“Pirunduk ini bisa dikatakan sebagai mitos atau legenda, tetapi dalam dunia nyata masih terjadi di daerah kami, Kalimantan Selatan. Ilmu pirunduk itu sudah lama ada dan sampai saat ini sebagian masih ada yang mengamalkan, terutama di daerah-daerah hulu sungai sehingga kita angkat dalam film,” ujar Budi Ismanto, dikutip dari BeritaSatu.

Ia juga menceritakan legenda lokal yang menjadi inspirasi cerita film tersebut.

“Ketika kecil, saya sudah mendengar kisah pirunduk ini. Dulu di kampung saya namanya ‘mati jadi hantu’. Itu sudah menjadi urban legend di daerah kami, bahwa istri yang ingin menguasai suaminya menggunakan ilmu ini. Itulah yang menjadi inspirasi kisah ini kami angkat ke layar lebar,” kata Budi Ismanto, dikutip dari IndoPos.

Dalam film Pirunduk, kepercayaan tersebut dikembangkan menjadi cerita tentang Siti, perempuan yang terjebak dalam pernikahan penuh penderitaan. Setelah mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan menghadapi kehadiran istri lain dalam kehidupan suaminya, Siti memilih jalan ilmu hitam untuk membalas perlakuan yang diterimanya.

Cerita ini menempatkan mitos lokal sebagai bagian dari konflik karakter, bukan sekadar elemen untuk menciptakan suasana seram. Latar budaya Banjar menjadi unsur penting yang membedakan Pirunduk dari sejumlah film horor Indonesia yang mengambil inspirasi dari tradisi di Pulau Jawa.

Baca juga:

Film Horor Aplikasi Iblis Tayang di Bioskop, Rindu Kekasih Berujung Teror Maut

Billy Christian Lakukan Riset Langsung ke Kalimantan Selatan

Sutradara Billy Christian mengakui bahwa penggarapan film dengan latar budaya yang bukan berasal dari lingkungan pribadinya membutuhkan riset langsung. Ia mendatangi Kalimantan Selatan untuk mengenal kehidupan masyarakat setempat dan memahami cerita yang menjadi dasar film.

“Kan saya bukan orang Banjar, akhirnya saya datang langsung aja ke Kalimantan. Saya saksikan sendiri masyarakatnya bagaimana, makanannya, ketemu dukun lokalnya, mendengar segala sesuatu tentang Kalimantan,” ujar Billy Christian, dikutip dari BeritaSatu.

Pendekatan tersebut juga tercermin dalam penggunaan bahasa Banjar dan latar waktu era 1980-an. Film ini melibatkan pemain dan kru lokal untuk memperkuat suasana serta representasi kehidupan masyarakat Banjar dalam cerita.

Bagi Budi Ismanto, pengangkatan mitos dari Kalimantan Selatan menjadi kesempatan untuk memperluas keragaman tema dalam industri horor nasional.

“Selama ini kita didominasi dengan cerita horor berlatar Jawa, kali ini kami bawa warna baru dari Kalimantan,” pungkas Budi Ismanto, dikutip dari Media Indonesia.

Billy juga berharap film ini dapat mendorong sineas lain untuk mengeksplorasi cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia.

“Semoga film ini bisa menjadi pemicu buat teman-teman sineas lain di Indonesia untuk mengangkat tema-tema lokal. Saya yakin Indonesia itu punya banyak sekali mitos-mitos dan legenda,” kata Billy Christian, dikutip dari Media Indonesia.

Melalui Pirunduk, mitos lokal Banjar mendapatkan ruang untuk diperkenalkan kepada penonton yang lebih luas. Perpaduan legenda, bahasa daerah, dan latar kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan menjadi upaya film ini menghadirkan perspektif berbeda dalam genre horor Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *