Sketsamalang.com — Inovasi mahasiswa terus berkembang untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda. Salah satunya dilakukan mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melalui Moodpatch, produk patch aromaterapi yang memadukan manfaat relaksasi dengan pengenalan budaya lokal Yogyakarta.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh lima mahasiswa Program Studi Teknik Industri UAD yang tergabung dalam satu tim. Mereka adalah Fauzan Khairullah sebagai ketua tim, Rizky Zeptheady Karim, Rofiq Yurdhika, Nadya Maykaysha Widodo, Muhamad Rafli Nadiansyah dan di dampingi dosen pembimbing Ir. Farid Ma’ruf, S.T., M.Eng..
Ketua Tim Moodpatch, Fauzan Khairullah, mengaku bersyukur setelah timnya terpilih sebagai salah satu dari ribuan tim di Indonesia yang mendapat amanah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk merealisasikan rencana bisnis melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).
“Tentu saja kami sangat senang dan bersyukur karena menjadi salah satu tim dari ribuan tim yang ada di seluruh Indonesia yang diberi kesempatan oleh Kemdiktisaintek untuk merealisasikan rencana bisnis kami,” ujar Fauzan.
Fauzan menjelaskan, ide Moodpatch muncul dari perhatian tim terhadap kondisi mahasiswa dan generasi muda yang menghadapi tekanan akibat padatnya aktivitas akademik maupun berbagai persoalan lainnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu stres berlebih pada kalangan muda. Karena itu, tim berupaya menghadirkan produk sederhana yang dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu menciptakan suasana lebih rileks.
Moodpatch dikembangkan dalam bentuk patch aromaterapi. Keunikan produk ini terletak pada konsep budaya Yogyakarta yang dihadirkan melalui musik gamelan dan penamaan tokoh pewayangan pada setiap variannya.
“Kami ingin membantu mengurangi permasalahan tersebut melalui produk Moodpatch dengan memanfaatkan efek aromaterapi dan instrumen gamelan yang menenangkan,” jelasnya.

Selain menawarkan fungsi aromaterapi, Moodpatch juga membawa misi memperkenalkan kembali budaya lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Salah satu keunggulan Moodpatch adalah konsepnya yang menggabungkan inovasi produk dengan unsur budaya. Musik gamelan dan tokoh pewayangan menjadi bagian dari identitas produk yang ditujukan agar budaya lokal lebih dekat dengan generasi muda.
Produk tersebut memiliki empat varian dan dapat digunakan oleh berbagai kelompok usia.
“Kami ingin menginisiasi pengenalan kembali budaya musik gamelan dan tokoh pewayangan kepada masyarakat, khususnya kalangan muda. Produk kami tidak terbatas dari segi usia dan bisa digunakan oleh siapa saja,” kata Fauzan.
Dari sisi harga, Moodpatch juga dirancang agar mudah dijangkau. Konsumen cukup mengeluarkan Rp12.000 untuk mendapatkan satu kemasan varian Moodpatch.
Perjalanan tim Moodpatch diawali dengan pembentukan tim internal. Kelima anggota berasal dari Program Studi Teknik Industri dan memiliki visi serta komitmen yang sama untuk membangun usaha.
Tim kemudian melakukan diskusi intensif untuk mengidentifikasi persoalan kesehatan mental yang banyak dialami mahasiswa dan generasi muda di lingkungan sekitar. Dari proses tersebut, lahirlah konsep Moodpatch sebagai sebuah solusi inovatif.
Setelah konsep dan pembagian tugas disepakati, tim menyusun perencanaan bisnis secara terstruktur. Tahap tersebut meliputi riset dan pengembangan produk, strategi pemasaran dan branding, penyusunan alur operasional serta produksi, hingga analisis kelayakan finansial.
Selama penyusunan proposal P2MW, tim juga melakukan evaluasi internal dan berbagai penyempurnaan konsep. Mereka turut berkonsultasi secara intensif dengan dosen pembimbing untuk mematangkan proposal.
Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Tim Moodpatch dinyatakan lolos seleksi pendanaan nasional.
Fauzan mengungkapkan, salah satu tantangan terbesar selama penyusunan proposal adalah koordinasi antarangggota dengan tugas dan tanggung jawab yang berbeda.
Setiap bagian harus diselesaikan sesuai tenggat waktu agar seluruh komponen proposal dapat tersusun dengan baik.
Selain persoalan teknis, rasa kurang percaya diri juga sempat dirasakan anggota tim ketika mengikuti proses seleksi. P2MW merupakan ajang pembinaan kewirausahaan mahasiswa tingkat nasional yang mempertemukan banyak tim dengan berbagai ide bisnis inovatif.
“Pada saat seleksi berlangsung, kami sempat merasa kurang percaya diri karena P2MW merupakan ajang pembinaan wirausaha nasional dan tentu banyak tim yang lebih baik dari kami,” ungkapnya.
Namun, kekompakan dan pembagian peran yang jelas membuat tim mampu melewati proses tersebut.
Dalam pengembangan Moodpatch, CEO berperan mengarahkan strategi bisnis dan kepemimpinan tim. COO menangani operasional dan manajemen produksi, CFO bertanggung jawab terhadap perencanaan dan alokasi keuangan, CTO berfokus pada pengembangan inovasi produk serta aspek teknis patch aromaterapi, sedangkan CMO menyusun strategi pemasaran dan branding.
Keberhasilan tersebut juga tidak terlepas dari bimbingan dosen pembimbing serta dukungan Universitas Ahmad Dahlan.
Setelah memperoleh pendanaan, tim Moodpatch memasang sejumlah target. Salah satunya memperluas penjualan produk kepada masyarakat, terutama kalangan muda.
Mereka juga menargetkan dapat lolos seleksi Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo serta melanjutkan perjalanan hingga tahap bertumbuh pada P2MW 2027.
“Kami berharap Moodpatch tidak hanya berhenti pada program tahun ini, tetapi dapat terus berkembang hingga berhasil melangkah ke tahapan bertumbuh pada event P2MW tahun selanjutnya,” tutur Fauzan.
Tim berharap Moodpatch dapat tumbuh secara berkelanjutan sekaligus memberikan dampak positif dalam membantu menciptakan suasana relaks bagi generasi muda. Di sisi lain, produk tersebut diharapkan konsisten menjadi media untuk mengenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas.






