Sketsamalang.com – Menggandeng Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Malang menggelar Pelatihan Komunikasi yang Baik dan Jurnalistik bagi siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP), Jumat (6/2/2026).
Acara pelatihan yang digelar di SRMP Tlogowaru ini merupakan rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) dan Hari Jadi ke- 80 PWI yang diperingati setiap tanggal 9 Februari.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua PWI Malang Raya, Cahyono mengatakan, pelatihan ini bertujuan untuk membekali generasi muda dengan keterampilan dasar jurnalisme. Sehingga mereka mampu menyaring dan menyampaikan informasi secara akurat di tengah banjirnya konten digital.
Lebih lanjut Cahyono menyampaikan secara rinci bagaimana menulis sebuah berita yang berkualitas.
“Prinsip dasar 5W + 1H yaitu Who (siapa), What (apa), When (kapan), Where (di mana), Why (mengapa), dan How (bagaimana) merupakan pondasi utama bagi setiap wartawan untuk menyusun berita yang lengkap dan sesuai kaidah jurnalistik,” jelas Cahyono.
Selain itu, Cahyono juga menjelaskan struktur penyusunan berita yang ideal, yaitu menggunakan model piramida terbalik.
“Informasi paling penting harus ditempatkan di bagian awal, seperti judul dan paragraf pertama, sementara detail pendukung diletakkan di bagian bawah. Ini memudahkan pembaca untuk mendapatkan inti berita dengan cepat,” tambah jurnalis Harian Bhirawa ini.

Ia juga mengingatkan pentingnya kesesuaian antara judul dan isi berita, agar tidak menimbulkan clickbait yang merugikan. Selain itu, penulisan harus selalu mengikuti aturan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kode Etik Jurnalistik, serta Undang-Undang Pers, untuk menjaga integritas dan menghindari pelanggaran hukum.
Sementara itu, Kepala Sekolah Jurnalis Indonesia PWI Malang Raya, yang juga wartawan Malang Post, Sunavip Ra Indrata, ini membahas topik komunikasi di era milenial dengan gaya Gen Z.
Menurutnya, di zaman sekarang, komunikasi tidak lagi terbatas pada teks biasa. Generasi Z lebih suka konten visual, singkat, dan interaktif seperti di TikTok atau Instagram.
“Namun, kita harus tetap menjaga etika agar informasi yang disebarkan bermanfaat dan tidak hoax,” paparnya.
Ia memberikan contoh bagaimana siswa bisa memanfaatkan media sosial untuk jurnalisme warga, sambil memahami risiko seperti cyberbullying dan misinformasi.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana siswa bertanya tentang tantangan menjadi wartawan di era digital. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan semakin banyak anak muda di Malang yang tertarik pada dunia jurnalistik, sehingga kontribusi mereka bisa memperkaya ekosistem media lokal yang lebih berkualitas.






