Sketsamalang.com – Mahasiswa profesi (English Language Teaching) ELT UIN Malang sukses menggelar pementasan drama perdana mereka yang berjudul From White Board to Heart Board. Acara ini berlangsung di Home Theater Fakultas Humaniora pada Jumat (28/10/2025).
Drama ini merupakan ide baru yang dicetuskan oleh para pengampu mata kuliah ELT, yaitu Mira Shartika, M.A. dan Ulil Fitriyah, M.Pd., M.Ed. khususnya untuk mata kuliah Micro Teaching dan Information of Communication (ICT).
Mira Shartika, M.A. menjelaskan bahwa ide ini berawal dari perubahan jadwal program PKL. Program PKL yang biasanya dilaksanakan pada pergantian semester tujuh ke delapan. Namun tahun ini berubah menjadi pada pergantian semester enam ke tujuh. Mahasiswa yang baru saja terjun langsung ke dunia pengajaran lalu kembali mendapatkan mata kuliah Micro Teaching di kelas.
“Akhirnya seperti mengulang,” jelas Mira.
Karena itu, ia dan tim memilih membuat proyek drama bertema sekolah. “Tetap ada praktik mengajar dan tetap ada penggunaan ICT,” lanjutnya.

Selain itu, pemilihan metode drama ini juga memiliki kesesuaian dengan pendekatan roleplay yang sering digunakan dalam pembelajaran bahasa. Dengan pendekatan Student Center, mahasiswa mendapat banyak manfaat seperti Outcame Based Education (OBE), Holistic Learning, dan Collaborative Learning.
“Drama itu bukan hanya soal performance, tapi bagaimana mereka bekerja di balik layar,” ujar Ulil Fitriyah, M.Pd., M.Ed.
Proses kolaborasi inilah yang menjadi kekuatan utama, baik di on stage maupun off stage, hingga menghasilkan output yang holistik dan terintegratif.
Acara dibuka dengan sambutan Fibra Aura Tasyani selakuManager Artist pementasan drama. “Drama ini mungkin berbeda dengan drama lainnya. Dimana kami mengangkat setting pengajaran. Para aktor dan aktris berusaha menampilkan pengajaran di dunia nyata.” ujarnya.
Fibra juga berharap para penonton dapat menikmati penampilan drama yang naskahnya benar-benari mereka buat sendiri dari awal dengan tantangan terbesar menggambarkan suasana pengajaran ke dunia nyata.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Fakultas Humaniora, Dr. Galuh Nur Rohmah, M.Pd., juga turut hadir memberi sambutan dan membuka acara secara resmi.
Dalam bahasa Inggris, beliau mengatakan, “Terima kasih banyak atas project yang luar biasa ini, dan juga ini akan memberikan prespektif bermanfaat sebagai calon guru Bahasa Inggris dan juga akan memperkaya ELT knowledge.”
“Harapannya juga bukan hanya akan menjadi sumber intelektual biasa. Jadi tidak sampai di sini tapi apa implikasi drama ini,” tambahnya.
Pementasan dimulai dengan penggambaran suasana kelas yang riuh. Penonton banyak bereaksi karena pembawaan para karakter terasa sangat alami. Fibra menjelaskan bahwa pemilihan karakter disesuaikan dengan sifat sehari-hari mahasiswa ELT: Aini sebagai murid pendiam, Sesha dan Najla dengan pembawaan agak centil, Devid yang jahil, serta Amel sebagai guru.
“Biar mereka lebih mudah dalam berakting aja. Kan ga semua jago akting dan waktunya sudah mepet,” jelasnya.

Persiapan drama ini tergolong singkat, hanya sekitar tiga minggu dengan biaya minim. Meski begitu, penampilan mereka tetap berhasil memukau penonton.
Drama yang dibagi menjadi tiga babak ini ditutup dengan plot twist ketika terungkap bahwa Aini, yang sering dibully karena pendiam dan sering sakit, ternyata anak orang kaya dan putri dari CEO tempat wisata terkenal di Malang, yaitu Jatim Park.
Narasi drama ini menyoroti bahwa bullying adalah perilaku buruk, sekaligus menggambarkan proses ajar-mengajar dan dinamika kelas secara nyata. Cerita diakhiri dengan Aini yang akhirnya mendapatkan pertemanan yang ia inginkan.
Setelah drama selesai, seluruh pemain maju ketika salah satu aktor, Fiqih Budiman, menyanyikan lagu Terhebat dari Coboy Junior.
Momen ini membuat beberapa penonton terharu dan mengingat masa SMA. Dilanjutkan dengan penampilan flashmob oleh pemain dan staf offstage menggunakan lagu Tabola-Bale dan membuat suasana semakin meriah.
Dalam wawancara singkat, dua penonton dari jurusan Sastra Inggris, Daffa dan Balqis, menyampaikan kesannya.
“Menurutku seru banget sih, dengan persiapan yang sebentar apalagi pertama kali ya,” ujar Bilqis.
“Aktingya sangat-sangat menjiwai atau memang jiwa temen-temenya begitu,” tambah Daffa.
Bagi mahasiswa ELT, acara ini bukan sekadar pengerjaan tugas akhir, tetapi juga momen berkesan yang dapat dikenang oleh para penontonnya.
Pementasan ini menunjukkan bagaimana kreativitas, kolaborasi, dan pengalaman belajar lapangan dapat dirangkai menjadi karya yang dekat dengan kehidupan nyata.
Upaya mahasiswa ELT UIN Malang dalam menghadirkan pembelajaran yang hidup dan relevan terasa kuat melalui drama ini. Mereka tidak hanya menampilkan cerita, tetapi juga membangun pengalaman bersama yang meninggalkan kesan bagi penonton maupun pengisi acara.
Drama ini menjadi bukti bahwa proses belajar bisa tumbuh menjadi ruang ekspresi yang menyenangkan dan bermakna.






